Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 98


__ADS_3

Malam kian larut, Ibra belum juga bisa terlelap meski sang istri sudah mendengkur halus sejak beberapa jam lalu. Memandangi wajah Kanaya begitu lekat, wajah teduh yang disana tempat Ibra menaruh harap bahagianya.


Dalam diri Kanaya, ada harap yang Ibra raih, ada angan yang Ibra dapatkan dan ada bahagia yang berhasil Ibra wujudkan. Sedetikpun dia tidak ingin kehilangan waktu untuk bersama Kanaya, pria itu membelai lembut wajahnya dan tanpa sadar mata pria itu kini berkaca-kaca.


Dia cengeng? Bisa dikatakan begitu jika perihal Kanaya. Bertahun-tahun dia terbelenggu dalam kekuasaan Indira yang memaksakan dirinya harus tunduk dan kehilangan haknya, kini Ibra justru membelenggu Kanaya dengan cintanya.


Setakut itu Ibra perihal kehilangan wanita ini, bahkan Abygail pun seakan tak Ibra izinkan untuk kembali merebut kasih sayang Kanaya. DIa tidak ingi berbagi, Ibra seegois itu memang. Walau dia paham sebenarnya sikap yang seperti itu adalah sebuah kesalahan, hanya saja mendengar penjelasan Abygail tentang penyesalannya terhadap Kanaya membuat Ibra justru takut Kanaya melepaskannya.


“Maaf, Nay … perihal kamu Mas akan selalu egois.”


Pria itu mengeratkan pelukannya, selama Ibra bernapas maka Kanaya akan menjadi miliknya seorang. Tiada cinta lain ataupun berbagi kasih saja dia enggan, Ibra dibuat jatuh sejatuh-jatunya pada wanita itu.


“Mas,” panggil Kanaya pelan, isakan pelan Ibra dapat dia dengar dalam tidurnya.


Kanaya bingung, dia jelas saja terkejut karena seingat dia Ibra baik-baik saja ketika memintanya tidur. Dan saat ini Ibra justru menangis dalam diamnya, pria itu menutup mata Kanaya dengan telapak tangannya.


“Apasih, Mas … kamu kenapa sebenarnya?” Kanaya menepis pelan tangan Ibra, pria itu tengah mencoba bersembunyi dari Kanaya, semua terlambat karena Kanaya menyadari tangisan Ibra sejak tadi.


“Enggak, mataku perih, di sini terlalu dingin, Naya.”


Alasan paling tidak masuk akal yang pernah Kanaya dengar, sejak tadi Ibra bahkan hanya menggunakan kaos tipis dan bisa-bisanya dia mengeluh kedinginan. Wanita itu duduk sembari tak melepaskan Ibra dari tatapannya, sebagai seorang istri wajar saja jika dia khawatir tentang suaminya.


“Katakan, kenapa kamu begini? Ada masalah yang kamu sembunyikan dari aku lagi?” cecar Kanaya dengan suara yang demikian halus, pria itu menggeleng pelan, kecurigaan Kanaya sebesar itu setelah sempat kecewa padanya.


“Bukan, Kanaya … Mas Cuma bahagia karena merasa hidup akhir-akhir ini.”


Ucapan itu benar-benar tulus, sebagaimana seorang Ibra yang selalu berkata dengan kalimat yang terdengar berat dan tidak bisa Kanaya pahami dengan cepat. Otak Ibra dan Kanaya memang tak bisa dibandingkan, pria itu memang memiliki kecerdasan diatas rata-rata dan pemikirannya terkadang tidak bisa Kanaya jangkau seketika.


“Hahah, kamu kenapa, Nay? Bingung?”

__ADS_1


Matanya masih memerah, dia bicara saja terdengar berbeda akibat tangisnya. Dan kini Ibra justru terkekeh dalam tangisnya yang mulai reda. Wanita itu mengerutkan dahi, Ibra yang begini membuatnya sedikit takut, apa mungkin ada yang rusak di otaknya, pikir Kanaya.


“Kamu aneh, Mas.”


“Tidurlah, Mas baik-baik saja, sungguh.”


Menatap ragu suaminya kini, namun Kanaya tidak menolak ketika Ibra membaringkan tubuhnya kembali. Sedikit memaksa dan tidak menyakiti, Kanaya hanya menuntut penjelasan dari pria itu sekali lagi. Mana mungkin dia bisa tidur nyenyak sementara Ibra menciptakan misteri di penghujung malam yang indah ini.


“Yakin?”


“Hm, yakin.”


“Kamu nggak sakit kan?” Sungguh, pikiran Kanaya sudah tidak sehat lagi, terutama pada kalimat Ibra yang mengatakan jika dirinya terasa benar-benar hidup, wanita itu bingung maksud Ibra apa sebenarnya.


