
"PAPA!!"
"Astafirullah, Leon!! Biasa aja kan bisa!!"
Kepala sang papa semakin sakit saja, kedua anaknya tidak ada yang benar. Baik itu Lorenza maupun Leon, dari kecil dia mengajarkan sopan santun dan adab yang begitu baik, entah kenapa ketika dewasa mereka jadi seperti ini.
"Kak Lorenza pulang, Papa harus lihat dia sama Om-Om, Pa!!"
"Haaaaaa?!!"
Belum selesai tentang Leon, kini istrinya juga sama sintingnya. Dengan membawa segelas air hangat dan obat sakit gigi di tangannya, ucapan Leon membuat wanita itu rela berlari dari arah dapur.
"Kamu serius, Leon?"
"Serius, Mama!! Cepet, mobilnya bagus pasti kaya."
"Woah? Beneran? Calon menantu ini mah!!" antusias sekali, giginya seakan sembuh seketika. Berlari keluar dan menyerahkan segelas air dan obat sakit gigi itu kepada sang suami.
"Astafirullah."
Wiradh menggeleng pelan menatap kelakuan istri dan putranya. Meski jujur saja dia juga bersyukur sang putri kini akhirnya pulang.
Sementara di luar sana, Lorenza yang ragu masih saja terus bersembunyi di balik punggung Gavin. Pria itu menghela napas pelan, dia juga takut jika keluarga Lorenza akan menganggapnya macam-macam.
"Ck, jangan begini ... nanti aku dituduh macam-macam, Lorenza," pinta Gavin benar-benar berharap Lorenza akan mengerti.
Dia bisa melakukan segala hal, akan tetapi berhadapan dengan orangtua seorang wanita baru kali ini dia rasakan. Dan sejak dia turun dari mobil, dia merasa seseorang sudah mengawasinya dari balik jendela.
"Ya katanya mau bantuin, udah cepetan!"
Lorenza mendorong punggung Gavin kuat-kuat, heran juga kenapa Gavin jadi cemen begini. Padahal pria ini adalah seseorang yang bisa diandalkan dalam hal apapun, merasa aneh saja jika yang kini terjadi justru melemah seperti ini.
"Aku tidak pernah berjanji membantumu dalam hal ini, hanya sampai mengantarmu pulang ... itu saja."
Gavin masih bertahan, sekuat apapun Lorenza mendorongnya sama sekali tak membuat tubuh tinggi Gavin bergerak.
__ADS_1
"Come on, please!! Tolong aku, Bapak."
"Bapak-bapak, hentikan atau aku benar-benar akan marah, Lorenza."
Mana mungkin Lorenza peduli, beberapa detik lagi bisa dipastikan orang tuanya akan muncul dibalik pintu itu. Suara Leon sudah terdengar dan benar saja dugaan Lorenza jika keberadaan mereka sudah diketahui, saat dia berusaha membuat Gavin maju namun kenapa pria ini kuat sekali.
"Untuk kali ini saja, aku mohon selamatkan aku Gavin Andreatama."
"Jangan harap Lorenza Wiradhyanata!!"
Keduanya saling beradu kekuatan, hingga semua harus benar-benar terlaksana kala pintu terbuka dan sosok mama yang Lorenza ceritakan Gavin lihat dengan jelas.
"LORENZA!! Kenapa berdiri di situ?" teriak sang Mama dan demi apapun semua bulu Lorenza naik semua.
Sepertinya marah sekali, dugaan dia tentang mamanya akan menjadikannya bahan candaan akan salah. Keadaannya kini berbeda, koyo di pipi mamanya adalah alasan kenapa Lorenza yakin nasibnya akan semakin sulit.
"Gavin, jangan buat aku ragu dengan kelelakianmu! Ayo maju," ucap Lorenza berhasil membuat mata Gavin mendelik dan hatinya tersentil seketika.
"What? Ragu?"
"Selamat malam, Tante ... maaf, aku terlambat mengantar Lorenza pulang."
Di belakangnya, Lorenza menunduk dan takut jika sang mama justru mengamuk dan membuatnya malu. Kenapa juga harus sakit gigi malam ini, pikir Lorenza gusar sendiri.
"Aah iya-iya ... masuk dulu, Lorenza merepotkan ya?"
Lorenza membeliak kala sang mama justru menarik tangan Gavin dan memaksanya untuk masuk.
"Kamu dari mana, Nak? Papa khawatir," tutur sang papa mengguncang bahu Lorenza pelan, bagi dia Lorenza juga harta paling berharganya.
"Maaf, Pa ... Lorenza di apartemen Siska kok, dia sakit."
Cari alasan paling aman, karena hanya Siska yang bisa dia seret. Sementara Leon menatap curiga sang kakak dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sejak kehadiran Gavin, dia sudah sangat-sangat curiga pada wanita itu.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Situ yang kenapa? One night stand ya?"
Lorenza mendelik, ingin rasanya dia remmas bibir adiknya yang kurang ajar luar biasa itu. Umur meraka tak berbeda jauh, Leon sudah 23 tahun dan wawasannya tentang hubungan dewasa cukup lihai bahkan lebih bar-bar dari Lorenza.
"Night stand apa, Leon? Papa nggak ngerti," tutur sang papa menatap Leon penuh tanya, jelas saja dia tidak mengerti masalah ini.
"Hm, gimana ya jelasinnya ..."
"Udah, Papa masuk aja yuk, jangan pikirin yang dibilang Leon."
Wanita itu mengajak Wiradh segera masuk sebelum adiknya semakin mengutarakan hal yang tidak berguna nantinya.
"Yee bener kan? Cowoknya cakep, tebakanku nggak mungkin salah." Dia berbisik di telinga sang kakak, dan itu sukses membuat Leon mendapat serangan di kakinya. Sakit sekali, Lorenza memang masih memiliki keahlian lebih dalam bidang ini.
"Gila, diinjek ... ngaku aja apa salahnya sih, udah tua juga wajar aja kali." Bagi seorang Leonardo usia sang kakak sudah sewajarnya menjalani hubungan yang dewasa, sejak dulu dia heran kenapa snag kakak tidak pernah memiliki kekasih.
Pria itu turut bergabung gini, penasaran juga pada sosok pria berpakaian rapih dan sepertinya orang baik-baik itu. Leon duduk di sisi Lorenza dan sengaja merangkul bahu sang kakak sebagai penjelasan pada pria di depannya bahwa jangan coba macam-macam padanya.
"Nak Gavin sudah makan?"
"Sudah, Tante ... saya sudah makan."
Di luar dugaan, Lorenza yang baru duduk luar biasa tenang karena gigi sakit tak membuat mamanya kesurupan reog. Meski tetap saja dia mewanti-wanti akan ada pertanyaan yang tidak terduga nantinya.
"Kenapa nggak dari dulu kamu kenalin ke Mama, Za?"
Senyum itu, Lorenza bergidik melihat kemampuan sang mama yang berubah bagai peri di hadapan Gavin.
"Baru kenal, Ma ... dulu enggak," jawab Lorenza yang entah kenapa jujur sekali.
"Ah begitu? Jadi gimana, Gavin? Kamu siap dalam waktu dekat?" Pertanyaan diluar dugaan dan membuat Lorenza panik seketika.
"Mama ... astaga!!"
To Be Continue.
__ADS_1