
"Bi, Mas Ibra kenapa belum kembali ya? Memang dia biasa begini?"
Di rumah, Kanaya tengah ketar ketir menanti Ibra. Sejak tadi perasaannya tak enak, bahkan susah berkali-kali Kanaya bolak-balik ke halaman depan demi memastikan suaminya sudah pulang atau belum.
"Aduh, saya nggak tau, Non ... baru pertama kerja sama den Ibra, maaf ya."
Kanaya mengangguk mengerti, wanita itu sepertinya memang tidak berbohong. Sulis adalah orang baru yang tidak mengenal Ibra sebelumnya, wanita paruh baya itu Gavin pilih karena di matanya bisa dipercaya.
"Ya sudah, Bi ... makan malemnya ditutup dulu aja ya, sepertinya dia pulang malam."
Wanita itu berucap sopan dan kini berlalu dan memutuskan untuk menunggu Ibra di ruang tamu. Menatap foto pernikahan yang dipajang selebar itu, senyum Kanaya dan Ibra begitu nyata di sana.
"Dia kemana ya sebenarnya."
Dia bermonolog dan mulai menebak kemana sebenarnya Ibra, hendak menghubungi Gavin tapi Kanaya tidak punya nomor teleponnya.
Menunggu adalah jalan paling baik yang bisa Kanaya lakukan saat ini, dan sembari menghabiskan waktu menanti Kanaya kini memilih untuk ikut bergabung dengan grup chat bersama kedua sahabatnya.
"Malam," sapa Kanaya pada mereka yang entah tengah sibuk membicarakan apa hingga emoji tertawa memenuhi kolom chat tersebut.
"Ahai pengantin, suaminya nggak marah istrinya maen hp, Bu?"
Sudah tentu itu Lorenza, selalu saja bagian ledek meledek dia nomor satu, pikir Kanaya.
"Mas Ibra belum pulang, aku kesepian."
"Lah, pergi kemana? Istri bahenol kok dianggurin?" timpal Siska disertai emoji hendak menangis setelahnya.
"Bahenol? Dia kurus, Siska ... beruntung mukanya cakep aja sih."
"Jaga mulutmu, Lorenza," kesal Kanaya, padahal dia merasa bodynya sudah lumayan, entah kenapa Lorenza mengangganya kurus.
"Ups, sorry ... tapi aku ngetik, Nay bukan ngomong."
"Terserah!!" Menyesal rasanya dia bergabung, andai saja dia menggunakan waktunya untuk hal lain, mungkin takkan mendapatkan cacian yang begini.
"Btw besok aku kesana ya? Balikin minyak angin sama Mamas Ibra, boleh ya Nay?" tanya Lorenza penuh permohonan dan demi apapun Kanaya enggan kali ini.
"Ogah!! Modus biar bisa ketemu mas Ibra."
__ADS_1
"Dih, yaudah aku simpen buat kenang-kenangan."
Percaya diri sekali, dan Kanaya jelas saja tak ikhlas bila ada pemberian suaminya untuk wanita lain. Kanaya meminta Lorenza memperlihatkan minyak angin yang Lorenza maksud, karena rasanya tidak mungkin Ibra punya.
"Mana cepet," desak Kanaya, sementara Siska hanya berperan sebagai kompor yang membuat mereka semakin panas.
Lorenza mengirimkan gambar, dan betapa terkejutnya Kanaya bahkan sontak tertawa kala melihat minyak angin yang dimaksud Lorenza sebagai pemberian Ibra.
"Itu punyaku!! Nggak usah dibalikin, Za ... IKHLAS!!"
Siska hanya mengirimkan pesan suara, dan terdengar wanita itu tertawa bahkan sulit bernapas. Malam ini sungguh hiburan baginya, kenapa bisa punya sahabat sinting seperti Lorenza.
Mulai lelah dengan ponselnya, Kanaya kini terlelap dan tak sadar dengan apa yang mereka bicarakan selanjutnya.
-
.
.
.
Pukul 23:40 WIB, malam kian larut dan Ibra baru berhasil kembali dengan selamat. Sempat menghindari kejaran para orang suruhan Indira, Ibra sengaja memilih jalan yang berbeda demi bisa mengecoh mereka.
Pria itu melangkah pelan dengan kaki yang terasa masih sakit, pintu tidak terkunci dan lebih kagetnya lagi kala dia menyadari Kanaya justru tertidur di sofa dengan ponsel yang sudah tergeletak di lantai.
"Kamu nunggu Mas ya, Sayang?"
Menatap istrinya dalam-dalam, Ibra merasa bersalah dan demi apapun batinnya seakan terluka. Pria itu menghela napas pelan, wajah teduh istrinya seakan menjadi penenang dan kini pria menarik sudut bibirnya perlahan.
