Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 40


__ADS_3

"Perih?" tanya Kanaya membersihkan luka Ibra pelan-pelan, pertanyaan konyol yang seharusnya bisa Kanaya jawab sendiri.


"Enggak."


Dia berbohong, padahal sejak tadi Ibra berusaha menahan rasa perih itu bahkan menggigit bibir bawahnya sebagai pelampiasan.


"Jangan digigit, nanti semakin sakit," tegur Kanaya menyadari Ibra meringis dan menahan sakit dengan cara yang seperti itu.


"Tapi ini caranya, Kanaya ... Mas harus gigit bibir biar sakitnya ketahan," ucap Ibra menjelaskan pada istrinya yang luar biasa polos itu.


"Tapi bibirnya luka diujung." Kanaya beradu argumen dan menurut dia menggigit bibir adalah cara yang salah.


"Yasudah gigit bibir kamu saja boleh ya?" goda Ibra dengan tatapan super nakalnya, sungguh pria itu kini membuat Kanaya salah tingkah hingga tanpa sadar menekan luka di bagian wajah Ibra kuat-kuat.


"Awww sakit, Nay ... kejamnya ya, Tuhan," keluh Ibra menganga, tak ia duga Kanaya akan memberikan serangan balasan secepat ini, wanita itu lembut sejak tadi namun tiba-tiba menggila hingga membuat napas Ibra tersengal.


"Maaf, nggak sengaja."


Sungguh tidak ada niat untuk menyakiti suaminya, sama sekali tidak. Yang membuat Kanaya melakukan itu tak lepas dari spontanitas akibat mendengar ucapan Ibra yang mengatakan hal itu padanya.


"Hahah, panik banget mukanya ... nggak apa-apa, Mas kurang ajar sepertinya."


Semburat merah itu menghiasi wajah Kanaya, goda berbalut canda yang Ibra lemparkan membuatnya tersenyum simpul.


"Kamu berantem ya, Mas?" tanya Kanaya menatap Ibra dengan tatapan tajamnya, kemeja yang Ibra kenakan sedikit kotor dan Kanaya yakin Ibra terlibat pertengkaran hebat sebelumnya.


Tidak ada jawaban dari suaminya secara jelas, hanya menggeleng pelan sembari menarik sudut bibir. Meski sebenarnya Kanaya bisa menyimpulkan sendiri, noda darah di kemeja biru muda itu masih terlihat nyata walau sudah tidak begitu merah.


"Jangan bohong, Mas nggak suka sama pembohong kan?"


Senyuman tipis mengiringi pertanyaannya, apa yang sebenarnya Ibra sembunyikan, dan jika Kanaya berpikir ini adalah ulah begal, rasanya tidak masuk akal meski kemungkinan terjadi tetap ada.


"Berantem ... dikit, Nay." Pria itu menjawab singkat sembari mengelus pelan wajah istrinya, untuk saat ini dia takkan mungkin memberitahu kejadian sebenarnya, mengingat yang Ibra usahakan adalah ketenangan istrinya.


"Sama siapa? Dikit tapi babak belur begini, kamu bohong banget, Mas."

__ADS_1


"Temen lama, mungkin punya dendam pribadi ... kita nggak tau isi hati orang." Tidak ada pilihan jawaban yang lebih baik untuk Ibra berikan pada Kanaya saat ini. Indira, jujur saja Ibra berpikir lebih baik Kanaya tidak pernah mengetahui keberadaan wanita itu seumur hidupnya.


"Demdam ... apa?" Jelas saja Kanaya bingung, jawaban Ibra sama sekali tak bisa dikatakan sebagai petunjuk jelas.


"Jangan pikirkan, Mas baik-baik saja dan hal semacam ini tidak akan terjadi."


Berharap Kanaya akan benar-benar tenang dan memahami jika Ibra takkan pernah mengalami hal semacam ini lagi. Dia tengah berusaha untuk bisa lepas dari Indira, tanpa rasa berdosa ataupun bersalah dalam hidupnya.


Meski jika dipikir sekilas, untuk menyingkirkan Indira mudah bagi Ibra melakukannya. Akan tetapi amanat Megantara menjadi hal yang tak bisa Ibra hindari semudah itu meski Indira sejahat itu padanya.


"Kamu udah makan malem?" tanya Ibra seakan tak terjadi apa-apa, tubuhnya masih lelah tapi berpura-pura untuk terlihat tegar di hadapan istrinya.


"Belum," jawabnya singkat, tatapannya masih sendu, luka di wajah Ibra membuat hatinya hancur begitu saja.


"Kenapa belum? Jangan bilang karena nunggu," omel Ibra namun tetap begitu lembut pada sang istri, sadar betul Kanaya telat makan pasti karena dia.


