
Kanaya sehaus itu hingga air di gelas itu bahkan tandas, tak lupa lehernya bahkan basah lantaran minum terburu-buru. Pria itu menghela napas pelan, mengusap dagu Kanaya lembut sebelum wanita itu hendak kembali tertidur.
"Makasih," ucapnya sembari merebahkan tubuhnya kembali, Kanaya terlelap perlahan dan mana dia peduli apa yang Ibra lakukan tanpa dia saksikan.
Ibra tidak bisa tidur pada akhirnya, ada hal yang mengganggu pikirannya tiba-tiba. Dan dalam masalah ini, Gavin adalah orang yang harus dia libatkan. Pria itu meninggalkan Kanaya sendirian dalam tidurnya, setelah mengatur tempat tidur itu agar nyaman bagi Kanaya.
Ruang kerjanya berjarak beberapa ruangan dari kamarnya, Ibra sengaja tak meminta Gavin mengaturnya demi kenyamanan dan privasi yang harus terjaga selama dia di rumah itu.
Ibra mengelilingkan pandangan, ruangan luas dengan berbagai dokumen penting dan berbagai buku ada di sana. Memindahkan semua hal berharga tersebut memang tidak cukup mudah, perlahan Ibra lakukan dengan cara membawanya satu persatu ke apartemen sejak dahulu tanpa sepengetahuan Indira.
Masuk dengan perasaan yang sedikit tak biasa, Ibra sengaja mengunci pintu setelah dia masuk. Pria itu mendaratkan tubuhnya di kursi kekuasaan dan kini terpejam seraya bersandar lelah.
Ibra menatap nanar pigura di sudut meja, tubuh gagah sang papa seakan masih tergambar hidup di sana. Memijat pangkal hidungnya cukup kuat, karena entah mengapa rasanya kepala Ibra pusing tiba-tiba.
"Pa, istriku mulai bertanya tentang Mama ... tapi, aku tidak pernah mau jika wanita itu mengetahui pernikahan kami, aku tidak salah kan."
Sedikitpun, Ibra tak pernah berpikir untuk memberi kesempatan pada Indira mengetahui wanita yang ia cinta. Mau bagaimanapun, Kanaya belum tentu baik-baik saja jika Indira mengenalnya.
Berharap papanya akan menjawab aduan Ibra, meski sejak dahulu dia terlatih untuk mandiri dan tidak menjadi pria lemah, tapi saat ini Ibra butuh saran dan perlindungan sang papa.
Sial, papanya tidak menjawab sama sekali. Ibra menarik sudut bibir sembari nenatap sendu senyum hangat pria tegas yang selalu mengajarkan untuk menghormati derajat wanita dalam hidup Ibra.
Meski dia tak sebaik itu, akan tetapi kala bertemu Kanaya, pria itu mengerti bagaimana perasaan Megantara pada Sofia, sang mama. Sosok pria yang menekankan bahwa hidup cukup dengan satu wanita.
Menyeret Indira dalam hidupnya, Megantara tak punya pilihan lain karena saat itu Ibra masih begitu kecil sewaktu ditinggalkan Sofia. Kebetulan Indira datang dari luar kota demi melihat keadaan Sofia bisa memberikan nustrisi pada Ibra secepatnya.
Berawal dari meminta bantuan agar putranya tak lapar, Megantara meminta Indira menjadi ibu susu bagi Ibra yang pada saat itu statusnya adalah janda anak satu. Bukan hanya semata-mata jadi ibu, tapi dia juga menikahi Indira agar putranya benar-benar bisa merasakan orangtua lengkap.
__ADS_1
Dia menikah lagi hanya demi Ibra, bukan memenuhi keinginan untuk memiliki pasangan baru. Dalam hatinya, Megantara hanya punya satu wanita yaitu Sofia. Meski demikian, hak Indira sebagai istri tetap dia berikan semata-mata demi menghormati Indira sebagai ibu pengganti untuk Ibra.
π€π€π€π€π€
"Aaarrggghhh, kenapa Papa memberiku Mama seperti Indira!! Dia bahkan membuatku terluka setiap hari ketika papa pergi."
Hal yang tak Megantara sadari, kasih sayang yang Indira berikan pada Ibra membuatnya buta. Dia terlalu percaya hingga bisa meninggalkan Ibra dalam tidur abadinya. Tidur yang selalu Ibra tunggu banggunya, dia hanya rindu sosok papa, tapi Indira memaksanya mengepakkan sayap sejauh mungkin setelah beberapa hari sang papa meninggalkan nama di batu nisannya.
