Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 125


__ADS_3

Di balik pemantauan serius Kanaya, terdapat pembicaraan yang sama seriusnya. Pada faktanya, mulut kedua sahabat Olivia tak semudah itu dibungkam. Mereka yang merupakan influencer dengan mudahnya menarik simpati publik dan membuat nama Ibra benar-benar buruk.


"Menyebalkan sekali, sehebat apa sebenarnya mereka?"


Berurusan dengan wanita memang bisa meyebabkan sakit kepala. Gavin sendiri sedikit kewalahan lantaran yang bergerak bukan hanya mereka sendiri, tapi juga teman-temannya yang lain.


Kekuatan sosial media dan mulut wanita, ketika berpadu maka hancur dunia. Sebenarnya Ibra malas menghadapi hal semacam ini, infotainment semakin mengada-ngada.


Diduga stres karena ditinggal nikah dalam keadaan hamil muda, mati jadi pilihannya ... sungguh malang nasib seorang Olivia Aghita.


Sang suami lebih memilih istri kedua, istri pertama memilih hancur dalam pelukan kedukaan.


Miris!! Tampan tak jadi jaminan setia


Cinta itu membunuh #RIP Olivia aghita


Ibra memejamkan mata, masih banyak lagi headline tentangnya. Pria itu sudah tak lagi tertarik untuk melihat benda pipih yang tadi Gavin serahkan.


"Kenapa semakin menjadi, Gavin? Sebelumnya tidak separah ini astaga!"


"Tenang saja, jika yang kemarin bisa diatasi sama halnya dengan kali ini," ujar Gavin menangkan Ibra sekali lagi, pria itu paham yang mengganggu pikiran Ibra hanyalah takut berita semacam itu sampai ke telinga Kanaya.


"Tenang dengkulmu ... kau lihat? Istriku bahkan berusaha melakukan apapun demi mengetahui pembicaraan kita," tutur Ibra melirik Kanaya dengan ekor matanya. Luar biasa, Gavin saja tidak sadar ada Kanaya di sana, sementara Ibra sadar dengan keberadaan istrinya.


"Santai saja, Nona pasti akan memahami tentang hal ini ... tidak akan ada masalah, Tuan."


Memang, semuanya bisa saja Kanaya terima. Akan tetapi, Ibra tidak mau jika pikiran istrinya terganggu. Sedihnya Kanaya adalah duka bagi Ibra, meski itu hanya sebuah fitnah, bukan berarti bisa membuat istrinya itu tenang begitu saja.


"Bersihkan namaku segera, Gavin ... aku juga murka melihat komentar di postingan mereka," bisik Ibra sedikit menekan kalimatnya.


Risih sekali rasanya jadi Ibra, seakan tak puas dengan jalan satu, sahabat Olivia juga menyebar semua pernyataan buruk tentang Ibra di akun sosial media mereka. Melihat bagaimana jahatnya netizen yang menghujat dirinya bahkan mempermasalahkan nama yang tidak sesuai dengan sifatnya.


"Rata-rata yang ikut komentar adalah orang yang tidak berpendidikan, anda tidak perlu memikirkan hal itu."


Semua memang terdengar mudah bagi Gavin, tapi tidak bagi Ibra. Jika dahulu sebenarnya Ibra bisa mengabaikan begitu saja, lain halnya dengan saat ini.


"Ck, tau dari mana kau?"

__ADS_1


Kekesalan Ibra mulai membara, terutama kala Gavin justru menganggap hal ini sepele dan tak perlu diributkan lagi. Semua akan tenggelam ditelan waktu, nama Ibra akan bersih dengan sendirinya dan dapat menjalani hidup normal seperti biasa.


"Ya dari kata-katanya, mencaci tanpa tahu kebenaran itu adalah perbuatan hina yang tidak seharusnya dilakukan manusia."


Ibra mengangguk berkali-kali, mencoba memahami dan tidak terlalu pusing dengan hal sinting semacam itu. Bersyukur sekali dia memiliki istri penurut layaknya Kanaya, wanita cantik yang memilih mengiyakan tanpa banyak tanya dan tidak mendesak Ibra dengan pertanyaan tak masuk akal.


"Ck, merusak hari-hariku yang cerah saja ... wanita-wanita murahaan ini cari mati ternyata."


Gemas sekali, Ibra sudah diam dan bahkan tidak mengusik mereka sama sekali walau punggung dan tangan Lorenza terluka akibat serangan mereka. Sayangnya, mereka justru uji nyali dengan membuat Ibra terlihat buruk di mata dunia.


