
Hanya dentingan sendok. Tidak, lebih tepatnya hanya sendok Gavin yang berdenting di ruang makan. Dia belum menyadari jika Kanaya dan Ibra tengah menjadikan dirinya pusat perhatian.
Kedua insan itu saling menatap dan sama-sama mengerutkan dahi. Pikiran mereka hanya satu, kebenaran tentang Gavin dan Lorenza.
"Ehem!!"
Ibra sengaja memecah suasana, merasa situasi semakin aneh karena biasanya dia tidak pernah menjadikan siapapun sebagai pusat perhatiannya, terkecuali Kanaya.
Dengan mata elangnya, Gavin menatap balik Ibra yang secara sengaja mencari perhatian padanya, pikir Gavin. Pria itu menghentikan makan malamnya, tampak jelas jika suami istri di hadapannya ini tengah menduga hal macam-macam.
"Apa ada yang salah, Nona?"
Pria itu enggan bertanya pada Ibra yang melemparkan tatapan maut padanya. Menyebalkan sekali, rasanya dia sudah berjuang untuk tidak terlihat kalah dan tenggelam. Namun, jika di adu dengan manik tajam Ibra memang dia memang berbeda.
"Ahaha tidak ada ... aku senang makan malamnya bukan hanya berdua."
Kanaya yang mendapat pertanyaan dari Gavin justru bingung sendiri hendak mengatakan apa. Merasa tertangkap basah tengah menelisik Gavin, wanita cantik itu sedikit kikuk.
"Nay?"
Ibra menyentuh lengan istrinya, pernyataan apa tadi? Jiwa Ibra sebagai seorang pria yang selalu ingin diutamakan jelas saja terluka. Kanaya mengatakan hal demikian, artinya dia senang jika Gavin berada di rumah mereka.
"Aduh ... bukan gitu maksudnya, gimana sih."
Sungguh, Kanaya benar-benar lupa siapa suaminya. Wanita itu mengigit bibir bawah dan segera menggenggam jemari pria pencemburu luar biasa itu.
"Ck, menyebalkan sekali ... Gavin, kau bisa jujur padaku kan?"
Kekesalan lantaran Kanaya salah bicara membuatmya kini memulai pembicaraan yang serius. Dalam beberapa keadaan memang Ibra akan menempatkan diri bukan sebatas atasan bagi Gavin.
"Jujur tentang?"
Sebagai pria yang tidak pernah berbohong dalam hidupnya jelas saja Gavin bingung. Memangnya apa yang dia sembunyikan hingga membuat manusia-manusia ini curiga.
"Lorenza ... hubungan kalian yang sebenarnya bagaimana?"
__ADS_1
"Maksudnya hubungan apa, Tuan? Saya tidak mengerti," ucapnya polos sekai, meski sedikit kaku mengingat dia pernah mengatakan hal konyol di lift pada wanita itu.
"Saat ini, aku bicara sebagai walimu, Gavin ... mengingat kau sudah tidak punya Papa lagi sama sepertiku, jadi apapun yang terjadi padamu aku berhak tau."
Menyedihkan sekali, mereka tatap-tatapan tak terkecuali Kanaya. Di posisi yang sama, mereka yatim sejak lama bahkan Kanaya sejak kecil. Suasana jadi sedikit berbeda lantaran Ibra membawa mendinga Papa.
"Ehem, maaf bukan aku ingin mengajak kalian berdua sedih."
Secepat itu Ibra sadar jika dirinya membuat dua hati di dekatnya sedikit tak nyaman. Namun di luar dugaan, yang terjadi justru berbeda dan tidak seperti yang dia khawatirkan.
"Tapi Anda sendiri juga tidak punya Papa," celetuk Gavin dan membuat Ibra tersedak ludah. Dia meminta maaf karena takut membuat mereka sedih, dan Gavin justru mempertegas keadaan tentang Ibra.
"Ya sudah kita senasib," ujar Ibra mengalah, bonus untuk Gavin malam ini karena dia tidak akan marah sedikitpun.
"Tidak, Tuan ... setidaknya saya masih punya Mama." Giginya terlihat begitu rapi dengan senyum lebar di hadapan Ibra dan Kanaya. Tampaknya Kanaya salah paham, selama ini hubungan mereka terkadang lebih manis dari sekadar atasan dan bawahan.
"Ya terserah kau saja! Kenapa jadi fokus bahas kesananya," pungkas Ibra lama-lama kesal juga, dia sudah bingung harus bersikap yang bagaimana agar Gavin tak membuatnya kesal malam ini.