"Gavin, aku ingin mengisi posisi itu ... dan Gibran, bisakah kau singkirkan dari tempat itu? Kalau perlu jadikan dia tukang parkir."
Ibra bicara melalui sambungan teleponnya, setelah mengungkapkan kehendak yang memang jadi tanggung jawabnya, kini pria itu justru membahas Gibran juga.
"Tukang parkir? Memangnya ada alasan jelas Anda mencopot jabatan seseorang, tuan?"
Gavin memang menjalankan semua perintahnya, tapi bukan berarti perintah yang tidak masuk akal seperti itu. Siapa yang tidak akan curiga jika posisi manajer tiba-tiba turun jadi tukang parkir, pikirnya semakin berpikir Ibra sudah tidak waras.
Hanya itu, alasan dia ingin menyingkirkan Gibran, terlepas dari kemampuan dan tanggung jawab Gibran yang patut diacungi jempol Ibra tetap tidak peduli.
"Huft, Anda sudah minum obat malam ini? Jangan dilewatkan, setelah itu tidur karena besok hari akan sangat panjang."
Mendengar jawaban Gavin yang menolak perintahnya, Ibra mengepalkan tangan dan menutup panggilan itu sepihak. Jika Gavin tidak mengiyakan, artinya perintahnya kali ini memang salah.
Meletakkan ponselnya kasar di atas meja, Ibra menghela napas kemudian menatap malam kelam dari balik jendelanya. Hujan, sepertinya kian deras bersamaan dengan goresan kilat yang bersahutan di atas sana.
Ibra tampak begitu tenang, padahal alam luar biasa menakutkan. Dia menyukai suara hujan dan kegaduhan semesta yang seakan tengah berperang. Menyentuh kaca yang kini tampak berembun di luar, Ibra melukiskan inisial istrinya di sana.
Hingga sepersekian detik berlalu, dia menyadari ...
__ADS_1
"Naya?"
Teriakan itu bahkan lebih besar daripada gertakan petir di atas sana. Pria itu segera berlari keluar begitu sadar istrinya ia tinggal terlalu lama.
"Kanaya!!" teriak Ibra panjang, bersamaan dengan langkah panjang menuju kamarnya.
Dadanya terhenyak kala melihat sang istri sudah terduduk dan berlindung disudut sofa, dia bergetar dan bisa dipastikan Kanaya sangat takut. Ruangan hanya remang-remang karena memang lampu dimatikan.
"Sayang, kamu kenapa?" Ibra memeluknya erat, perasaan bersalah kini menguasai dirinya, dia tidak menyangka bahwa Kanaya akan setakut ini terhadap hal yang dia sukai.
"Kamu kemana? Tiba-tiba udah nggak ada, aku takut, Mas."
Suaranya semakin bergetar, tidak dibuat-buat, Kanaya memang penakut dengan cuaca buruk. Trauma masa lalu yang takkan pernah ia lupakan, hingga saat ini masih terus saja menghantui.
Dia tidak suka hujan, apalagi petir dan itu terjadi di malam hari. Karena suasana yang begini persis seperti malam dimana dia bersama sang papa terakhir bersama.
"Maaf, Mas kelamaan sampai kamu setakut ini."
Ibra membopong tubuh Kanaya hati-hati, dan Kanaya tak melepaskan Ibra sedikitpun. Berpegang begitu erat seakan takut Ibra akan berbuat jahat.
"Lampunya jangan dimatikan," pinta Kanaya kemudian setelah keduanya berada di kamar, Ibra hanya mengangguk dan menuruti kemauan istrinya. Walau dia sangat tidak nyaman tidur di bawah cahaya lampu yang seterang itu, demi Kanaya dia rela mengapah.
"Tidur lagi ya, hampir pagi, Nay." Kanaya melihat jam digital di atas nakas, memang hampir pagi maka dari itu dia marah kala Ibra tak berada di sisinya Tiba-tiba.
"Kamu tetap di sini, jangan pergi-pergi." Itu permintaan sekaligus ancaman yang harus Ibra turuti, pria itu hanya mengangguk patuh dan mencoba memejamkan matanya.
To Be Continue.
__ADS_1