
Suhu udara di kota ini memang lebih dingin, Kanaya bahkan masih merasakan udara dingin itu menusuk kulit meski jaket tebal telah membalut di tubuhnya. Seperti yang Ibra janjikan, mereka akan sedikit mengulur waktu agar Kanaya bisa menikmati suasana di tempat ini lebih lama.
Kesempatan bagi seorang Kanaya, jika biasanya dia akan menghemat uang ketika pergi, kini adalah waktunya. Dia bukan definisi wanita matre, tapi saat ini keadaannya berbeda dan siapapun yang berada di posisi Kanaya tentu akan melakukan hal sama.
"Mba semuanya," ujar Ibra pada akhirnya lantaran kesal karena Kanaya begitu lama menentukan pilihannya.
Memang wanita sama, waktu belanja habis hanya untuk memilih saja. Ibra bahkan menghela napas kasar karena pilihan itu tak kunjung Kanaya putuskan.
"Heeh?" Kanaya terperanjat kala suaminya bicara, pria itu emosi atau bagaimana, pikir Kanaya heran.
"Semuanya, Pak?" tanya wanita cantik dengan rambut dicepol setinggi harapan orang tua itu sekali lagi.
"Iya, semuanya," tutur Ibra terdengar bercanda tapi itu serius.
"Jangan dengerin, Mba, memang suami saya nggak sabaran."
Meski itu adalah hal yang dapat dikatakan sebagai kesempatan emas, akan tetapi Kanaya enggan mengikuti kemauan sinting Ibra. Dia tidak punya cita-cita memiliki butik dadakan, dan juga jika untuk dia pakai sendiri akan seberapa banyak lemari yang Kanaya butuhkan untuk menampung semuanya.
"Empat ini aja," ujar Kanaya mengalah, sesabar-sabarnya pria sepertinya memang tidak mampu bersabar dalam hal menemani wanita belanja.
"Cuma empat? Memangnya nggak kurang?" tanya Ibra mengerutkan dahi, Kanaya benar-benar hanya menginginkan itu atau memang sedikit tersinggung, pikirnya.
"Nggak, baju aku masih banyak."
Ibra mengangguk seakan benar-benar mengerti, mungkin memang benar alasan istrinya yang Kanaya ungkapkan.
Mereka selesai di tempat itu saja? Tentu saja tidak, rasanya rugi jika tidak memanjakan lidah. Kanaya sudah mencari tahu sejak tadi malam terkait tempat-tempat yang wajib dikunjungi ketika berada di sini.
Ibra begitu sabar mengikuti kemauan istrinya, apapun yang Kanaya inginkan memang benar-benar dia bebaskan. Meski tetap saja Ibra akan membatasi jika itu adalah hal yang tidak begitu baik dikonsumsi istrinya.
Dunia seakan dia kuasai hari ini, Ibra merasa dirinya tengah menggenggam pusat semesta. Menyaksikan senyum Kanaya dalam keadaan tenang dan senyaman itu, meski ada hati yang merasa paling kesepian sedunia kala menyaksikan kemesraan pasangan itu.
"Jack jalan," tegur Axel kala pria tinggi itu terdiam seakan kehilangan tenaga melihat kelakuan tuannya.
"Ck, mengganggu saja."
Entah apa yang Jack khayalkan hingga dia sekesal itu kala Axel membuyarkan lamunannya. Menjalani peran sebagai bodyguard sekaligus fotograper dadakan membuat Jackson hanya mengelus dada sembari meratapi nasibnya.
__ADS_1
-
.
.
"Kamu masih lapar, Kanaya?" tanya Ibra terheran-heran lantaran sejak tadi mulut istrinya tidak berhenti menguyah.
"Hm, kata orang kalau dingin emang buat laper, Mas."
Tanpa menatap balik suaminya, Kanaya masih menikmati hidangan makan siangnya keduanya. Ibra hanya melihat, tanpa sedikitpun berniat untuk ikut makan juga.
Bibirnya bahkan membasah, cara makan Kanaya membuat Ibra gemas. Imannya yang hanya setipis kulit bawang itu tentu saja goyah, terutama saat ini udara memang terasa dingin. Sudah tentu pikiran Ibra mengarah ke arah sana.
"Bukannya dingin itu buat ...."
"Buat apa?" Mata Kanaya mendelik, Ibra memang kebiasaan tidak kenal tempat.
Di tempat ini bukan hanya mereka saja, Ibra memang sedikit berbisik, matanya menatap genit Kanaya dengan tangan yang tiba-tiba mengelus pahanya di bawah meja.
