
"Mas, begah," keluh Kanaya mendorong Ibra yang sejak tadi berbaring di pahanya dan menghadap ke perut Kanaya.
Atas permintaan Mahatma, keduanya kini beristirahat di kamar tidur Kanaya. Kamar yang memang tak sebesar kamar tidur mereka, tapi terasa amat nyaman. Kanaya juga merindukannya setelah beberapa lama tidak berada di kamar ini.
"Terus Mas harus gimana?" tanya Ibra dengan polosnya menatap wajah Kanaya yang tengah cemberut itu.
"Ya sana, tidur pakek bantal kan bisa."
Dia yang hamil tapi Ibra yang berulah. Jika beberapa wanita hamil di luar sana kerap merepotkan suami, lain halnya dengan Kanaya. Dia sama sekali tidak pernah membuat Ibra kesulitan, yang ada justru sebaliknya.
"Maunya di sini," ucapnya memperlihatkan mata penuh permohonan pada Kanaya, berharap wanita itu tidak keberatan karena posisi ini teramat nyaman bagi Ibra.
"Pegel, Mas ... udah satu jam kamu begini, bilangnya mau tidur sampe sekarang belum juga tidur-tidur," gerutu Kanaya karena memang benar-benar merasa kesal dengan janji-janji Ibra sebelumnya.
"Ini mau tidur, Nay, tapi ngantuknya mana ya ... dari tadi Mas juga nunggu."
Dia berucap tanpa dosa seraya mengelus perut istrinya. Bukannya menjauh pria itu justru menenggelamkan wajahnya di sana. Merasa kehabisan cara, wanita itu menarik kumis tipis Ibra tiba-tiba.
"Aarrghhh Kanaya ... sakit."
Hampir tersulut emosi, dia menggosok bagian atas bibirnya berkali-kali. Kanaya tertawa sumbang meski sedikit merasa bersalah, dia paham rasanya tentu sangat sakit.
"Hahaha salah sendiri, aku mau tidur juga ... bukan kamu doang."
Jujur saja dia mengantuk, duduk dan bersandar di agar Ibra bisa tidur sembari memandangi perutnya adalah pengorbanan luar biasa. Yang di dalam perutnya saja sudah cukup melelahkan ditambah kini Ibra ikut berulah.
"Hm, yaudah tidur."
Menatap istrinya yang mengambil posisi berbaring, Ibra segera menutup tirai kamar hingga menciptakan tanya di benak istrinya.
"Mas? Kenapa di tutup?"
"Silau, Sayang ... kita kan mau tidur."
Silau kata dia? Padahal sejak tadi tirai itu terbuka dan dia tidak mengeluh silau atau semacamnya. Dan kini kala Kanaya juga hendak tidur, Ibra baru memikirkan hal semacam itu. Sungguh dia curiga, wanita itu sangat tidak bisa mempercayai seorang Ibra.
"Aku nggak bakal ngapa-ngapain, janji."
__ADS_1
Paham tatapan istrinya mengandung makna kecurigaan, Ibra segera membuat istrinya sedikit tenang. Dia menutup tirai itu memang karena silau dan tak ingin membuat tidur Kanaya jadi tak nyaman.
"Jangan becanda, Mas ... aku bisa pingsan kamu tau nggak."
Wanti-wanti sebelum Ibra beraksi, meski permainan didominasi Ibra tetap saja dia yang lelah. Kanaya terlalu banyak mengeluarkan tenaga hari ini, pesta Abygail yang katanya sederhana nyatanya mewah cukup membuatnya lelah lantaran para tamu justru terfokus pada kandungannya.
Pujian, serta sapaan dari beberapa orang yang tidak hanya satu atau dua itu tidak mungkin Kanaya abaikan begitu saja. Tentu dia harus beradab layaknya wanita muda yang menghargai seseorang yang lebih tua.
"Astaga, nggak akan Kanaya, sudah tidur sana."
Dia tidak marah, tidak juga kecewa dan bukan pula putus asa. Ibra paham keadaan dan jika dia memaksakan sama halnya menyiksa. Kecuali jika Kanaya yang mau, maka Ibra tidak akan pernah menolak.
