
Derai hujan terdengar samar, hingga tangisan Olivia terdengar amatlah jelas. Wanita itu meraung dan Ibra tidak menutup paksa mulutnya dengan sekuat tenaga.
"Menangislah, Olivia ... selama ini kau terlalu manja karena kebaikanku."
Mata yang kian memerah, dan kulit kepala yang terasa amat tersiksa. Kali pertama Olivia menyadari jika pria yang selalu dia anggap sebagai suami itu tak selembut perkiraan.
Selama ini dia bebas, bahkan di awal pernikahan Olivia akan mengadu pada Indira jika Ibra mengutarakan kata yang dia anggap kasar. Terlalu merdeka dengan perlindungan Indira membuat Olivia tidak sadar diri jika dirinya bukan tokoh utama dalam kehidupan Ibra.
"Ays!! Kau menyakitiku, Olivia," kesal Ibra kala jemarinya di gigit Olivia dengan kuat, Ibra mengibaskan jemarinya karena ini memang terasa cukup sakit.
"Ampuni aku, Mas, tolong," lirih Olivia meminta, dia memohon agar Ibra mau melepaskannya kali ini.
Gigi runcing Olivia menciptakan bekas gigitan di sana, berdarah dan tentu saja itu menjadi alasan marahnya Ibra lagi dan lagi. Wanita itu berhasil lolos dan melepaskan diri dan mencoba bangkit dengan kakinya yang gemetar.
"Kita akhiri sampai di sini, Olivia ... selama kau hidup, duniaku tidak akan baik-baik saja."
Ibra sudah buta, matanya tertutup amarah dan demi apapun dia sudah tak kuasa menahan dirinya. Olivia mundur perlahan dan langkah Ibra masih menuntutnya untuk tetap berada di tempat.
"Mau kemana? Lari?"
__ADS_1
Olivia seakan tak mengenali pria itu, Ibra menarik sudut bibir dan wajahnya kian menyeramkan. Hingga, karena Ibra bergerak lebih cepat darinya dengan mudah pria itu kembali meringkus Olivia dan mengunci tangannya di atas kepala.
Pundaknya terbentur pintu dan cengkraman Ibra kian menyiksa. Deru napas beramora mint itu menyeruak indera penciuman Olivia. Jika biasanya dia selalu menginginkan untuk berada di sisi Ibra, kini wanita itu menyesali setiap inginnya.
"Sadar, Mas ... jangan begini."
Dengan suara yang sudah selemah itu, Olivia masih meminta kesadaran Ibra. Pemilik rahang tegas itu tak sedikitpun mengindahkan keinginan Olivia.
Tidak perlu membunuh, demi membuat dirimu tumbuh.
Ibra memejamkan matanya, bayang-bayang Gavin mengutarakan itu kembali merasuki pikirannya. Sejak dulu Gavin selalu menekankan agar Ibra menjaga kesucian tangannya, sekalipun membunuh Ibra tak perlu ikut berperan secara langsung.
Biarkan mereka mati tanpa perlu mengotori tangan Anda, Tuan.
Olivia menggeleng cepat, seringai Ibra luar biasa menakutkan. Teriakannya tertahan dan hanya isak tangis yang kian nyata, harus dengan cara apa lagi dia memohon agar Ibra melepaskannya.
"Mas ... kali ini, tolong lepaskan aku! Aku tidak akan pernah lagi mengusik Kanaya, Mas."
Dengan menyebutkan nama itu, Olivia berharap Ibra akan luluh. Namun sepertinya dia salah, Ibra sama sekali tak tersentuh dan masih menatap datar dirinya.
__ADS_1
"Kau pikir aku akan percaya dengan janjimu? Kau gila, Olivia!!"
"Pikirkan Mama ... kamu begini, perasaannya bagaimana?" Dia masih menatap Ibra penuh permohonan.
"Berhenti bawa-bawa Mama!! Sudah kukatakan kau tidak berhak selalu berlindung dengan mengatasnamakan Mamaku!!" sentak Ibra kesal tak peduli siapa yang akan mendengar suaranya. Yang ada dalam benaknya hanya kemarahan semata.
"Dia mamaku juga, aku juga berhak atas Mama!!"
Mendengar jawaban Olivia yang selalu saja ada Ibra frustasi luar biasa. Dia tidak bisa membunuh Olivia pada kenyataannya, pisau lipat yang tadinya sudah dia siapkan kini hanya dia genggam kuat-kuat.
"Berhenti mengatakan itu, Olivia!! Kau bukan lagi istriku yang artinya tidak berhak memanggilnya dengan sebutan Mama!!"
Perkara panggilan Ibra masih terus mempermasalahkannya. Dia benar-benar tidak suka dengan Olivia yang masih menempatkan diri sebagai orang yang memiliki ikatan keluarga dengannya.
"Tapi dia memang mamaku, aku putrinya ... aku jelas berhak!!"
Apalagi ini, Ibra terdiam mendengar pengakuan Olivia. Tidak masuk akal, pasti ini hanya akal-akalan wanita itu agar terbebas dari kemarahannya, pikir Ibra berusaha agar tidak terpengaruh.
"Apa? Kau membual lagi? Cari aman, Olivia? Hm?"
__ADS_1
Ibra tak bisa menerima fakta ini, terlalu gila dan rasanya tidak mungkin. Olivia yang dia kenal bahkan lebih muda dari usianya, dan rasanya tidak mungkin jika Indira memiliki anak setelah menikah dengan papanya.
To Be Continue.