“Enggak, Kanaya … Mas sehat lahir batin bahkan sangat sehat semenjak ada kamu, sudah sana tidur lagi.”


Kanaya mengulas senyum, pria itu tampaknya salah tingkah. Ibra bahkan tak berani menatap mata istrinya seperti biasa. Dan ketika Kanaya sudah terbaring pasrah Ibra hendak beranjak dari tempat tidur dan dengan cepat Kanaya menahan kepergian Ibra dengan menarik ujung piyamanya.


Ibra menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu, dia bingung hendak menjawab apa. Tujuannya adalah ke kamar mandi untuk sejenak mencuci wajahnya, hanya saja untuk jujur Ibra gengsi tentu saja.


“Kebelet, kamu mau ikut?” tawar Ibra dengan suara persis seseorang yang tengah diserang flu, sesulit itu Ibra mengaku jika tengah dirundung kesedihan.


“Yaudah cepet.”


Ibra berlalu dengan sedikit berlari, meninggalkan Kanaya yang masih menatap punggungnya. Apa yang pria itu pikirkan hingga meneteskan air mata, selama menikah Ibra tidak pernah memperlihatkan luka pada Kanaya walau hanya seujung kuku.


-


.

__ADS_1


.


Menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi, Ibra kini datang dengan senyum yang terlihat lebih baik. Suaranya tak seperti sebelumnya, Kanaya sesabar itu menanti Ibra yang cuci muka hampir sama dengan mandi.


“Ganti bajunya, Mas, basah semua begitu,” titah Kanaya dan Ibra mengangguk patuh apa yang diperintahkan istrinya. Layaknya bocah mengikuti perintah ibunya, Ibra patuh tanpa protes walau terkadang Kanaya cerewet.


Ibra menghampiri istrinya dan kini terbaring menatap langit-langit kamar. Pria itu memejamkan mata dengan tangannya memegang erat jemari Kanaya. Matanya memang terpejam, tapi dia belum tertidur sama sekali. Lepas dari obat tidur bukanlah hal mudah, Ibra masih kerap merasa kesulitan meski sudah berusaha.


“Kanaya, boleh Mas tanya sesuatu?” Suara itu kembali terdengar, Kanaya kira Ibra sudah tenggelam ke dunia mimpi, nyatanya mulut Ibra masih melontarkan pertanyaan yang bisa Kanaya pastikan akan macam-macam.


“Boleh, tanya apa memangnya?” Kanaya menanti dengan sabar apa yang akan Ibra tanyakan, pria itu membuka kembali matanya sembari membuang napas perlahan.


“Perasaan kamu tentangku, apa masih sama seperti dulu?” tanya Ibra serius, sejak tadi hal itu kembali jadi pertanyaannya. Tak peduli sehangat apa pernikahan mereka kini, dia hanya ingin menerima pengakuan kembali perihal perasaan Kanaya padanya.


“Kamu kenapa tanya lagi? Ada yang ganjel perasaan kamu, Mas?” tanya Kanaya mengusap pelan pelipis Ibra yang kini Nampak benar-benar mengantuk.


“Butuh validasi, Mas nggak tenang kalau cuma mencintai sendiri, Kanaya.”


Entah apa yang Ibra pikirkan hingga masih sepicik itu. Jika dia tidak mencintai Ibra mana mungkin dia rela disentuh dan menyerahkan diri seikhlas itu. Apa yang Kanaya berikan padanya sudah lebih cukup dari pengakuan cinta, dan ini bukan pertama kalinya Ibra pertanyakan.


“Katakan jika memang kamu mencintai Mas, Kanaya.” Itu perintah, dan sepertinya dia tidak akan tidur sebelum kalimat itu terucap dari bibir Kanaya.


“Love you, Ibrahim Megantara … lebih dari yang kamu tau, aku mencintai kamu dari segala sisi dan semua yang ada dalam hidup kamu, Mas,” ucap Kanaya tanpa jeda, sebenarnya dia bukan tipe pasangan begini, tapi demi memenuhi keinginan Ibra dia rela menepis semua prinsipnya dahulu.


“Benarkah? Kamu tidak berbohong kan, Kanaya?” tanya Ibra dengan suaranya yang kini terdengar serak, wanita itu mengeratkan pelukannya, sudah waktunya Ibra tidur dan tidak lagi banyak bicara.


“Hm, sangat-sangat cinta.”


Tidak selamanya seorang wanita yang butuh perlakuan manis dari pasangannya. Ada saatnya seorang pria juga membutuhkan kehangatan yang sama. Sifat manja yang hanya tertuju pada wanitanya, dan sebaliknya wanita memahami sifat prianya. Saat ini, Kanaya tengah melakukannya, untuk Ibra, sang suami tercinta.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2