Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 65


__ADS_3

Belum terlalu larut, tapi Ibra sudah meminta Kanaya pulang berkali-kali. Pria itu memikirkan banyak hal, mulai dari udara yang semakin dingin dan tatapan beberapa orang tertuju pada istrinya membuat Ibra murka.


"Lima menit lagi boleh ya?"


Pria itu menggeleng cepat, tidak ada penawaran dan dia tidak peduli meski Kanaya merengek. Sudah cukup baik dia memberikan waktu lebih lama untuk istrinya itu, dan Ibra enggan membuatnya terlalu merdeka dan berkuasa dengan mengatasnamakan bayi dalam kandungannya.


"Apa? Mau bilang permintaan dia lagi? Anak bayi mana ada yang ngerti udara malam lebih baik dari pagi."


Wanita itu mencebik, Ibra menyebalkan sekali. Nyatanya resep dari Lorenza tak berguna untuknya, pura-pura ngidam karena suka udara malam tak mempan kali ini.


Pria itu menarik pergelangan tangan Kanaya pelan, jika wanita itu enggan maka Ibra siap jika harus menggendongnya secara paksa.


"Nggak seru banget sih, padahal lagi adem-ademnya."


Ibra bingung, apa segersang itu udara di rumahnya hingga Kanaya seakan baru menemukan udara segae ketika keluar kali ini, pikir Ibra.


Sepanjang perjalanan Kanaya hanya diam, pengaruh kenyang dan kantuk yang ternyata menguasai. Ibra sesekali menggenggam tangannya, Kanaya tak menolak dan hanya menarik sudut bibirnya tipis kala menyadari perlakuan suaminya.


Temaram lampu jalan, hiruk-pikuk dunia malam masih sama. Sesibuk itu bahkan Ibra harus berhati-hati lantaran jalanan bahkan lebih ramai dari siang hari. Sedikit bingung saja, malam ini bukan akhir pekan kenapa seakan satu kota kompak keluar semua.

__ADS_1


Menyusuri perjalanan, dengan alunan musik yang menenangkan. Kanaya pada akhirnya lelap tertidur, secepat itu padahal sebelumnya dia masih membalas senyum Ibra.


Perjalanan sebenarnya tak begitu lama jika Ibra melaju dengan kecepatan biasa. Namun, pria itu memilih hati-hati dan tak ingin membuat Kanaya merasa tak nyaman selama diperjalanan.


"Ck, makanannya lari kemana? Kenapa seringan ini," tutur Ibra kala membopong tubuh istrinya. Pelan-pelan dan tentu saja sangat berhati-hati.


Sebenarnya bukan Kanaya yang terlalu ringan, berat badan wanita itu normal saja, Ibra yang mungkin biasa angkat berat hingga dia beranggapan begitu.


Dalam pelukannya, Kanaya masih tertidur pulas. Sangat berharap jika dia akan ketiduran sampai pagi dan jika perlu bangun kesiangan. Kanaya terkulai lemas seakan tak berdaya begitu Ibra menidurkannya pelan-pelan.


Melepas jaket dan juga kaos kakinya, Ibra melakukannya was-was wanitanya akan sadar tiba-tiba. Dia benar-benar lupa jika Kanaya adalah tipe manusia yang tidur persis mati suri dan tidak akan terbangun jika bukan karena keinginannya sendiri.


"Maafkan aku, Nay ... perkenalan kita terlalu singkat, sampai kamu bahkan tidak mengenalku sedalam itu."


Menatap lekat wajah lelap istrinya, rasa bersalah itu menyeruak di dalam dada. Tidak ada yang salah dengan mereka, yang salah hanya Ibra di masa lalu. Meski dia sudah melakukan hal yang menurutnya benar, akan tetapi belum tentu Kanaya akan mengerti jika dia memberitahukan fakta itu secara bertubi.


Dilema, Ibra bimbang karena jika dia membuka diri, dia takut Kanaya akan meninggalkannya dengan mudah. Terutama dia ketahui, yang menggebu atas pernikahan ini adalah dirinya, bukan Kanaya.


Andai cinta Kanaya belum sedalam cinta Ibra, maka wanita itu takkan berpikir dua kali jika ingin meninggalkannya. Perihal anak, Kanaya bisa saja nekat membunuhnya karena sejak awal Kanaya tidak menerima buah cinta Ibra dalam rahimnya.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana, Kanaya ... apa kamu masih menerimaku setelahnya?"


Bukan tak ingin jujur, tapi demi apapun ketakukan itu masih ada dalam benak Ibra. Dia tidak ingin kehilangan dua nyawa yang kini menjadi jiwanya. Setidaknya tunggu sampai Ibra memastikan Kanaya takkan bisa berbuat macam-macam pada calon bayinya.


"Dia hanya noda di masa lalu, aku bahkan tidak sudi menyentuhnya ... ya, Mama akan memaafkan Papa, iya kan?"


Ibra menyentuh perut sang istri, saat ini mungkin calon bayinya akan mengerti. Pria yang jika siang terlihat tegar dan angkuh, pada nyatanya dia mampu menangis dalam kesendirian.


Berbicara layaknya orang sinting, mungkin langit-langit kamar menatap Ibra sembari berduka. Pria itu tidur dengan wajah mengahadap tepat di depan perut Kanaya, dia meringkuk dan perlahan memejamkan matanya yang terasa kian panas.


Pelukannya semakin erat sebagai bentuk ketakutan dia kehilangan Kanaya. Tidur dengan posisi ini dia merasa lebih aman, entah kenapa Ibra merasa calon anaknya menenangkan dirinya seperti layaknya Kanaya yang tadi khawatir pada Ibra.


"Mamamu cantik, tapi dia galak sekali ... Papa sampai bingung menghadapi marahnya," ucap Ibra lagi-lagi mendaratkan kecupan di perut sang istri, heningnya malam menjadi saksi bagaimana dia merintih kali ini.


Pria itu menghela napas perlahan, berharap hari akan secepat mungkin berlalu dan cinta yang dia impikan akan hadir dalam benar Kanaya seutuhnya. Hanya itu yang Ibra butuhkan, karena dengan kedua hal itu maka dia akan berada di posisi aman untuk saat ini.


"Cepat besar, kamu ... Papa menunggu, see you." Untuk terakhir kalinya, Ibra mengecup sang buah hatinya. Sebelum dia tertidur dan menyambut hari esok yang Gavin perkirakan akan sangat-sangat panjang.


Dan perihal pekerjaan Kanaya, dia akan melakukan cara paling ampuh dan bisa dipastikan istrinya tak bisa menolak lagi. Sejak awal memang dia berharap Kanaya berhenti, wanita itu keras kepala dan bahkan menawar hingga kandungan membesar.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2