Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 110


__ADS_3

Meninggalkan Kanaya lagi dan lagi, hanya saja kali ini dia menyempatkan diri untuk pamit. Dengan tujuan berbeda, yang Ibra ingin selesaikan adalah Olivia. Kembali berbohong, Ibra tahu ini salah. Akan tetapi, dia hanya tidak ingin Kanaya mengetahui jika dirinya menemui wanita itu.


"Apa perlu saya temani?" tanya Gavin kala Ibra memutuskan pergi sendiri.


"Tidak perlu, Lorenza butuh kau, Vin."


Gavin mengalihkan pandangan, merasa tengah diejek lantaran dia mengeluhkan bagaimana Lorenza yang enggan dia tinggalkan. Malam ini Ibra memutuskan pergi sendiri karena jika Gavin ada di sisinya, pria itu tak akan bebas melakukan segala sesuatunya.


Pria itu melaju dengan kecepatan tinggi seperti biasa, jalanan seakan miliknya tanpa peduli pengemudi lainnya senam jantung akibat ulahnya.


Wajah setenang itu tapi pikirannya sangat amat kusut. Ibra membuang napas kasar sebelum dia melangkah masuk ke ruangan itu. Memastikan sepanjang lorong itu sepi, entah kenapa dia justru merasa tengah bersiap melakukan kejahatan.


Sejak awal masuk, pandangan Ibra sudah tertuju pada wanita yang kini tengah duduk dengan memasang senyum sumringah kala Ibra menatapnya. Dia senang, ini yang dia mau sejak kemarin.


"Mas," sapa Olivia manja dan wajah yang tidak memperlihatkan jika dirinya salah sama sekali.


Ibra tak berniat menjawab meski hanya sepatah katapun, pria itu hanya melayangkan tatapan tajam pada Olivia. Kemarahannya jelas namun Olivia sebodoh itu mengira jika Ibra sengaja datang untuknya.


"Aku tau kamu akan datang, Mas."


Dia bernapas lega, seakan beban hidupnya hilang seketika. Matanya berbinar, bahagia luar biasa tatkala Ibra semakin mendekat padanya.


"Kau baik-baik saja, Via? Hm?"


Dadanya berdebar, setelah sekian lama Ibra kini bicara dengan jarak yang sedekat itu. Deru napasnya bahkan meghembus wajah mulus Olivia.


"Aku bermimpi?" tanya Olivia menatap lekat Ibra, tangannya yang kini tertusuk jarum infus berusaha menyentuh wajah Ibra yang dia rindukan.

__ADS_1


"Tidak, kau tidak bermimpi."


Aneh sekali, Ibra tak menepis sentuhannya. Batin Olivia semakin menari-nari kala mendengar suara Ibra yang begitu menggoda imannya.


"Benarkah?" tanya Olivia tak melepaskan Ibra sama sekali, bahkan jika perlu dia ingin meraup bibir merah itu segera.


"Hm," sahut Ibra setenang itu, dia menarik sudut bibirnya tipis, tapi Olivia tahu jika pria yang dia anggap suaminya itu tersenyum.


Tangan yang tadinya bertumpu di samping tubuhnya kini bergerak mencengkram bahunya. Cukup kuat namun Ibra tetap menatapnya lekat-lekat, mengusap pundaknya pelan dan membuat Olivia seakan terbuai sentuhan yang sejak lama dia inginkan.


Hingga tangannya itu naik ke wajahnya, menelusuri bibir sensual Olivia hingga wanita itu terpejam dan menikmati setiap sentuhan yang Ibra berikan malam ini.


Dia terbuai, baru disentuh begitu saja Olivia sudah mengeluarkan suara yang biasanya didambakan pasangannya.


"Maas."


"Hhmmpp ... M-mas."


Olivia membuka matanya, sentuhan yang tadinya selembut itu hilang seketika. Tidak ada wajah marah Ibra di sana, hanya wajah datar dengan seringai tipis yang tengah menikmati Olivia yang kesulitan bernapas.


"Sakit?" tanya Ibra mengulas senyum, mencekik leher Olivia dengan begitu santainya, "You're not dreaming, honey," bisiknya di dekat telinga Olivia, memastikan jika memang ini bukan mimpi wanita itu.


Olivia berusaha melepaskan tangan Ibra dari lehernya, mengeluarkan seluruh tenaganya dan mengiba agar Ibra melepaskan dirinya.


"Lep-paskan aku," lirihnya terdengar begitu sulit, Ibra sama sekali tidak peduli, dia bahkan tampak menikmati kala Olivia hampir kehabisan napas.


Wajahnya sudah memerah, kakinya turut beraksi namun percuma saja. Air matanya keluar bersamaan dengan keringat yang kini membasah. Matanya memohon, dan Ibra tak tersentuh sama sekali.

__ADS_1


"Kau berani mengusik Kanaya, dan membuatku buta tentang Mama."


Jangankan melepas, melonggarkannya saja dia enggan. Ibra tengah dikuasai emosi dan tidak peduli yang kini tengah dia siksa adalah seorang wanita. Iblis sepertinya tidak perlu diampuni, melihat Olivia yang begini, demi apapun rasanya tenang sekali.


"Kau yang merubah hidupku, kau hadir dalam pelukan Mama dan membuatku tak punya hak sebagai manusia, Olivia." Suaranya terdengar amat halus tapi menusuk di telinga Olivia.


"Nikmati, bertahun-tahun aku hidup bahkan menarik napaspun sulit ... kau terlalu merdeka sampai Mama lupa jika yang anaknya adalah aku, bukan kau, Olivia Aghita." Semakin mengeraskan cekikannya, rasanya gemas sekali membuat tenggorokan Olivia rusak. Giginya bergemelutuk dan tatapannya kian mematikan, tidak pernah terpikirkan bahwa dia akan kembali pada Olivia untuk melakukan hal sekeji ini.


"Ma-ma ...."


"Dia mamaku, kenapa kau selalu mengadu padanya!!!" bentak Ibra tak kuasa pada akhirnya, pria itu menghempas tubuh Olivia hingga dia terjatuh ke lantai dan begitu kerasnya.


"Aaarrrggghhhh, Sa-saakiit, Mama."


Lagi-lagi, masih mama dan mama. Ibra menghela napas kasar dan kini berjongkok mendekati Olivia yang masih berusaha menarik napasnya. Hampir kehabisan napas dan Ibra belum puas membuatnya menangis malam ini.


"Tutup mulutmu itu, jallang!!"


"Aaarrrgghh, lepaskan aku, Mas." Ibra menarik rambutnya kuat-kuat hingga wanita itu menengadah menatap langit, napasnya belum sebaik itu sementara Ibra mulai kembali membuatnya tersakiti.


"Lepaskan? Bukankah kau menginginkanku sejak lama?" tanya Ibra semakin kuat menarik surai indah Olivia, tangan kanannya kembali menelusuri wajah wanita itu yang kini membasah lantaran deraian air mata.


"Perpisahan, bagaimana jika kita melakukan hal yang berkesan?"


Olivia menggeleng cepat, air matanya kian deras. Ibra bukan Ibra yang dia mau, bukan Ibra yang begini yang dia inginkan. Pria itu menatapnya dengan senyum hangat namun terlihat sebagai ancaman bagi Olivia.


To Be Continue.

__ADS_1


__ADS_2