"Tapi memang maunya sama-sama, jadi aku nunggu Mas aja."


Memang, selapar apapun dia jika Ibra belum kembali rasanya tak tega meski hanya memasukkan sesuap nasi. Khawatir dalam batinnya adalah alasan Kanaya rela menanti meski untuk waktu yang lama.


Walau sepertinya bibirnya akan perih, tapi Ibra paham istrinya pasti lapar karena jam makan terakhirnya adalah sore tadi.


"Sedikit," jawabnya malu-malu, padahal perut Kanaya sudah sejak beberapa jam lalu berbunyi dan minta segera di isi.


Dan ini adalah saat yang semakin sulit, saat dimana Ibra harus berusaha memperlihatkan jalannya kelihatan baik-baik saja. Meminta istrinya berjalan lebih dulu, dan dengan polosnya Kanaya menuruti kemauan Ibra.


"Ya, Tuhan ... apa mungkin retak ya?" Mendadak Ibra khawatir tentang kakinya, padahal kala memutuskan cara itu Ibra sama sekali tak khawatir akan mengalami hal yang membuat dirinya celaka.


-


.


.


.

__ADS_1


Sudah hampir jam 01 malam, dan keduanya baru berada di kamar tidur. Waktu yang mereka gunakan untuk mengobati luka dan makan larut malam itu cukup lama.


Kanaya masih menunggu suaminya yang kini membersihkan diri, gemericik air terdengar sangat nyata lantaran malam ini suasana begitu tenang.


Rasa kantuk Kanaya memang benar hilang pada akhirnya, dan untuk menghilangkan rasa bosan wanita itu mengecek ponselnya. Betapa terkejutnya Kanaya kala melihat balasan darinya kepada grup chat bersama Siska dan Lorenza.


"Hentikan pembicaraan tak berguna kalian!! Dasar wanita kurang belaiian" - Suami Kanaya.


"Hah? Dia usil banget sih ... Lorenza kesinggung gak ya," desis Kanaya merasa tak enak, padahal memang salah kedua sahabatnya yang dimana mereka sibuk mempertanyakan tanda lahir Ibra.


Hingga beberapa saat kemudian, pria itu selesai dan muncul dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tubuh Ibra begitu sempurna di mata Kanaya, mendadak dia berdesir dan tak bisa berbohong dia mengagumi suaminya itu malam ini.


"Kanaya," panggil Ibra menyadarkan istrinya, pria itu dapat melihat dengan jelas tatapan Kanaya dari pantulan cermin lebar di depannya.


"I-iya, kenapa?"


"Kamu kenapa? Tergoda?" tanya Ibra usil sembari menoleh dan memberikan tatapan messum pada istrinya. Kanaya tertangkap basah, dan meski pada suami sendiri malu luar biasa rasanya.


"Tergoda apanya? Kenapa pertanyaanya be-begitu." Kanaya gugup, rasanya jarak mereka cukup jauh ... kenapa Ibra sadar jika tengah ia perhatikan, pikir Kanaya.


"Kalaupun iya nggak masalah, kan memang punya kamu."


Meski langkah Ibra terlihat sedikit sulit, namun demi apapun Kanaya dibuat takut kala pria itu menghampirinya dan bukannya meraih piyama yang sudah disiapkan, dia justru duduk di sisi Kanaya dengan tangan yang kini meraih pinggung istrinya.


"Tapi sayangnya, badan Mas masih sakit semua ... terutama kaki, kasian kalau Kanaya kerja sendiri malam ini." Tunggu, apa maksud ucapan dan senyuman Ibra. Kanaya pura-pura tak paham dan dia bersembunyi di balik wajah malu luar biasanya itu. Harusnya dia biasa saja dan tidak peduli meski tubuh Ibra seakan menantangnya.


"Apasii, Mas ... udah buruan pakek baju sana, udah malem juga." Kanaya menarik napas pelan, mengalihkan pandangan berusaha menghindari wajah Ibra yang perlahan semakin mendekat dan kini justru meraih tengkuknya. Sesaat bibir itu telah bertaut dan Kanaya sontak memejamkan mata ketika Ibra menyapunya dengan sangat lembut.


"Tarik napas, Kanaya." Pria itu menarik sudut bibir usai melepaskan tautannya, wajah memerah dan mata terpejam Kanaya masih menjadi hal candu bagi Ibra.


"Kita melewatkan banyak malam setelah pernikahan, tapi belum melakukannya sama sekali," sesal Ibra ingin memaki diri sendiri, pasalnya saat dia benar-benar ingin tubuhnya justru sakit begini.


"Maaf, semua salahku," ucap Kanaya merasa bersalah karena memang kala pesta berlangsung tubuhnya tak bisa diajak kerja sama.


TBC

__ADS_1


__ADS_2