
Kanaya menatap Ibra penuh tanya, setelah perjalanan yang lumayan baginya, kini yang dia lihat justru tak seharusnya. Wanita itu butuh penjelasan dan Ibra hanya menggenggam jemari Kanaya dalam diamnya.
“Mas? Apalagi?” tanya Kanaya dengan nada bergetar, Kanaya bungkam kala menyaksikan sekelilingnya menggunakan pakaian hitam lengkap dengan kacamata yang mereka kenakan.
Bukan kerabat ataupun keluarga dekat, mereka adalah para tetangga dan rekan bisnis Megantara yang mengenal Indira. Wajar saja Ibra seyakin itu mengatakan Mamanya akan menyukai Kanaya, dalam keadaan yang sudah tak bernyawa mana mungkin seseorang akan tidak menyukai orang lainnya.
“Maaf, Nay … Mas bohong lagi kali ini,” ungkapnya tersenyum getir, Gavin mencuri dengar pembicaraan bosnya itu, ingin tertawa tapi dia takut berdosa.
Alangkah tidak sopannya jika Gavin sampai terbahak di depan pusara Indira. Berada di samping Ibra dan Kanaya membuatnya sedikit terhibur.
"Kenapa bisa? Mas tadi malem?"
Kanaya tak habis pikir kenapa suaminya diam padahal terkait ini seharusnya dia bisa bicara baik-baik. Sesal di wajah Ibra terlihat nyata, dan kini pria itu memperlihatkan senyum getir.
"Hm, Mama jatuh dari tangga karena hendak meleraiku, Mas pembunuh ya, Nay?" tanya Ibra dengan mata sendunya, setelah tanah itu benar-benar tertutup entah mengapa batin Ibra kembali serasa ditekan habis-habisan.
"Kenapa tanya begitu? Mas bukan pembunuh, tolong berhenti membicarakan hal yang tidak perlu, Mas."
Dia mulai tidak nyaman dengan Ibra yang tidak seperti Ibra suaminya. Kanaya mencoba memahami semuanya, dan sepertinya dengan cara begini Tuhan memberikan izin untuk mengenal Indira.
Sempat melihat wajahnya, meski Kanaya tidak bisa menatap matanya tetap saja pertemuan pertama itu Kanaya hargai sebaik-baiknya.
Ibra butuh waktu untuk menuntaskan air matanya, pria itu menatap nanar gundukan tanah itu. Beberapa orang sudah pergi dan meninggalkan mereka saat ini, Gavin dengan begitu setia memegang payung hitam demi membuat atasannya itu nyaman dalam tangisan.
Drama ini sama sekali tak membuat Gavin tersentuh, pria itu masih menatap Ibra dengan tatapan datar di sana. Satu hal yang tidak bisa Gavin pahami tentang Ibra, pria itu tidak mampu membenci Indira sepenuhnya.
-
.
.
.
__ADS_1
Meninggalkan pemakaman dengan perasaan bersalah, Gavin sudah menegaskan berkali-kali jika kematian itu memang sudah ketentuan dan apa yang terjadi pada Indira bukan kesalahan Ibra.
"Pelan-pelan, Vin."
"Baik, Tuan."
Gavin mengurangi kecepatan atas perintah Ibra. Dia lupa jika kini tengah membawa Kanaya juga. Seperti biasa, pria itu akan sekhawatir itu tentang istrinya.
Sepanjang perjalanan, Ibra hanya bersandar di pundak Kanaya. Lama-lama memang Gavin terbiasa melihat pemandangan tersebut.
"Fokus ke depan, Gavin!"
Pria itu tertangkap basah tengah memperhatikan mereka, Ibra secepat itu menyadari bagaimana lingkungan terhadapnya. Kanaya hanya menarik sudut bibir begitu mendengar gertakan suaminya.
Sebenarnya tidak begitu berlebihan, hanya sebatas peluk dan Ibra yang tidak melepaskan dirinya walau sesaat.
Kembali ke rumah utama sebagai tujuan. Kanaya masih terbelenggu kekaguman pada bangunan megah dan mewah itu. Ibra sudah memberikan yang terbaik sebelumnya, akan tetapi Kanaya benar-benar dibuat menganga lagi dan lagi.
Berusaha biasa saja agar tidak terlihat norak, sungguh demi apapun Kanaya merasa semakin kecil di sisi Ibra. Istana yang biasanya dia lihat di drama-drama kesukaannya, kini justru dia pijaki.