Dia baru sadar jika tengah terjebak tipu muslihat Gavin dan membuat fokusnya hilang begitu saja. Kanaya yang tadinya sedih karena batinnya tersentuh dengan fakta jika mereka sama-sama kehilangan sosok papa dalam hidup mereka, kini emosi Ibra justru membuat perutnya sakit karena tawa yang tertahan.
Hal yang tidak bisa Ibra banggakan layaknya Gavin, sosok mama. Menatap pasrah pria yang sejak dulu menjadi tangan kanannya, Ibra menghela napas perlahan dan dia mengurut dada untuk kesekian kalinya.
"Ah iya, aku lupa ... kenapa aku tidak menghubungi tante Hilmira saja, aku jadi penasaran bagaimana reaksinya ketika tau anaknya mulai macam-macam dengan seorang wanita." Ibra menarik sudut bibir, dia lupa jika masih punya satu senjata ampuh untuk membuat Gavin tunduk.
"Jangan, Tuan!! Kalau sampai Anda benar-benar mengatakan hal semacam itu dia pasti percaya."
Meski kadang dia heran kenapa mamanya justru lebih percaya Ibra. Padahal, Gavin lah putra tunggal Hilmira.
"Maka dari itu jujur padaku ... Lorenza mual-mual, kemungkinan dia hamil! Ulahmu kan?" Frontal sekali, tanpa disaring dan Gavin panik mendengar pertanyaan Ibra.
"Hah? Hamil? Bagaimana bisa?!! Dan juga, apa hubungannya denganku?!"
Sangat wajar jika Gavin bereaksi demikian. Namun, yang menjadi pikirannya adalah pernyataan Ibra terkait hamilnya Lorenza yang seyakin itu.
"Gavin, kau tau kan sejatinya seorang pria dilihat dari apanya?" tanya Ibra sebijak itu layaknya seorang kakak yang meminta adiknya bertindak sebagai lelaki seutuhnya.
__ADS_1
"Tanggung jawabnya."
"Bagus! Ini poinnya ... dan sekarang adalah saatnya, jangan lari dari tanggung jawabmu, Vin ... lagipula umurmu sudah sangat pantas untuk menikah."
Semakin tidak jelas, kenapa sejak kemarin hanya yang begini dia dapati. Apa mungkin karena dia mencoba main-main dengan membuat jantung Lorenza hampir copot sebelumnya.
"Tanggung jawab apa? Memangnya apa yang saya lakukan? Saya sudah menjaganya dengan begitu baik hingga dia kembali ke rumahnya, apa itu kurang?"
Jika perihal Lorenza, yang dimaksudkan tanggung jawab Gavin hanya sebatas itu harusnya. Dan juga candaan apa yang kini dia dengar, Ibra menuduhnya menghamili Lorenza. Padahal, dia bahkan tidak tidur dengan baik demi membuat Lorenza baik-baik saja.
"Kau pura-pura bodoh atau oon? Kau sudah dewasa dan harusnya berpikir semacam itu sudah mampu. Dalam waktu dekat, lamar Lorenza!!
Itu perintah, dan Gavin yang merasa tak salah hanya menganga. Apalagi ini, perintah paling konyol dan sungguh dia tidak bisa membayangkan jika dia akan mendapat perintah semacam ini selama berkerja di bawah naungan Ibra.
"Kau tidak mau?" tanya Ibra kemudian kala Gavin terlihat biasa saja dan menatapnya datar tanpa menganggukkan kepala seperti perintah lainnya.
"Tidak, terima kasih." Gavin menggeleng mantap, ucapannya di lift hanya candaan dan sama sekali Gavin tidak berpikir akan melakukannya secara nyata. Dia hanya tertantang dan gemas dengan tingkah Lorenza pagi tadi, itu saja.
"Ya sudah aku saja yang melamar Lorenza untukmu." Ibra menggebrak meja pelan dan itu pertanda jika keputusannya sudah mantap dan tidak bisa diganggu gugat.
"Hah?!!" Gavin ketar ketir, yang dia makan seakan ingin hilang begitu saja.
"Nay ... katakan pada orangtua Lorenza, besok aku akan datang."
Setelah itu Ibra berlalu, dia tidak menerima protes Gavin dan kini meninggalkan Kanaya dan Gavin yang belum bisa bernapas dengan benar.
"Nona." Tersisa Kanaya, dan Gavin meminta pertolongan dari wanita itu.
"Hahaha aku tidak ikut campur dulu ya, maaf."
Gavin menatap Kanaya putus asa, ingin ia kejar namun alangkah lucunya jika harus meraung dan memaksa masuk ke dalam kamar.
"Aaarrrgggggghhh!! Merepotkan sekali!!" Dalam kekesalannya yang sendiri, Gavin hanya bisa memukul angin sembari membayangkan wajah menyebalkan Lorenza.
Tbc
__ADS_1