
Ibra tak pernah main-main dengan ucapannya. Pria itu menjemput istrinya bahkan jauh sebelum jam kerja Kanaya usai. Hingga sudut bibir itu kian tertarik kala wanita cantik dengan balutan blezer biru muda itu menghampirinya dengan langkah tegas.
Kanaya memang berbeda, mata Ibra bahkan bisa menangkap aura sang istri berbeda dari wanita lainnya. Dan sudah tentu di sebelahnya akan ada Lorenza yang selalu menempel bahkan membuat Ibra cemburu sejak melihatnya.
"Mas nunggunya lama? Kok nggak bilang aku?" tanya Kanaya mendongak, tubuh Ibra memang tinggi dibandingkan dengan dirinya. Entahlah, kenapa akhir-akhir ini dia berinteraksi dengan tiang listrik semua.
"Nggak, 45 menit mungkin."
Dirinya berucap santai dan tidak ada emosi sama sekali. Melirik arloji di tangan kirinya kemudian kembali menatap lekat Kanaya. Bahkan ketika sore, Kanaya masih rapi dan Ibra tak melihat tanda-tanda istrinya kelelahan bekerja.
"Maaf ya, itu lama banget, Mas."
45 menit, jika dihabiskan untuk menonton atau kesenangan lainnya akan terasa singkat. Namun, jika dihabiskan untuk menunggu itu tentu akan lama sekali. Kanaya menggigit bibirnya sebagai bentuk penyesalan, baru hari pertama dia membuat Ibra menunggu begitu lama.
"Hahah mungkin Mas yang terlalu bersemangat, sampai lupa kalau aku jemput istri kerja, bukan sekolah," tutur Ibra sembari mengelus puncak kepala istrinya begitu pelan.
Kanaya yang dia perlakukan semanis itu, tapi justru jantung Lorenza yang tidak aman sama sekali. Wanita itu memerah, suara Ibra kenapa semakin membuatnya seakan gila.
Anehnya, Kanaya hanya tersenyum tipis, andai yang mendapat perlakuan semacam itu adalah dia, maka mungkin Lorenza akan jungkir balik saat ini juga.
"Aah Mas Ibra so sweet," serunya tak tahan, bahkan jemarinya tanpa sadar kini mencubit lengan Kanaya karena memang wanita itu santai luar biasa, dia tidak sadar jika suaminya blasteran surga atau bagaimana, pikir Lorenza.
Kanaya menginjak ujung sepatu Lorenza, kebiasaan lama Lorenza tidak berubah. Pantang jika ada pria yang memperlakukan dia manis sedikit saja, wanita itu seakan tak bisa menyembunyikan debar jiwanya.
"Ah ada Lorenza, aku lupa ada dirimu."
What? Ibra bahkan tidak menganggap dirinya ada. Kurang asem sekali, ingin rasanya Lorenza mengubur diri sendiri. Baru kali ini dia mendapati respon laki-laki yang begini setelah dia memuji.
π€π€π€π€
Ekspresi wajahnya berubah total, berdecak sebal dan melepaskan Kanaya dari genggamannya. Kanaya terkekeh, demi apapun ini terasa sangat lucu. Sejak Ibra merespon seakan dia tidak ada Kanaya sudah tak bisa menahan tawanya.
__ADS_1
"Udah sana pulang, nanti hujan ... kamu nggak bawa mobil kan, Za."
Kanaya bicara baik-baik, karena memang biasanya wanita ini kehujanan jika tidak membawa kendaraan sendiri. Efek pilih-pilih driver ketika memesan taksi online. Aneh? Iya, Kanaya bahkan tak habis pikir kenapa anak itu mempersulit hidup.
"Hm, mobilku di servis ... Adikku nabrak pagar tetangga kemarin," ucapnya sedikit sedih, sungguh malang sekali pagar tetangga yang baru dibangun dua hari sebelum ditabrak adiknya itu.
"Ah tapi nggak mau, Nay, mas Ibra anterin aku mau ya? Nggak jauh kok, cuma 7KM dari sini."
"Ya tapi arah kita berlawanan, Lorenza ... kamu kalau mau nebeng mikir dikit astaga," desis Kanaya berusaha agar Ibra tak mendengarnya.
"Bukan tidak mau, Lorenza, tapi aku memikirkan Kanaya ... sementara jarak dari tempat ini ke rumah kami juga hampir sama jauhnya," sesal Ibra merasa tak enak hati. Karena bagaimanapun, Lorenza adalah wanita baik yang berperan penting dalam hidup istrinya.
