Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 133


__ADS_3

"Kamu ngapain, Vin? Kok bingung gitu."


Di dapur, bingungnya Gavin tertangkap basah oleh Maria, sang mertua. Wanita itu bangun untuk alasan yang sama, haus.


Pria itu berbalik dan menunduk kemudian tersenyum sopan pada Maria. Masih ragu untuk melakukan apapun itu, ruang gerak dia seakan terbatas. Biasa hidup sendiri bahkan jauh dari Hilmira membuat Gavin bingung sendiri.


"Ambil minum, Ma."


"Oh minum, sini Mama yang siapin."


Memiliki menantu seperti Gavin jelas menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Maria. Ini bagaikan penantian bertahun-tahun, sama seperti menanti kelahiran seorang anak bagi Maria.


"Mau dingin atau biasa?" tanya Maria benar-benar butuh kepastian, bukan hanya sekadar basa basi belaka.


"Untuk Lorenza, Ma."


Maria berhenti sejenak, manis sekali sikap menantunya ini. Tidak salah jika dia berusaha sekeras mungkin membuat mereka menyatu dalam ikatan pernikahan jika pada akhirnya Lorenza menemukan tambatan hati yang benar-benar meratukan dirinya.


"Tumben banget manja, dia masih sakit?" tanya Maria sembari menyiapkan air dingin untuk putrinya, ya sebagai orang yang telah bersama sejak Lorenza bayi tentu dia paham bahwa Lorenza tidak bisa minum jika airnya tidak dingin, kalau perlu air tersebut sudah mengeras sebagian.


"Mungkin, Ma ... dia mimpi buruk."


"Masa masih sakit juga, perasaan udah berapa hari lalu deh."


Gavin menerima air dingin yang membuatnya meringis itu. Selarut ini apa mungkin Lorenza benar-benar sanggup minum air sedingin itu, pikirnya.


"Muka kamu kenapa?" tanya Maria sedikit heran, pasalnya Gavin belum segera meninggalkan tempat itu melainkan masih terdiam sejenak.


"Dingin, apa tidak masalah, Ma?"


"Nggak, perut istri kamu tu udah kebal ... dari kecil minumnya memang begitu."


Ah semakin terlihat Gavin lebih dari yang ia kira, perhatian akan hal sekecil itu tampak sangat nyata. Tak sia-sia, meski dia harus fitnah sedikit tapi Maria tidak menyesal.


Mendengar penuturan sang mertua, Gavin berlalu dan kembali masuk ke kamarnya. Pria itu mendorong pintu kamar sedikit pelan, takut saja jika menimbulkan keributan.


"Minumlah," ujar Gavin memberikan segelas air super dingin itu, dirinya saja ngilu saat ini.


Tanpa mengucapkan terima kasih, Lorenza yang memang haus menegak air itu hingga tandas. Dan kebiasaan lamanya tak bisa dihindari padahal di hadapan sang suami.


Dan ....


"What the ... wanita mana yang bersendawa sebesar kamu, Lorenza!!"

__ADS_1


Gavin membeliak, mulutnya menganga dan tangannya kembali meraih gelas kosong itu dari tangan Lorenza.


"Nggak sengaja, aku juga nggak tau kalau bakal begini."


Menatap malas Gavin dan menyeka keringatnya, dia benar-benar haus sepertinya. Pria itu berdecak sembari menggeleng pelan, istrinya sesantai itu.


"Jangan dibiasakan, kau persis naga air jika begitu ... paham?"


Naga air? Untuk pertama kalinya ada orang yang mengatakan jika dirinya persis naga air. Lorenza berharap apa dari seorang Gavin, hanya sebatas mimpi yang bisa dikategorikan mes*um itu membuatnya berpikir Gavin akan sedikit manis.


"Naga air? Memang bunyinya gimana?"


"Persis seperti yang kau lakukan."


Pria itu kini duduk di tepian ranjang, tangannya berada di atas paha Lorenza yang tertutup selimut super tebal itu. Penasaran apa sebenarnya yang jadi mimpi Lorenza hinga beberapa kali mende*sah hingga berteriak pada akhirnya.


"Kau mimpi apa?" tanya Gavin menatap tajam Lorenza, jujur saja suara yang seperti tadi membuat Gavin luar biasa penasaran istrinya berkhayal apa.


"Bukan apa-apa ... mimpi di sekap jin," tuturnya kemudian, kenapa juga Gavin harus bertanya dengan tatapan yang sedemikian rupa.


"Jin? Jin mana yang bisa membuatmu mendes*ah, Za?" Langsung kepada intinya, karena sejak dia sadar Lorenza aneh suara itu sudah mengganggu telinganya.


Lorenza bersemu merah, malu sekali rasanya. Gavin bertanya begini sama saja membuat dia mengingat mimpi itu.


