
"Sudah diazani, Den?"
Ibra mengangguk, bayi mungil yang kini masih merah itu berada dalam pelukan Ningsih. Dalam keadaan yang begini, kala haru bahagia dan kekhawatiran bersatu dalam dirinya. Ibra belum bisa tersenyum lebar sama sekali, selama istrinya belum bisa memanggil namanya ataupun mengeluhkan rasa sakitnya, demi Tuhan Ibra belum baik-baik saja.
"Tampannya ... nyonya Sofia pasti bahagia," tutur Ningsih dengan senyum hangatnya, bagaimana bayi mungil itu kini kembali terlelap setelah beberapa jam turun ke bumi.
Menjadi seorang insan yang nantinya akan menciptakan kebahagiaan untuk manusia lainnya. Lorenza yang sejak tadi hampir mati penasaran seakan tak melepaskan pandangan dari sosok malaikat kecil tanpa nama itu. Iya, Ibra belum mengutarakan nama putranya.
"Gantian boleh nggak, Bi?" pinta Lorenza ingin juga memeluk putra sahabatnya itu, sempat dibuat gila sebelum anak itu lahir kini dia bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah pemeran utama dalam kericuhan tadi siang.
"Bisa?" tanya Ningsih ragu luar biasa, melihat bagaimana reaksi Lorenza dan Siska ketika menghadapi Kanaya membuatnya tidak yakin sama sekali istri Gavin itu bisa mengendong bayi.
"Bisa ih, kenapa ragu?"
"Hm, tapi ...." Ningsih menatap Ibra sesaat, meminta persetujuan karena takut dia salah langkah.
"Boleh ya, Pak? Bentar aja kok."Dengan wajah paling meyakinkan, Lorenza berharap Ibra akan memberikan kepeecayaan padanya.
"Hm, hati-hati, Lorenza." Meski berat, pada akhirnya Ibra berikan izin padanya, sungguh pria itu khawatir sebenarnya. Lorenza yang heboh kala terkejut dan tidak bisa dikondisikan adalah alasannya.
"Omo ... lucunya, aku mau juga yang bentukannya begini," tutur Lorenza menatap lekat wajah mungilnya, ucapan spontan yang sukses membuat Gavin menatapnya penuh tanya.
"Siska lihat, lucu banget kan hmm."
Sejak tadi Siska sudah tahu jika bayi itu lucu, dia juga paham anak Kanaya luar biasa menggemaskan. Dan yang dia inginkan saat ini adalah bergantian menggendongnya, itu saja.
__ADS_1
"Aku juga mau, Za ... sini buruan."
Sudah sangat sabar Siska menunggu, dan Ibra juga sejak tadi hanya diam memperhatikan Lorenza. Mungkin takut akan membuat putranya menangis, kecupan tiada henti yang benar-benar Siska takutkan akan membuat alergi.
"Bentar, Sis, lima menit lagi aja."
Sejak tadi memang begitu janjinya, lima menit dan hingga saat ini tetap tiada perkembangan apapun. Mereka benar-benar lupa jika ibu dari bayi itu masih lelah luar biasa bahkan belum membuka mata.
"Ck lama, aku juga mau dia lah ... kepalaku masih sakit karena dijambak emaknya." Pendendam memang, Siska bahkan trauma dan tidak berani berada di dekat Kanaya ketika tiba di rumah sakit.
Siska tidak bisa menahan gemasnya, ingin rasanya dia gigit wajah mungil itu. Sungguh menenangkan, baru lahir namun nampak jelas anak itu akan menjadi pribadi yang tenang, sebagaimana ramalan Siska sejak Kanaya mengandung
"Btw jangan lupa, arisanku bulan depan ... 25 juta."
"Dih, enak aja, Kanaya yang lahiran kamu yang panen."
Percakapan mereka sejenak bisa membuat Ibra tersenyum, pria itu menarik sudut bibir sembari menggeleng pelan. Istri Gavin dan Siska berpadu-padu memang persis lenong.
"Maafkan istri saya, Tuan .... saya sudah meminta dia menjaga sikap sebelumnya, sungguh." Sangat menyesal rasanya Gavin, pria itu sudah berusaha sebaik mungkin agar Lorenza tidak secentil itu, nyatanya nasihat Gavin masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
"Tidak masalah, istrimu telah berbuat banyak hari ini, terima kasih, Gavin."
Tak bisa Ibra pungkiri jika Lorenza bereran amat penting dalam proses kelahiran putranya meski sebenrnya hanya membuat suasana semakin tegang saja.
"Oh iya, bagaimana dengan namanya? Apa Anda sudah siapkan, Pak?" tanya Lorenza kini bicara serius pada Ibra, perkara nama Lorenza sudah begitu banyak menyiapkan nama untuk buah hati Kanaya, sayangnya nama itu untuk perempuan.
__ADS_1
"Ada, tapi nanti setelah Kanaya setuju," tutur Ibra baik-baik, dia memang sudah siapkan, akan tetapi dia ingin semua atas izin istrinya lebih dulu.
"Saya mau nyumbang boleh?" Lorenza sedikit ragu sesungguhnya, dia takut Ibra akan menolaknya mentah-mentah sebelum bicara.
"Apa?"
"Sebelumnya saya sudah siapkan banyak sekali nama, tapi sayangnya pas lahir ternyata si jagoan ... Irza aja gimana?" tanya Lorenza usai berpikir plesetan dari nama bayi perempuan sebelumnya agar cocok menjadi bayi laki-laki.
"Artinya apa?"
"Hm singkatan Ibrahim Lorenza," ucapnya malu-malu, Gavin menganga dan Ibra berdecak kesal hingga ingin membuang Lorenza secepatnya.
"Dasar gila, kamu mau diamuk Kanaya?" Siska turut bicara, meski dia paham itu adalah ngidam Lorenza yang menginginkan hal seaneh itu terjadi.
"Yaudah ganti deh, Dewata?"
"Itu nama Papa, Za." Gavin memejamkan mata, malu namun ini adalah salah satu keinginan Lorenza sejak kemarin.
"Zeus aja nggak sih?" Siska turut campur, wanita itu juga tertarik untuk menciptakan sejarah agar diingat Kanaya dalam hidupnya.
"Itu sama saja nama Dewa," kesal Gavin mulai tak tertahankan.
"Kalau Angkara Murka aja gimana?"
"Lorenza, kamu cuci muka sana." Ibra menghela napas kasar, pria itu kemudian mengambil alih bayinya dari pelukan Siska. Rasany Lebih baik dia menjauh lebih dulu dari manusia-manusia sinting itu beberapa langkah.
__ADS_1
"Sayang ... kamu sama Papa dulu ya, welcome my boy." Dia belum bisa menyapa dengan nama, hanya itu saja sapaan Ibra. Sebuah panggilan bertahan sejak kandungan Kanaya masih semuda itu hingga kini dia memeluk erat malaikat yang ia nantikan.
Tbc