Walau sebenarnya terlambat, seharusnya sejak awal menikah dia sudah membawa Kanaya ke tempat ini. Pria itu menggenggam erat jemari istrinya sembari melangkah masuk ke kamarnya.
Rumah itu terlalu besar, Kanaya yang sudah cukup kaya merasa dirinya bagai anak jalanan yang Ibra pungut dan diberikan kemewahan.
Dia tidak pernah memandang harta, akan tetapi jika mendapat suami yang kayanya di luar nalar, ya alhamdulillah. Begitulah riteria calon suami tiga sekawan yang selalu mengatakan anti duda itu beberapa bulan lalu.
"Kamar Mas di atas," tutur Ibra mengukir senyum tipis di sana, Kanaya hanya mengangguk sebagai jawaban.
Meniti anak tangga begitu hati-hati, tiba di lantai dua kamar Ibra masih butuh waktu lagi. Seluas itu dan Indira hanya tinggal sendiri, wajar saja kerap memaksa Ibra pulang, pikir Kanaya.
Hingga Kanaya menghela napas kala Ibra memegang handle salah satu pintu di antara banyaknya ruangan itu. Lama sekali, Kanaya menghela napas pelan kala melangkah masuk ke dalam sana.
Kamar dengan nuansa kegelapan, Kanaya merasa dirinya tengah berada di markas gerombolan penjahat. Tidak ada yang menarik dari kamar Ibra, warna di dominasi hitam.
__ADS_1
Tidak ada yang berwarna di sana, berbanding terbalik dengan kamar yang biasa mereka tempati. Kanaya tidak menyalahkan watak Ibra yang pemarah dan sekeras itu jika melihat huniannya.
"Istirahatlah, kamu capek kan?"
Pria itu membuka kemejanya, Kanaya yang melihat aksinya mundur beberapa langkah dan itu spontan sebenarnya. Sejak tadi wajah Ibra memang lebih datar dari biasanya, Kanaya merasakan perbedaan itu sejak di rumah sakit.
"Kamu kenapa? Takut?"
Ibra memicingkan matanya, gerakan spontan Kanaya hampir membuatnya tersinggung. Padahal sudah biasa, kenapa Kanaya justru melihatnya sebagai penjahat yang mengancam nyawanya, pikir Ibra.
"Enggak, kaget aja."
Dia mengelak, padahal gerakan spontan itu memang terjadi akibat perasaan yang tak bisa Kanaya defenisikan saat ini.
"Oh iya? Memangnya Mas lakuin apa sampai kamu kaget, Nay?"
Entahlah, Kanaya juga tidak mengerti. Kamar Ibra membuatnya merinding, itu sebenernya alasan awal. Pikirannya terlalu jauh dan membayangkan sosok lain ketika Ibra melepaskan kancing kemejanya.
To Be Continue
Sebelumnya aku mo tanya dulu, ada yang masih menantikan mereka dan jatuh cintanya sama seperti awal klik novel ini?"
Kok Indiranya mati cepet?
Kok gak disiksa dulu?
Kenapa mati thor, ini mau end apa gimana?
Banyak ya yang komen begitu, sebenarnya aku mau aja buat lebih berliku. Tapi, karena epsnya sudah 100 sekian dan untuk kisah Ibra memang aku rencanakan tidak akan sepanjang Gian Family (300 eps). Kerangka dan alurnya udah aku atur sejak awal nulis, karena takutnya kebanyakan jadi bosan dan pembaca males baca lihat epsnya yang segaban😂 Maaf ya apabila tidak sesuai keinginan kalian🤗 aku berusaha melakukan yang terbaik sebisaku, walau pembacaku kebanting karena beberapa hari lalu naskahku lama banget lulus review, pembacanya kebanting eh malah bertahan segitu walau aku udah up normal. Capek sih, aku menaruh harapan gede banget di Ibra, tapi berasa hampa diakhir-akhir begini.
Oh iya, mohon doanya, aku lagi ujian akhir. Sebenarnya jadwalnya dari kemarin, mau end segera tapi takut nanti ada yang merasa hilang. Dan kenapa aku bilang karya baru nanti di Juli, aku mau selesaikan dulu semua yang di RL aku.
Kali lulus auto dapat Ibrahim Megantara, tapi ketemunya jangan kayak Naya ya, gamaooo.
__ADS_1
See You, aku up sebisaku. Mohon dukungannya, kehadiran kalian sangat aku harapkan setiap up biar Ibra dapat promosi lagi❣️