Gavin terkekeh, lucu sekali rasanya. Wajah panik Lorenza dipadukan dengan keringat yang masih mengucur di keningnya. Gavin yakin 100 persen Lorenza bukan mimpi biasa.


"Mimpi basah ya?"


Sengaja diperjelas, Lorenza semakin memerah dan tak punya cara untuk menjawab perkataan Gavin selanjutnya. Pria itu sungguh membuatnya malu, ingin rasanya Lorenza mengusir Gavin keluar kamat.


"Aku wanita, Gavin ... kamu kali yang mimpi basah."


Jawaban Lorenza lagi-lagi membuatnya tertawa sumbang. Jika memang bukan, kenapa tatapannya harus dihindari, pikir pria tampan itu.


"Lorenza-Lorenza!! Kau mengkhayal macam-macam tentangku?"


Tuduhan yang tidak bisa ditepis, Lorenza juga bingung itu khayalan atau apa. Jika semata-mata mimpi kenapa tidak bersama idolanya, kenapa justru Gavin.


"Jangan terlalu percaya diri, sama sekali kamu bukan tipeku."


Wanita itu kembali berbaring meski posisinya justru semakin terasa canggung. Gavin dapat dengan puas memandangi wajahnya kini, tangannya masih berada di tempat sebelumnya. Tanpa Gavin ketahui ada hati yang kini berdebar begitu kencang karenanya.


"Kau tidak panas selimut sampai begini?"

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, tidur sana."


Panas sebenarnya, keringatnya saja sampai membasah begitu. Hanya saja pakaian tidur Lorenza memang sependek itu. Dia terbiasa dan tidak berpikir jika ternyata rasa malu terharap Gavin masih sebegitu besarnya.


"Hm, aku tidur."


Patuh sekali, pria itu mematikan lampu lebih dulu barulah kemudian ikut naik ke tempat tidur dengan perasaan ragu. Takut diusir Lorenza sebenarnya.


Menyingkap selimut yang sama-sama membalut tubuh Lorenza, pria itu tidur dengan posisi menatap langit-langit kamar. Mereka terpisah satu guling dan membuat tempat itu semakin sempit saja.


Pria itu membuang napas pelan, takdirnya berbeda. Hadirnya wanita dalam hidup Gavin yang artinya akan banyak hal berubah. Dia menoleh sejenak ke kini, dan di saat yang sama Lorenza juga tengah menatap ke arahnya.


Temaram lampu tidur masih bisa memperlihatkan wajah mereka. Cepat-cepat Lorenza menunduk dan membuang pandangannya, sayang semuanya sudsb terlambat karena Gavin sudah menangkapnya.


"Kau keberatan?" tanya Gavin lagi, entah kenapa ada saja saatnya dia ingin mengatakan hal seperti ini pada wanita itu.


"Keberatan soal?"


"Pernikahan kita ... dan Mama, apa dia membuatmu tidak nyaman?" Hal yang Gavin takutkan, sang mama adalah wanita yang sangat menjunjung tinggi kesempurnaan.


"Andai aku jawab keberatan nggak guna kan? Semuanya sudah terjadi ... dan soal Mama, dia baik ternyata." Jawaban Lorenza membuat pria itu sedikit tenang, setidaknya dia tidak menarik Lorenza dalam kedukaan dalam pernikahan ini.


"Za."


"Iyaaa, kenapa?"


"Seperti yang kau tau, mereka menikahkan kita karena alasan gila yang sama sekali tidak kita lakukan ... aku hanya ingin membuat mata mereka terbuka dan membuktikan bahwa aku tidak menghamilimu." Pembicaraan Gavin mendadak serius, dan entah kenapa Lorenza justru merasa berbeda ketika mendengarnya.


"Maksudmu?"


"Dalam tiga bulan kedepan, aku tidak akan menyentuhmu lebih dulu ... karena dengan cara itu kita bisa buktikan kalau kau tidak hamil." Seharusnya Lorenza senang, akan tetapi entah kenapa dia justru tak terima dengan ungkapan Gavin.


"Kenapa harus tiga bulan? Kalaupun takut aku hamil beneran ... kan bisa pakai pengaman," tutur Lorenza spontan dan membuatnya terlihat benar-benar menginginkan Gavin saat ini.


"Hm?" Gavin menatap istrinya lekat-lekat, penuh tanya dan ini membuat hatinya berdenyut kencang.


Astaga, Lorenza!! Kenapa harus begitu? Semakin terlihat kalau kau kurang belaian


"Apa maksudmu? Kau menginginkan aku, Lorenza?" tanya Gavin dengan wajah datarnya, Lorenza yang malu luar biasa kini berbalik membelakangi Gavin dan menyembunyikan wajahnya dibalik selimut tebal itu.


Tbc


Suaminya ngebet ✖️

__ADS_1


Istrinya ngebet ✔️


__ADS_2