
Menatap sekeliling kamar itu, aroma khas yang familiar di indera penciuman Kanaya. Wanita itu melangkah untuk menjelajah lebih dalam lagi.
Kamar ini lebih besar daripada kamar mereka sebelumnya, dia heran apa Ibra tidur sembari berguling-guling hingga butuh tempat tidur selebar itu.
Tidak ada yang berkurang, kamar itu masih tetap sama seakan tidak pernah Ibra tinggalkan. Bersih dan begitu rapih, jauh berbeda dengan kamar Kanaya yang terkadang berubah persis kapal pecah.
"Kamu pakai baju Mas dulu, nanti Gavin bawakan yang baru."
Ibra menyerahkan kemeja yang bisa dipastikan membuat Kanaya akan tenggelam. Dan dengan wajah tanpa dosanya itu, Ibra juga menyerahkan celana dalaam pria yang jelas saja membuat Kanaya mengerutkan dahi.
"Apaan pakek dikasih juga beginian." Wajahnya memerah, meski suami istri tetap saja Kanaya malu dengan pemberian Ibra.
"Punya suami nggak masalah, Nay ... Mas gak punya yang lain."
Dia serius, Ibra memberikannya karena takut Kanaya merasa tidak nyaman dengan pakain yang dia kenakan saat ini. Sementara mereka tidak mungkin kembali ke rumah mengingat kehancuran yang Olivia ciptakan.
"Kedodoran," celetuk Kanaya menggigit bibirnya, sungguh dia benar-benar malu saat ini.
"Nggak, Sayang ... nggak bakal kedodoran, percaya sama Mas."
Ibra membeberkan benda keramat itu dan di hadapan Kanaya untuk meyakinkan jika celanaa dalam Ibra tidak sebesar yang dia kira.
"Ini tuh kecil, Nay, sama Mas muat karena ngaret begini."
"Iya-iya udah!! Sini, aku pakek."
Kanaya merampasnya segera, Ibra tengah menguji kualitas celana dalaam, dan terbukti bisa ditarik-tarik meski ukurannya terlihat kecil. Suaminya punya profesi rahasia atau apa, pikir Kanaya heran.
"Sana mandi, kata Gavin ... habis dari pemakaman itu wajib mandi biar kita nggak sakit."
"Mitos dari mana itu?" Kanaya mengerutkan dahi, seorang Ibra dengan kecerdasan di atas rata-rata percaya akan hal semacam itu.
__ADS_1
"Dari papanya Gavin," jawab Ibra singkat, dan dia kali ini bukan bercanda. Ibra seserius itu dan mengungkapkan jika kenyataannya memang tak bisa Kanaya bantah.
Pria itu menarik sudut bibirnya, istrinya terlalu menggemaskan dan semburat merah itu Ibra sadari sejak tadi. Sengaja dia semakin membahasnya padahal sejak pertama dia memberikan itu Kanaya sudah salah tingkah.
"Dia masih malu? Padahal lihat isinya juga sudah ... istriku aneh sekali."
Ibra menggeleng kemudian berlalu keluar kamar, meninggalkan istrinya yang mungkin tengah berendam di dalam sana.
Langkahnya tergerak menuju ruang kerjanya dahulu, namun sebelum tiba hatinya justru tersentuh untuk menghampiri kamar sang mama.
Melangkah pelan dengan hati kecilnya bertanya-tanya, Ibra membuka pintu kamar dengan perasaan tak menentu. Sudah lama dia tidak melangkah ke kamar ini, mungkin 10 tahun sama sekali dia tidak pernah berniat masuk ke kamar Indira.
"Aku masuk, Ma."
Ibra mengutarakan izin meski sang mama tidak akan pernah memberikan jawaban padanya. Menatap sekeliling kamar dengan mata elangnya, seperti biasa kamar itu akan selalu rapi sebagaimana Indira yang selalu memaksa Ibra untuk mengikuti cara hidupnya.
Suasana kamar yang gelap, dengan pencahayaan yang begitu sedikit. Ibra berjalan menuju meja rias Indira, sebanyak itu produk kecantikan yang Indira gunakan demi mempertahankan kecantikannya.
Di sudut meja terdapat figura potret dirinya ketika berumur 5 tahun. Ibra yang lucu, penurut dan mengira semesta akan sebaik itu.
Pria itu tersenyum tipis melihat dirinya di masa lalu, melihat senyum dirinya di sana, Ibra merasa semakin dekat dengan calon bayinya.
Brugh
"Aarggghh, lucu sekali ... Kanaya harus lihat."
Ibra menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, pria itu berdebar dan menganggap ini sebagai hal yang wajib istrinya ketahui.
Pria itu kini menatap langit-langit kamar, setelah sebelumnya dia menginginkan kehancuran Indira, kenapa saat ini dia justru merasa semuanya terasa salah.
-Lentera Mama-
__ADS_1
Ibra bangkit kala menyadari tulisan di sudut foto itu, tulisan tangan yang ia yakini sebagai tulisan Indira. Pria itu menatap nanar keluar jendela, tampaknya berada di dalam sini membuat Ibra semakin kacau saja.
Hendak beranjak, namun dia kembali dibuat tertarik dengan sebuah buku bersampul coklat tua, dengan pena yang masih tersemat di tengah-tengah bukunya.
"Our Journey?"
(Takdir kita)
Ibra mengerutkan dahi, semula dia tertarik pada sampulnya hingga pada akhirnya membuka halaman pertama.
Sudah lama sekali, tulisannya bahkan terlihat hampir luntur. Sang mama mencintai sastra sejak muda, sebenarnya puisi-puisi dan tulisan seperti ini wajar saja dia temui.
-Aku berusaha menjaganya dengan caraku, tapi sepertinya putra kita benar-benar pembangkang, Kak-
Siapa yang Indira maksudkan pembangkang? Sudah tentu dirinya, pikir Ibra tiba-tiba kesal dan enggan membuka lembaran selanjutnya.
"Pembangkang katanya? Cih, dia lupa aku bahkan tidak punya teman demi mengikuti perintah menyebalkannya, Indira ... hidupmu dramatis sekali."
Dia bermonolog, pria itu meletakkan kembali buku itu dan membawa keluar foto masa kecilnya untuk diperlihatkan pada Kanaya segera.
"Kanaya!!"
To Be Continue
Oh iya, author juga mau ngenalin karya othor terdahulu. Khusus buat yang cari hiburan, ini pas, konflik ga berat, banyakan komedi yang dijamin hahah hihi!!
Keluarga Kocak
Ini anaknya juga ga kalah sinting❣️
__ADS_1