
Selesai mandi, Kanaya keluar hanya dengan mengenakan jubah mandi dan handuk kecil membalut rambut basahnya. Menatap gugup Ibra yang sejak tadi duduk di tepi ranjang, sialan kenapa dia tampan sekali, pikir Kanaya kini menggeleng cepat demi menepis pikiran sintingnya.
Pria itu masih fokus dengan benda pipih di tangannya, entah apa yang tengah ia cari hingga sefokus dan setenang itu. Melalui ekor matanya dia sadar jika istrinya telah selesai dan kini jarak mereka hanya beberapa meter saja.
Tanpa niat menggoda, sejak tadi Kanaya hanya berlalu seperlunya. Dan memang kebiasan dia selesai mandi akan menggunakan lotion di kaki jenjang dan tangannya. Jika bertanya alasannya kenapa harus dilakukan sebelum ganti baju, Kanaya tidak bisa menjelaskan karena memang dia suka itu saja.
Menyadari tirai jendela masih terbuka lebar, Ibra segera bertindak cepat dan otaknya spontan mengambil langkah. Padahal, tetangga mana yang akan melihat, walaupun ada kemungkinan hanya security dan bodyguard Kanaya. Itu pun takkan terjadi karena jarak pintu gerbang utama dan kamar mereka jauh, perlu usaha lebih kalaupun punya niat mengintip.
"Mas? Ada apa memangnya?" tanya Kanaya panik, gerak cepat Ibra membuatnya was-was.
"Hm? Tidak ada, cepat pakai bajumu Kanaya."
Dia berucap santai, sembari kemudian kembali duduk di tepi ranjang. Kanaya membuang napas kasar, kenapa harus sepanik itu jika tidak ada yang salah, batin Kanaya entah kenapa kesal saja.
Tidak perlu bertanya, patuhi saja perintahnya maka akan selamat. Ancaman Ibra sebelumnya masih terngiang, bentuk belum marahnya saja mengerikan, lalu bagaomana jika dia benar-benar marah, pikir Kanaya.
Butuh beberapa menit untuk Kanaya selesai, baju tidur dari Lorenza yang sedikit terbuka itu membalut tubuhnya dengan begitu cantik. Bukan lingerie, akan tetapi memang pilihan Lorenza tak pernah salah.
-
.
.
.
"Kanaya," panggil Ibra kemudian, pria itu meletakkan ponselnya di atas nakas. Ketika dia bicara, artinya tidak ada hal yang menggangu fokusnya lagi.
Wanita itu mendekat, perlahan dengan langkah yang sedikit santai dan sama sekali tak berpikir bahwa Ibra menatapnya berbeda. Bagian bahu dan dada yang cukup terbuka, bahkan belahan itu sedikit terlihat jelas saja membuat suaminya terlena.
__ADS_1
"Kamu menggodaku? Hm?"
Ibra bertanya dengan tangannya yang sudah melingkar di pinggang Kanaya. mendongak menatap wajah sang istri sembari mengores senyum tipis di wajahnya. Kanaya hanya menatapnya tanpa menjawab pertanyaanya, pria itu memang terlalu dewasa jadi wajar saja.
"Mas nggak marah, Nay ... Mas hanya berusaha memberikan penjelasan bahwa dalam hidup, tidak selamanya penghinaan bisa kamu maafkan begitu saja, siapapun pelakunya."
Persis seorang ayah yang memberikan pelajaran penting untuk anaknya. Ibra tak mengajari Kanaya untuk berbuat jahat, karena sejak dulu pria ini takkan mengusik jika dia tidak memulai.
Ketika berada di posisi salah, dia bahkan rela menerima setiap pukulan dari Abygail tanpa membalasnya sama sekali. Tapi, apa yang Abygail ungkap dan lakukan pada Kanaya, itu bukan hal seharusnya bisa Kanaya lupakan begitu saja.
"Tidak ada tempat untuk orang yang tega merendahkan wanita dalam hidupnya," ungkap Ibra menekan setiap kalimatnya.
Demi apapun, Ibra selalu menghargai perempuan, terutama yang ada dalam hidupnya. Hingga saat ini dia tak habis pikir kenapa Abygail dan Adrian menganggap Kanaya sehina itu. Padahal, mereka bukan menginginkannya secara sengaja atau Kanaya yang berbuat semurah itu.