"Pembicaraannya tidak berguna sama sekali."
Ibra terkekeh kala menyaksikan obrolan mereka di kolom chat, lucu sekali dan menurutnya tidak sopan sekali. Pentingkah bagi mereka menpertanyakan tanda lahir Ibra, sementara tidak dia temukan jawaban Kanaya di sana.
Masih setia memandangi istrinya, seakan lupa jika kakinya terasa sakit dan Ibra kini nekat hendak memindahkan Kanaya ke kamar tidur.
"Aarrgghh, Nay ... kenapa berat sekali," keluh Ibra merasa tak mampu mengangkat tubuh Kanaya yang sebelumnya tak seberat ini.
"Ya, Tuhan, kemana tenagaku."
__ADS_1
Sekuat apapun Ibra berusaha, tetap saja tak bisa. Kakinya lemah dan tubuhnya juga terluka, Kanaya merasakan ada seseorang yang berusaha melakukan sesuatu atas tubuhnya.
"Mas? Baru pu ... Astafirullah!! Ibra!!"
Siapa yang tidak akan kaget melihat seseorang yang pamit pergi dalam keadaan baik dan kembali dengan kondisi wajah babak belur seperti ini.
Kantuk Kanaya hilang seratur persen, pria itu berhasil membuat batinnya terguncang. Kanaya mengelus dada sembari menatap bingung Ibra yang sudah begini.
"Kamu dari mana, Mas? Kenapa bisa ... ya, Tuhan!! Singanya beneran buas?" tanya Kanaya panik dan tidak fokus bahwa serangan singa tidak mungkin berakhir lebam.
"Ppfft ...." Ibra terkekeh, pertanyaan Kanaya menggelitik jiwanya.
Sakit dan semua penderitaan yang diterima tubuhnya seakan hilang, wajahnya kini tersenyum padahal terluka dan ini lebih parah daripada serangan Abygail.
"Mas aku serius, kamu kenapa?"
Tidak habis pikir kenapa suaminya masih bisa tertawa, mata Kanaya kini mengembun dan hatinya kembali terluka melihat Ibra begini.
"Mas baik-baik aja, jangan khawatir ... yang penting Mas pulang dengan selamat sampai di hadapan kamu," tutur Ibra lembut, memberikan ketenangan pada Kanaya dengan menggenggam jemari mungil istrinya yang terasa bergetar.
"Enggak, kamu nggak baik-baik aja, ini pasti sakit ... tunggu di sini," titah Kanaya dan Ibra hanya mengangguk patuh, akan ada seseorang yang merawat lukanya, Ibra bahagia dan luka diterimanya sama sekali tak Ibra sesali.
"Istriku cuma kamu, Kanaya."
Menatap punggung istrinya yang kian mejauh, Ibra berucap dengan perasaan lelahnya. Istri Ibra hanya Kanaya, tiada wanita lain bagi Ibra.
Pria itu memejamkan matanya sejenak, bagaimana Indira memperlakukannya lebih buruk daripada hewan peliharaan. Dipaksa menikahi keponakan kandung Indira yang sama sekali tak Ibra inginkan setelah menyelesaikan pendidikannya adalah awal semakin kacaunya hidup Ibra ketika dewasa.
Menjalani rumah tangga dengan campur tangan Indira dan Ibra sebagai tokoh utamanya. Walau pernikahan yang mereka jalani hanya sebatas nikah dibawah tangan atas permintaan Ibra, namun hingga kata talak Ibra cetuskan berkali-kali Olivia seakan kebal dan tetap menganggap Ibra sebagai suaminya.
"Mas kenapa liatin aku?" tanya Kanaya kala dia kembali dengan kotak P3K untuk mengobati luka-luka suaminya.
"Nggak, cuma seneng aja pulang ada istri."
Kanaya salah tingkah, ungkapan Ibra membuat hatinya terasa hangat. Apalagi ketika jemari Ibra menelusuri wajahnya, seakan hendak mengungkapkan hal yang begitu dalam tersemat dalam batin Ibra.
"Kamu cantik, jangan pernah menangis setelah ini ya," ucap Ibra tiba-tiba, walau sebenarnya sejak pertemuan kedua mereka, Ibra memang selau melarang Kanaya menangis walau hanya sesaat.
"Hm, tapi kamu jangan pulang dalam keadaan begini lagi," pinta Kanaya balik, dia kacau jika Ibra kembali dalam keadaan seperti ini untuk selanjutnya.
__ADS_1
"Janji." Ibra menautkan kelingkingnya di jemari Kanaya, batinnya tersenyum lega setelah berhasil kembali dalam keadaan baik-baik saja walau penuh luka.
TBC