
Tubuh Ibra rasanya lesu sekali, hatinya sakit dan demi apapun ingin dia mengacak kubur Indira saat ini juga. Setega itu Indira padanya, Ibra kacau dibalik diamnya.
"Seharusnya kau tidak dirawat di sini, Olivia .... melainkan rumah sakit jiwa."
Ibra menekan setiap kalimatnya, Olivia memilih bungkam setelah mengungkap rahasia terbesar dalam hidupnya. Dia menyesal? Untuk saat ini jelas saja ada, akan tetapi dia melakukannya demi bisa menjaga diri karena amukan Ibra sudah segila itu. Dia takut, kalut dan benar-benar tak punya cara lain untuk menyelamatkan dirinya saat itu.
"Terserah kamu menganggapku bagaimana, kamu tidak pernah merasakan bagaimana jadi aku?! Aku hanya meminta Mama menebus kesalahan karena dia memilihmu dibandingkan aku!! Darah dagingnya sendiri."
Olivia berucap tegas meski tetap terdengar bergetar. Sudah terlanjur Ibra ketahui, lantas apa yang perlu dia tutupi. Semua memang hanya tentang kecemburuan, fakta bahwa Indira membuatnya hidup bersama pengasuh di masa kecil membuat Olivia geram.
"Kau tidak pantas menuntut itu dengan melibatkan aku," sergah Ibra masih tak terima dan sungguh dia merasa jijik sendiri pada Olivia dan dirinya.
"Karena aku menginginkanmu, hanya itu."
Bukan soal harta, yang Olivia minta adalah Ibra sepenuhnya. Sementara Indira, jelas saja selain memenuhi tuntutan sang putri, dia juga ingin menguasai apa yang Ibra miliki agar menjadi hak milik Olivia juga pada akhirnya.
"Ays!! Kenapa kau harus hidup, Olivia!!" sentak Ibra lagi-lagi membuat telinga Olivia seakan mau pecah.
Mereka terdiam cukup lama, Ibra tak melepaskan Olivia dari tatapan tajamnya. Hingga pintu itu terbuka dan salah satu perawat datang dengan wajah bingungnya.
"Apa yang kau lihat? Tutup mulut jika mau hidupmu baik-baik saja."
__ADS_1
Penampilan Olivia jelas menimbulkan perasaan yang membuat wanita itu curiga, dan sebelum wanita itu berpikir macam-macam, Ibra memberikan teguran lebih dulu.
"Ba-baik, Pak." Tidak berani berbuat banyak, wanita itu menunduk pasrah dan fokus pada pekerjaannya.
Olivia kembali ke tempat tidurnya, wajah yang kini bengkak tak kuasa menatap Ibra. Pria dambaan yang dia inginkan ternyata mampu segila itu dan membuatnya celaka.
Tak menunggu waktu lama, Ibra meninggalkan ruangan itu untuk sementara, Ibra butuh udara segar untuk menenangkan benang kusut di kepalanya. Sesak, kepalanya terasa amat sakit bahkan Ibra hampir terhuyung ketika berhasil keluar dari ruangan Olivia.
"Papa ... kenapa Papa hadirkan wanita itu dalam hidupku."
Dia bermonolog, menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah gontai seakan dunia benar-benar akan runtuh. Batinnya terluka dan ini membuatnya semakin menangis saja.
Hendak berbuat apa, sementara Indira tak lagi ada. Marah pada siapa dia saat ini, bagi Ibra yang salah adalah dunia mereka.
Hatinya sempat tersentuh, bahkan penyesalan menyeruak kala Indira meregang nyawa di pangkuannya. Dan kini, semua itu hilang dan dia berpikir ada sesuatu yang kurang karena tidak membuat Indira lebih menderita lagi.
Keheningan malam yang mungkin indah bagi beberapa pasangan di luar sana, tapi tidak bagi dia. Temaram lampu jalan dan udara dingin seharusnya terasa nyaman baginya, namun sayangnya meski Ibra sengaja membuka jendela demi merasakan hembusan angin, tetap saja yang dia rasakan adalah sesak yang sama.
Pulang pergi sejauh ini, dia tidak masalah. Di saat-saat kusutnya begini, Ibra masih tetap berpikir untuk pulang. Yang dia ingat hanya Kanaya, semata-mata istrinya.
*****
__ADS_1
Di sisi lain, yang pusing ternyata bukan hanya Ibra melainkan Gavin juga. Ya, sudah pasti Lorenza dan lainnya menjadi tanggung jawab pria itu. Harusnya Ibra menaikkan gajinya kalau perlu 5 kali lipat mengingat begitu banyak yang dia kerjakan.
"Khilaf, Tuan."
Gavin tak bisa mengatakan apa-apa lagi, memang dia sempat mengatakan perihal mengirim anak buah Indira ke neraka, tapi bukan seperti itu juga caranya.
"Benar-benar kalian bakar?"
Axel mengangguk, kemarahannya yang membuat Axel nekat membuat mobil yang dikendarai anak buah Pedro meledak. Mengingat sahabat karibnya kini terbaring di rumah sakit, Axel berinisiatif sendiri tentang cara menghabisi lawannnya.
"Iya, Tuan, tapi semua aman ... tenang saja."
Pria itu menghela napas perlahan, memang tidak sia-sia imbalan yang mereka terima. Akan tetapi, jika sudah begini anak buahnya justru berubah jadi pembunuh berantai.
Semua yang menjadi lawan Ibra berakhir sama, hanya putri Wedirman saja yang tidak. Mau marah juga percuma, Gavin tak punya kuasa lebih setelah ini.
"Anda sepertinya mengantuk, silahkan istirahat, Tuan."
"Ck, mengerikan ... pergi kalian sana."
Geli sekali, bentuk perhatian yang Axel berikan membuat Gavin bergidik. Pria yang tidak pernah mendapat hal manis sedemikian rupa dari siapapun tak bisa membohongi diri.
__ADS_1
Selepas semuanya pergi, Gavin menyandarkan kepalanya di tembok lembab itu. Matanya terpejam dan pikirannya kini menerawang jauh, tentang apa yang dia hadapi dan sosok wanita asing yang merepotkan itu datang menghampiri hidupnya.
To Be Continue.