"Yah Mas kok gitu? Harus adil dong, masa Kanaya doang yang dijemput," celetuknya benar-benar berani, dia tidak takut Ibra mengamuk atau bagaimana? Kanaya saja hati-hati dalam bicara dan dia bisa seenak dengkul minta diantar pulang.
"Ah begini saja, kamu dianter Jackson sama Axel ya? Sejak tadi mereka di sana, jadi tidak perlu menunggu lagi." Ibra menunjuk kedua bodyguard Kanaya yang berada tak jauh dari mereka.
Lagi dan lagi, Kanaya terbahak duluan bahkan dia sampai berjongkok mendengar saran Ibra. Tak bisa dia bayangkan bagaimana perasaan Lorenza saat ini.
"Ih masa sama mereka? Mas Ibra yang bener aja, Nay ... ih malah duduk." Lorenza ketar ketir begitu Ibra memanggil salah satu dari mereka.
"Hahahahah, nggak apa-apa, Za ... dijamin kamu aman."
Kanaya sudah merah, menertawakan sahabatnya yang kini justru susah payah menelan ludah. Gerak langkah Jackson saja sudah membuat dia takut, lantas bagaimana jika harus pulang bersama.
"Aman dengkulmu, jantungku yang gak aman ... sumpah Kanaya serem!!" decit Lorenza pelan, bisa dipastikan sebenarnya Ibra dengar. Namun sengaja pria itu melakukannya, dan memang memerintahkan Jackson tanpa candaan.
"Udah sana pulang, mintain pelan-pelan kalau takut ngebut."
Lorenza takut, bibirnya bahkan pucat namun entah kenapa dia tidak bisa benar-benar menolak karena ini adalah kebaikan Ibra. Menatap Kanaya lesu, dan berharap hidupnya akan selamat sampai tiba di rumah.
"Hati-hati, Lorenza sayang!! Babay!!" seru Kanaya melambaikan tangan, sungguh melihat teman dalam keadaan begitu baginya adalah hiburan.
__ADS_1
Ibra tertawa sumbang, sepertinya cara menghibur Kanaya semudah ini. Hanya tinggal mereka berdua, Ibra menarik pundak istrinya agar semakin dekat. Sengaja dia lakukan kala melihat Gibran keluar sari loby utama.
"Sayang, pulang ya ... cukup kan ketawanya?" tutur Ibra tak melepaskan Kanaya dari tatapannya, wanita itu mengangguk mengerti dan mengikuti langkah Ibra.
Sebegitu baiknya dia memerlakukan Kanaya, Ibra bahkan membukakan pintu untuk wanitanya. Rekan kerja yang mengenal Kanaya jelas saja kaget dengan sosok Ibra. Terlalu tampan, pikir mereka.
Di dalam mobil, Kanaya masih saja tertawa. Dan seperti sebelumnya, Ibra takut mendengar tawa Kanaya yang lebih persis penunggu rumah tua.
"Udah, Nay ... nanti masuk angin," ucap Ibra membuat Kanaya bingung, dari mana hubungannya, pikir wanita itu.
"Hahah lucu, Mas."
Ibra menggeleng pelan, pria itu mulai melaju perlahan meninggalkan tempat itu. Matanya fokus kedepan sembari sesekali masih mencuri pandang pada istrinya lewat ekor mata.
"Naya."
"Iyaa, kenapa, Mas?" Wanita itu menoleh pada lawan bicaranya, belum juga lama tapi Ibra sudah mengajaknya bicara.
"Jangan liat ke luar, suamimu di dalem."
Hanya karena dia melihat keluar, Ibra memintanya mengalihkan pandangan. Lucu sekali bukan, dan itu serius bukan candaan. Nada bicara Ibra benar-benar meminta, dan tangannya sesekali menggenggam tangan Kanaya. Takut sekali istrinya lari padahal tidak mungkin.
"Miss You, Kanaya."
"Nggak ketemu cuma 9 jam, Mas," tutur Kanaya tertawa sumbang, Ibra apa memang begini atau hanya karena di awal saja, batin Kanaya.
"Ya terserah, mau 2 jam 3 jam 4 jam kalau memang rindu mau gimana lagi."
Pria itu berucap santai sembari menatap ke arah istrinya dengan sengaja. Mendapatkan Kanaya seolah mendapatkan bagian hidup yang ia rasa hilang sejal dulu.
π€
__ADS_1
Mas, Love Youπ€£π€
Kalau kalian jadi Lorenza gimana guys?