Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 73


__ADS_3

"Siapa?" tanya Kanaya mendongak menatap lekat suaminya, wajah Ibra yang berubah setelah menjawab telepon itu membuatnya curiga.


Sedari tadi mereka berbicara banyak hal di tempat tidur, perut Kanaya semanja itu bahkan enggan terlepas dari Ibra walau hanya sebentar.


"Gavin, sebentar ya, Sayang."


Ibra dengan berat hati melepas pelukannya, beranjak dari tempat tidur dan ingin mendengar lebih jelas maksud Gavin. Pria itu nyatanya sudah berada di depan rumahnya, setelah pertemuannya dengan Lorenza, Gavin nampaknya harus mengambil langkah sebelum semua semakin salah.


"Mas mau kemana?" teriak Kanaya, tak biasanya Ibra tega berlalu tanpa pamit padanya seperti itu. Pria itu kembali, dan memasukkan ponselnya ke saku segera.


"Gavin datang, kamu sendiri dulu ya," tutur Ibra lembut dengan merasa bersalah, wajah Kanaya yang semelas itu membuatnya benar-benar tak tega. Tapi, hal yang Gavin sampaikan lebih membuatnya sinting lagi.


"Lama?" tanya Kanaya seakan tak rela jika Ibra terlalu lama, gelengan pelan itu sejenak membuat tenang, namun entah kenapa rasanya tak ikhlas jika Ibra pergi darinya saat ini juga.


"Ehm, entahlah ... Mas nggak bisa janji, jangan ditunggu ya."


Dia tidak merasa sedikitpun keanehan dengan semua ini. Terutama jika Gavin yang datang, sudah tentu memang yang mereka bahas adalah hal penting dan tidak perlu Kanaya turut campur.


"Ya sudah, cepat sana ... Gavin pasti udah lama nunggu," tebak Kanaya asal, karena biasanya Gavin akan menunggu cukup lama lantaran Ibra menunda waktu kala menemuinya.


Ibra tersenyum tipis, dengan wajah yang kini ia perlihatkan sehangat itu. Kanaya begitu memahami dirinya, meski Ibra mengetahui saat ini Kanaya begitu menginginkan dirinya, tapi dia tidak akan memaksa jika ada hal lain yang menjadi tanggung jawab Ibra.

__ADS_1


Dengan langkah panjang dia keluar kamar, memerintahkan Gavin untuk menemuinya di ruang kerja. Pria itu terlihat tenang di hadapan Kanaya, tapi percayalah jantungnya saat ini tidak baik-baik saja sama sekali.


Berjarak beberapa menit setelah Ibra berada di ruangannya, Gavin tiba. Pria itu kehilangan kendali dan semudah itu melampiaskan amarahnya.


BUGH


"Maaf, Gavin."


Ibra susah payah menarik napasnya, pasokan udara di ruangan ini seakan tak cukup untuk membuat saluran pernapasannya lega. Pria itu menatap tajam Gavin yang mengusap sudut bibirnya, berdarah dan Ibra meminta maaf karena itu.


"Wanita itu, kenapa bisa menginjakkan kaki di ruanganku!!!" teriak Ibra marah, matanya memerah dan rasanya ingin dia menghancurkan semua yang ada di sini.


"Maafkan saya, semua di luar kendali ... saya pikir dengan Nyonya yang terbaring di rumah sakit, semua akan baik-baik saja. Ternyata, saya salah."


"Berapa banyak yang Lorenza ketahui, Gavin?"


Entah kenapa, dengan pemberitahun Gavin bahwa Lorenza mengetahui hal itu dari Olivia, darah Ibra seakan tumpah. Dia terdiam, membeku bisu dan berharap semuanya hanya mimpi belaka.


"Hanya itu, rahasia terbesar Anda ... dia mengaku sebagai istri Tuan dihadapan Lorenza."


Penjelasan itu sengaja Gavin ulang, meski sebelumnya telah dia jelaskan pada Ibra. Pria itu memejamkan mata, wajahnya masih memerah dan karena tak ingin menjadikan Gavin sebagai sasaran luapan emosinya, pria itu menghantam meja dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Aaarrrrgggghhhh!!! Lalu aku harus bagaimana? Hah? Katakan, Gavin!!"


Meja kaca itu terbelah dengan satu kali Ibra melampiaskan amarahnya. Andai saja Kanaya mendengar, tentu saja hal yang dia lakukan akan menimbulkan kekacauan.


Dia sefrustasi itu, Ibra belum siap untuk jujur tapi sepertinya keadaan mulai mendesaknya. Perihal Kanaya dia akan selalu takut, terutama saat ini istrinya tengah berada di puncak bahagianya.


"Jangan menyakiti diri sendiri, Tuan ... saya tau ini berat, tapi pilihan Anda hanya dua."


"Apa?" tanya Ibra dengan matanya yang memerah, bukan hanya karena amarah, tapi juga air mata kepiluannya.


"Membiarkan Nona tau dari pihak lain, atau Anda sendiri yang bicara ... saya sudah ingatkan Lorenza untuk menahan diri, tapi saya takut suatu saat terjadi hal yang di luar pengawasan saya seperti hadirnya Olivia hari ini."


Semakin berat saja, Ibra menggigit bibirnya seraya menjambak rambutnya kuat-kuat. Dia bingung, bagaimana dia saat ini bisa menguasai diri.


"Aku takut ... takut, jika dia tidak menerimaku sepenuhnya, Gavin." Ibra bergetar, untuk pertama kalinya Gavin melihat seorang Ibra seakan kehilangan percaya diri dalam hidupnya.


"Kandungan Nona berapa bulan?"


"Pernikahan kami jalan 2 bulan, artinya kandungan Naya 3 bulan, benar begitu bukan?" Dia tidak malu jikapun dianggap buruk dengan pernyataan demikian, Ibra sama sekali tidak malu.


"Hm, jika memungkinkan ... lebih baik nona tau dari Anda sendiri secepatnya, sebelum semua terlambat dan tidak ada kesempatan Anda untuk benar-benar kembali."

__ADS_1


Semuanya berubah, sebelumnya Gavin dan Ibra merasa aman-aman saja pasca Indira terbaring lemah. Namun, kala pemeran utama dari drama sinting yang sudah berkali-kali Ibra lepaskan itu mengecoh rencana, Ibra tak punya pilihan sepertinya.


Tbc


__ADS_2