Tidur dalam pelukan suaminya, mendengarkan detak jantung Ibra adalah hal paling menenangkan bagi Kanaya. Pria itu berkali-kali mengecup keningnya, tak jarang juga Ibra memainkan rambut indah Kanaya. Ketergantungan bahkan dia rela melepaskan apapun di tangannya jika di sisinya sudah ada Kanaya.
-
.
.
.
"Hati-hati, Nay ... biar Mama aja, nanti kecipratan minyaknya."
Khaira kesal bukan main kala Widya mengambil alih pekerjaan Kanaya yang tengah sibuk menggoreng ikan di sana. Dia sudah berusaha cari perhatian dengan melakukan hal yang lain, namun di mata Widya memang yang lebih bahaya adalah Kanaya.
"Ehem, Kak Naya ... udah berapa bulan?"
Kanaya tidak salah dengar, Khaira benar-benar menyembutnya dengan panggilan kakak. Dengan wajah yang sebaik itu, seakan memang benar-benar baik dan amat baik.
"Li-lima."
Demi Tuhan, Kanaya bukan malu ataupun ragu. Dia hanya sedikit lupa usia kandungannya berapa, jika ditanya kenapa bisa? Iya dia lupa saja.
"Lima apa tujuh? Kakak kan hamil duluan."
"Khaira ...."
__ADS_1
Widya memotong ucapan Khaira, wanita itu memang benar-benar tidak tahu tempat. Kanaya bersikap biasa saja, dia hanya tersenyum kecut mendengar pernyataan Khaira.
"Lima, Ra."
Benar-benar biasa saja, dia tidak memiliki tenaga untuk meladeni Khaira lebih lanjut. Toh dia berada di sini hanya untuk Mahatma, bukan Khaira.
"Ooh, kirain udah tujuh ... soalnya udah gede gitu, lagian kan aku nggak tau pas kamu nikah udah berapa bulan kandungannya."
Sakit sebenarnya, hati Kanaya teriris mendengar hal itu. Akan tetapi, dia memahami keadaan bahwa tidak semua menerima bagaimana dirinya. Kanaya kembali fokus menata makan malam kali ini, tak peduli tatapan hina Khaira yang tertuju pada perutnya.
"Kamu lebih baik panggil Papa sama suami kamu sana, dari tadi juga diem kan?"
Widya turut bicara, jika sebelumnya dia mungkin akan membiarkan hinaan itu Kanaya terima. Tapi entah kenapa begitu melihat Kanaya saat ini, hatinya sakit sendiri.
Wajah Kanaya persis dirinya ketika muda, dan melihat putrinya yang kini hamil cucunya, Widya merasa tengah terbang ke masa lalu kala dirinya mengandung Kanaya.
"Mama apaan sih," gerutu Khaira kemudian berlalu pergi, dengan langkah menghentak lantai dan Widya paham jika putri tirinya itu tengah berontak.
Hanya tersisa dirinya dan Kanaya, sementara menantu barunya masih berada di kamar dan Widya tidak ingin mengusiknya lebih dulu.
"Jangan pikirkan ucapa Khaira, kamu paham sendiri bagaimana sikapnya kan?"
Kanaya mengangguk pelan, sang mama minta pengertian, bukan meminta maaf dan marah pada Khaira. Tapi tak apa, setidaknya Kanaya bisa merasakan bagaimana lembutnya seorang mama.
"Kamu tunggu di sini, biar Mama yang panggil Ibra."
"Jangan, Ma ... biar aku aja, biasanya dia masih mandi." Bukan apa-apa, dia hanya khawatir saja jika sang mama nekat memanggil Ibra, justru mendapati pemandangan yang tidak seharusnya.
"Apa nggak capek naik turun begitu?" tanya Widya mengerutkan dahi, dengan perut dan bentuk tubuh yang begitu Kanaya harus meniti anak tangga dan itu lumayan melelahkan bagi Widya.
"Enggak kok, Ma ... kata dokter aku harus banyak gerak, nggak boleh males-malesan."
Hanya senyum dia berikan, Kanaya tidak berubah. Masih seperti Kanaya yang dulu, yang patuh dan berbicara lembut seakan takut akan amarahnya.
Maaf, Mas ... aku menyia-nyiakan putri kita selama puluhan tahun.
Menatap punggung Kanaya yang kian menjauh, entah harus bagaimana dia bersyukur dengan adanya Ibra dalam hidup Kanaya saat ini.
__ADS_1
Tbc