"Tapi saat ini mendung, Tuan."


Ibra menatap Gavin sejenak, dengan polosnya pria itu melihat keluar jendela. Memang tidak cerah, bahkan bisa dipastikan hujan akan mengguyur kota sebentar lagi.


"Kiasan, Gavin ... anggap saja begitu."


Dia lupa dengan siapa bicara, Gavin adalah pria paling realistis dan anti perumpamaan. Sungguh berbeda dengan jiwa Ibra yang terkadang puitis.


-


.


.


Lantaran hujan yang kini menyapa ibu kota, Gavin tidak diizinkan Ibra pulang sama sekali. Dan kini pria itu tengah duduk termenung di ruang keluarga. Sementara, Kanaya yang melihatnya di lantai dua jelas saja bingung kenapa pria tampan yang biasanya selalu sigap itu tiba-tiba berubah.


"Hm? Kenapa tanya begitu?"


Ibra yang sejak tadi berlalu dan belum melihat bagaimana asisten pribadinya itu kini turut bergabung di sisi Kanaya.


"Dia melamun, ada masalah pribadi ya?" tanya Kanaya merasa Gavin berpikir terlalu keras.


"Entahlah, Mas nggak pernah tanya, Nay."


Memang benar Ibra tak mengetahui bagaimana keadaan Gavin. Yang ia tahu pria itu harus melakukan yang terbaik untuk dirinya, dan itu adalah hal yang menjadi kesalahan Ibra.


"Aku jadi khawatir," ungkap Kanaya seakan ragu, apa mungkin ini yang dimaksud Lorenza bahwa Gavin berbeda.

__ADS_1


Namun yang lebih membuat Kanaya khawatir adalah perihal ucapan Lorenza beberapa waktu lalu. Jika benar Lorenza berbohong, maka bisa saja melamunnya Gavin menunjukkan jika mereka terjebak masalah besar.


"Khawatir? Khawatir kenapa?"


Pertanyaan seorang pria yang cemburu akan respon sang istri terkait Gavin. Dia tak suka jika pertanyaan Kanaya benar-benar khawatir secara pribadi pada Gavin.


Bukan tanpa alasan, sebelumnya dia sudah cukup curiga karena istrinya sengaja mendekat ke ruang tamu ketika dia dan Gavin tengah berbicara serius. Dan kini, Kanaya justru memperhatikan Gavin yang tengah melamun.


"Tadi Lorenza telepon aku."


Kanaya mulai membuka pembicaraan yang super serius, tatapan tajam dan fokus memandang sang suami hingga Ibra sedikit takut dengan tatapannya.


"Terus?"


"Mamanya maksa Gavin buat tanggung jawab, tapi Lorenza bilang mereka nggak ngapa-ngapain dan dia bingung mau jelasin gimana karena tadi siang si Lorenza justru sakit kepala dan mual-mual ... dan mamanya makin curiga."


"Hah? Maksud kamu ... Gavin nyicipin Lorenza?" tanya Ibra bahkan hampir tersedak teh hangat yang tengah ia nikmati sejak tadi.


"Nyicip apasih, Mas! Kok kamu malah buat suasana makin keruh."


"Kalau sampai mual-mual segala ya berarti bener Gavin cicip temen kamu, Nay." Ibra menatap Gavin yang berada di bawah sana sedikit tak percaya.


"Hem, aku takutnya memang bener dan Lorenza yang bohong."


Sebelumnya keraguan Kanaya tentang pembelaan diri Lorenza 25 persen, dan kala melihat Gavin yang tengah terjerat gundah gulana ditambah lagi pernyataan Ibra membuatnya semakin ragu.


"Dasar anak nakal, sudah janji mau jaga diri kenapa dia justru merusak anak gadis orang."


Ibra hendak turun dan Kanaya spontan menahan suaminya. Rasanya jalan itu tidak tepat dan Kanya takut justru akan membuat Gavin tersinggung dan jatuhnya jadi fitnah.


"Kenapa? Makin cepat makin baik, Sayang."


"Ya masalahnya belum tentu semuanya benar, kita perlu cari tau dulu jangan asal semprot depan muka dia, Mas."


Mereka berdebat, sementara Gavin yang berada di sofa justru tengah terlelap. Setelah beberapa saat terdiam menatap jauh karena lelah, akhirnya damai suara hujan membuat dia nyaman juga.


To Be Continue.

__ADS_1


__ADS_2