Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 116


__ADS_3

"Lapar?"


Sudah jelas dia lapar dan Gavin masih bertanya, terlepas dari tempat itu membuat Lorenza lega luar biasa. Pengaruh uang dan kekuasaan itu nyata, Lorenza pecaya akan hal itu.


Tak pernah terpikirkan, di usianya menjelang 27 tahun akan merasakan hal sesinting ini. Mau bagaimana dia menceritakan pengalaman paling bersejarahnya ini kepada orangtua dan adiknya.


Kemungkinan besar yang akan berduka hanya sang papa, sementara mama dan adiknya tentu akan menjadikan dia bahan candaan. Sudah jelas, karena biasanya jika Lorenza pulang membawa masalah bagi sang mama adalah hal biasa.


"Kenapa cuma dilihat?" tanya Lorenza menghentikan makannya sesaat.


Sejak tadi Gavin hanya memerhatikan dirinya dan tidak menyentuh makanannya sedikitpun. Entah apa yang pria itu pikirkan, tapi seharusnya pria itu lapar karena sudah cukup lama berada di sisinya.


"Melihatmu, aku jadi kenyang."


Suaranya terdengar enteng sekali, sukses membuat Lorenza mendelik dan dadanya bergemuruh lantaran merasa Gavin menganggapnya sebagai penghalang naffsu makan.


"Maksudmu? Aku bikin mual atau enek gitu?"


Mata bulat yang selalu bicara dengan emosi membara, Gavin hanya menarik sudut bibir melihat Loerenza yang salah paham terhadapnya. Wanita itu nampaknya dipengaruhi hormon, emosinya lebih cepat keluar dibandingkan Kanaya.


"Mungkin," jawabnya singkat, padat dan cukup membuat tangan Lorenza gatal ingin menepuk bibir merah Gavin.


"Mungkin?"


"Hm, mungkin."


"Tapi ak...."


"Ck, sudah cepat selesaikan makanmu, Lorenza! Kau harus pulang malam ini."


Gavin memotong ucapan wanita cerewet itu, dia sudah cukup sabar duduk di hadapan wanita yang makan lambat tapi banyak itu. Tubuh kurus tapi porsinya persis kuli bangunan.

__ADS_1


"Pulang?"


Lorenza melemah ketika Gavin mengatakan pulang, artinya dia akan bertemu sang mama. Bukan hanya perihal ini dia takut, melainkan lebih takut lagi karena sarung paling mahal yang sempat terbakar karena ulahnya.


"Iya, pulang." Gavin masih mempertahankan cara bicaranya yang persis kanebo kering, kaku dan sama sekali tidak seru untuk diajak bercanda menurut Lorenza.


"Tapi aku takut, Mama bakal nanya aku jawabnya gimana?"


Kenapa juga harus Gavin yang ikut memikirkan hal ini, wanita itu menatap nanar keluar dengan wajah polos yang tengah dia gunakan demi menjerat Gavin agar kasihan padanya.


"Jawab sebisamu, bukankah kau pintar sekali dalam hal jawab menjawab?" sarkas Gavin tepat sasaran, mengingat bagaimana Lorenza yang bahkan mampu berdebat bersama Ibra akibat Kanaya tak masuk kerja.


"Tapi ini beda, Gavin ... gimana dong, lihat tanganku bergetar."


Wanita itu memang sopan pada atasan, tapi dengan syarat jika mereka berada di jam kerja. Dan sekarang, dia bersikap biasa saja layaknya sesama manusia yang sama di hapadan Tuhannya. Ya, kira-kira begitu cara Lorenza menempatkan diri.


"Urusanmu, kenapa jadi aku yang ikut memikirkan jawabannya," decak Gavin pusing sendiri, padahal dirinya memang memikirkan bagaimana caranya agar Lorenza bisa selamat di hadapan mamanya.


Itu bukan permintaan, itu adalah perintah. Karena jika dia menjawab sebisanya tanpa bantuan, orang tuanya belum tentu menerima jawaban Lorenza.


"Hm, nanti saja ... makanlah dulu, setelah itu kita pulang." Gavin mengerti jika Lorenza panik sungguhan dan tidak dibuat-buat.


"Kita?" tanya Lorenza sengaja mendekatkan wajahnya pada Gavin, mereka duduk bersebelahan jadi tentu saja pria yang sama sekali tak pernah berinteraksi lebih dekat dengan wanita sebelumnya ini terperanjat.


"Ays!! Bisakah kau tidak perlu melakukan itu?"


"Memangnya aku kenapa?" tanya Lorenza tanpa dosa, memang benar dia tidak sadar kesalahan sepertinya.


"Ck, menyebalkan sekali ... selesaikan makanmu, Za, ini sudah malam." Harus dengan cara yang bagaimana agar dia mengerti, Gavin hanya ingin Lorenza serius sekali saja.


"Iya bawel!! Cowok tapi kok bawel banget," gumam Lorenza begitu kecil sembari meneruskan makannya.

__ADS_1


"Kau bilang apa?" sentak Gavin yang jelas mendengar omelan Lorenza beberapa saat lalu.


"Tidak, makananmu tidak akan habis kan?" Wanita itu mengalihkan pembicaraan, mata Gavin yang melotot membuatnya ciut sebenarnya.


"Kenapa memangnya?"


"Aku saja yang habisi, mubadzir kalau kata papaku." Belum Gavin mengatakan iya, dan dia sudah mengambil alih dengan senyum lebar tanpa beban sama sekali.


"Terserah kau saja Lorenza."


Pria itu memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya cukup lama. Dia memang tidak begitu lapar, penuturan Axel yang lagi-lagi menjadi pembunuh masih mengganggu pikirannya.


Bohong jika Gavin merasa tenang, sudah berapa nyawa hilang akibat perintahnya yang sebenarnya tidak menginginkan akhir yang demikian.


PLAK


"Gavin!"


"Aaarrrgggghh!! Kenapa lagi?"


Lorenza hanya bermaksud menepuk pelan bahunya karena berpikir Gavin tidur. Mana dia tahu kalau bakal sekuat itu hasinya, pria itu kembali menatap nyalang wanita di sampingnya.


"Maaf, aku pikir tidur," ucapnya menyesal, memang salah dia dan sorot tajam Gavin membuatnya takut seketika.


"Kenapa memangnya?" tanya Gavin kemudian, dia tidak menerima permintaan maaf dari Lorenza sama sekali.


"Pulang, aku sudah selesai," ucapnya kemudian dan sudah terlihat santai sekali.


Ya Tuhan, wanita ini.


Gavin bergumam dalam hatinya, pernah terpikir untuk menjalani kehidupan bersama seorang wanita ketika melihat manisnya hubungan Ibra dan Kanaya. Akan tetapi, kala berhadapan dengan Lorenza, pria itu mendadak tidak percaya sebuah pernikahan.

__ADS_1


To Be Continue.


__ADS_2