"Mas, kamu tu apa-apaan is!"
"Emosian, cepet tua nanti."
Kanaya hanya menghela napas pelan, wajah tanpa dosa Ibra memang meresahkan. Semua yang Kanaya lakukan seakan mengundang naf*sunya.
"Ya nggak liat tempat, aku lagi makan sempet-sempetnya," gerutu Kanaya kesal bukan main, sungguh tatapan beberapa orang yang sesekali tertuju pada mereka membuat Kanaya malu luar biasa.
"Aku juga mau makan, masa nggak boleh."
Tidak ada hal positif yang Ibra katakan jika bersama istrinya. Merasa jengah karena hanya memandangi, dia akhirnya melakukan hal sejahil itu.
"Aaaaaaa." Kanaya mengarahkan sendok ke mulut Ibra yang sejak tadi hanya dipakai untuk mengucapkan hal-hal yang mengajaknya berkeringat bersama.
"Tapi Mas maunya makan kamu," ucapnya sungguh membuat Kanaya tak bisa lagi berkata-kata.
"Terserah, Mas."
__ADS_1
Jika diteruskan, pria itu akan semakin menjadi. Hanya satu pilihannya, berpura-pura biasa saja meski sentuhan Ibra terkadang membuat jiwa wanita dewasanya berontak di dalam sana.
Siapapun yang melihat mereka, tentu saja ada rasa ingin menggantikan posisi Kanaya berada di sisi Ibra. Cara Ibra meratukan Kanaya memang luar biasa, wanita mana yang tidak ingin diperlakukan baik oleh prianya.
"Udah?"
Kanaya mengangguk, wanita itu kenyang luar biasa. Bahkan kini dia merasa kesulitan untuk berdiri, dan Ibra tak kuasa menahan tawanya kali ini.
"Mas kenapa ketawa? Ada yang lucu?"
"Istriku persis ikan kembung," celetuknya enteng sembari menyentuh pelan dagu Kanaya, entah bagian mana yang membuat Ibra menjuluki istrinya ikan kembung.
"Ck, yang buat kembung kan kamu."
Otak keduanya sama-sama sudah tidak bisa diselamatkan lagi sepertinya. Baik Ibra maupun Kanaya, keduanya sama saja. Yang Ibra maksud adalah pipi istrinya, bukan yang lain.
"Buahahah bukan ini, Naya ... tapi pipinya."
Ibra tertawa sumbang, dan kini melihat Kanaya yang salah tingkah semakin membuatnya menggila. Hingga tanpa sadar gigi runcingnya sudah membekas di lengan atas Kanaya hingga wanita itu menjerit tertahan.
"Sakit!! Kamu kenapa sih?" Kanaya mendorong kepala Ibra yang tiba-tiba kembali ke wujud aslinya, Kanaya menggosok pelan lengannya, itu memang sakit dan sama sekali dia tidak bercanda.
"Maaf, aku kira tidak akan sakit."
Mudah sekali dia bicara, Wanita itu menghela napas pelan sembari memberikan senyum dan permintaan maaf pada orang-orang yang dibuat heran dengan kelakuan mereka.
"Duda meresahkan," rintih Kanaya masih meratapi rasa sakit di lengannya, pria ini bukan hanya kurang belaian, tapi sepertinya kurang kadar kewarasan, pikir Kanaya.
"Kamu sudah menerima itu sepenuhnya?" tanya Ibra serius, celetukan Kanaya yang kini menjadi pikirannya dan Ibra hanya tersenyum mendengarnya.
"Mau gimana lagi, Tuhan kasihnya duda ya terima."
Pasrah sekali, Kanaya hanya bercanda tapi Ibra justru benar-benar membahas dirinya. Tidak ada yang salah memang, setidaknya ini lebih baik daripada Ibra dengan nyata menyembunyikan status sebagai suami orang seperti kisah cinta yang kerap Kanaya dengar di luaran sana.
"Pasrah banget, duda banyak pengalamannya, Nay."
"Oh iya? Mas bilang nggak pernah ngapa-ngapain tuh sama Olip, kenapa bisa banyak pengalamannya? Sumbernya dari mana?" Pertanyaan menjebak yang berhasil membuat Ibra ketar-ketir.
__ADS_1
"Sial, salah bicara." Ibra mengusap wajahnya kasar, pernyataan bodoh yang justru membuatnya terjebak sendiri.
TBC