"Kamu boleh baik, tapi jangan bodoh ... sejak akad kita sah dan disaksikan banyak pasang mata hari itu, Mas berhak atas kamu. Jika Abygail ingin meminta maaf, harus dengan restuku lebih dulu, Naya."
Mungkin beberapa orang akan mengatakan dia jahat, buruk dan terlalu dalam hal ini. Tapi, perihal hati yang pernah terluka, Ibra tak main-main. Beruntung dia masih memberikan celah walau harus melalui dirinya.
"Paham?" Mata itu menuntut kata iya dan Ibra berharap Kanaya akan benar-benar memahaminya secara nyata, bukan hanya mengangguk mengerti tapi hati berkata lain.
"Iya, Mas."
Meski berat, dia harus mengiyakan. Kanaya perlu mengenali suaminya lebih dalam lagi. Perlahan dia mengerti, sosok hangat dan lembut Ibra bukan berarti tidak tegas. Pria ini bahkan lebih tegas dari yang ia kira sebelumnya.
"Dan satu hal lagi ... Mas paling benci pengkhianatan, sekecil apapun jangan pernah kamu coba, Kanaya." Mata itu menatap Kanaya lekat-lekat, meski bukan sorot amarah, tapi rasanya Kanaya tengah dikuliti.
"Hm, aku tidak akan berkhianat, Mas ... kenapa bisa kamu berpikir aku akan segila itu?" tanya Kanaya bingung, dia merasa Ibra berlebihan jika sampai mengatakan Kanaya berkhianat.
"Oh iya? Beberapa saat lalu kamu berusaha mengangkat telepon Abygail di belakang Mas, lalu tadi pagi kamu masuk ruangan Gibran bukan karena pekerjaan, apa itu tidak termasuk khianat, Nay?"
__ADS_1
DEG
Kanaya terhenyak, pertanyaan kali ini benar-benar membuat mulutnya seakan terkunci. Tapi senyum hangat Ibra sesaat kemudian membuatnya sedikit lebih tenang.
"Tidak perlu setegang itu, Mas anggap kamu belum terbiasa untuk ini ... untuk lain kali jangan ya, Sayang."
Otak Kanaya berpikir keras, darimana Ibra tahu dirinya masuk ruangan Gibran. Apa mungkin salah satu temannya yang berulah? Jika iya, sungguh dia tidak dalam posisi baik-baik saja.
"Maaf, Gibran memanggilku hanya menanyakan bagaiamana kabarku, Mas, tidak lebih."
"Oh iya? Kamu jawab apa?" tanya Ibra menanti jawaban Kanaya dengan amat sabar, pria itu perlahan membuat posisi istrinya kini duduk dipangkuannya.
"Aku jelaskan jika aku baik-baik saja dan berhenti mengusikku karena aku sudah punya suami."
"Bagus," seru Ibra mengecup Kanaya tanpa aba-aba, anggap saja suasana hati Ibra secepat itu berubah.
"Maaf, Mas."
Kanaya belum bisa sejujur itu, jika dia mengatakan pembicaraan dirinya dan Gibran secara detail Kanaya takut Ibra akan tersulut emosi. Karena menghadapi Abygail saja, ponsel barunya itu bahkan jadi korban. Bagaimana jika selebihnya, pikir Kanaya.
Menjadi pasangan tak semudah itu, berusaha memahami watak masing-masing itu keharusan. Kanaya baru mengenal Ibra satu bulan ini, dan itupun sudah terikat dalam sebuah pernikahan.
"Aarrrrggghhh." Terlalu fokus dengan lamunannya, Kanaya terperanjat kala Ibra mengigit dadanya. Sinting memang, serangan mendadak dengan alasan terlalu gemas terkadang membuat Kanaya tersiksa.
"Sakit?" tanya Ibra tanpa dosa, benar-benar seenteng itu dan meminta maafpun dia tidak. Bekas gigitannya terlihat jelas, gigi runcing dan rapi itu terlukis rapi di pundak dada Kanaya.
"Ya sakitlah, pakek nanya," kesal Kanaya dengan wajah cemberutnya, menepuk bibir Ibra spontan, bukan karena tak sopan.
"Awww, pakek bibir Nay balesnya."
__ADS_1
**TBC
Gatau gelap, dah mo malem**.