Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 62


__ADS_3

Keduanya tersulut emosi, sama-sama meninggi tapi Ibra bukan marah pada istrinya. Pria itu masih menatap lekat istrinya, berharap bibir itu akan segera bicara.


"Kamu benar-benar akan begini, Nay? Masih marah?" tanya Ibra dengan nada yang berbeda dari sebelumnya, pria itu lemah sebelum kata "Iya" dari Kanaya dia dengarkan sendiri.


"Enggak," jawab Kanaya singkat, padat dan terlihat sekali dia malas bicara. Sengaja menghindari Ibra dan memilih menatap pantulan wajah cantiknya di cermin.


"Tatap aku, kamu bohong kan? Kalau nggak marah kamu nggak akan begini." Ibra meraih dagu sang istri agar netra itu dapat ia selami, mencari celah kebohongan dari apa yang Kanaya ucapkan.


"Masih marah?" Lebih lembut, dan ini sangat-sangat lembut, Kanaya tak bisa menolak pesona mata Ibra.


"Sedikit," jawabnya yang kemudian membuat Ibra justru merasa lebih baik.


"Baiklah, sekarang dengarkan aku ... maafkan Mas untuk apa yang kamu lihat dan rasakan hari ini, Mas tetap orang yang sama, Ibra yang kamu kenal dan tidak ada sedikitpun niat untuk melukai kamu dengan menyembunyikan semua ini, Kanaya. Mas cuma butuh waktu, tapi ternyata waktunya datang lebih cepat karna pria itu meninggal di luar dugaan Mas."


Penjelasan panjang lebar Ibra dia dengarkan dengan serius. Niatnya untuk terbuka memang jelas ada, hanya saja perkiraan Ibra salah. Dia tak mengira jika Wedirman akan mati semudah itu di tangan anak buah Gavin.


Secara tidak langsung Ibra menjadi pembunuh, karena pada saat itu dia mengatakan pada mereka untuk bebas melakukan apapun. Bebas dan dia tidak peduli, bayaran sudah jelas mereka dapatkan. Entah bagaimana perlawanan yang Wedirman berikan hingga pria itu tewas begitu saja.


"Kamu tau kematian pak Wedirman?" tanya Kanaya menatap Ibra teliti, anggukan Ibra membuatnya paham kenapa saat itu respon Ibra biasa saja ketika dia bercerita perihal kabar duka di tempat kerjanya.


"Sakit?"

__ADS_1


Ibra menggeleng, sempat ragu hendak mengatakan hal ini pada Kanaya karena takut istrinya akan menilai Ibra macam-macam. Pria itu menarik napas pelan, menunduk sesaat baru kemudian dia kembali bicara.


"Hidup tidak sesederhana itu, Kanaya ... kamu cuma punya dua pilihan, membunuh atau terbunuh. Jangan mencoba membunuh jika kamu tidak siap terbunuh."


Kanaya mengerutkan dahi, bahasa Ibra terlalu tinggi atau dia yang bodoh? Sungguh, dia tidak suka filsafat, jangan minta Kanaya berpikir karena otaknya tidak terlalu peka menganalisa kata-kata setinggi Ibra.


"Gunakan bahasa manusia aja, Mas ... aku nggak paham kalau kamu pakai kiasan begitu." Mau dipaksa berpikir selama apapun Kanaya tetap takkan sanggup.


Pria itu tertawa sumbang, istrinya mengatakan hal lucu sejagat raya yang pernah Ibra dengar. Memang, terkadang sebagian orang tak mengerti ucapan dia yang kerap menjawab dengan bahasa yang demikian.


"Mas tidak suka pengkhianatan, Kanaya ... dan Wedirman melakukannya, mungkin di matanya aku tetap Ibra kecil yang tak bisa berbuat banyak yang mengandalkan punggungnya untuk menggendongku setiap kali papa kerja. Pria itu jahat sekali kan?" Mata Ibra berbeda, dan Kanaya mendadak takut mendengar ucapan suaminya sendiri.


"Dia adik papa, aku menyayanginya sama seperti menyayangi Papa ... Tapi, dia memanfaatkan rasa sayangku dan berkhianat semudah itu. Sampai akhirnya, kematian itu menjemputnya lebih cepat," tutur Ibra dengan wajah datar, tanpa sedikitpun rasa bersalah sementara Kanaya sudah tersedak ludah.


"Kamu membunuhnya?" Mata Kanaya membulat sempurna, wanita itu mundur beberapa langkah dan mulutnya seakan terkunci. Demi apapun saat ini Kanaya merasa sejauh itu dari Ibra.


"Kamu takut, Kanaya?" tanya Ibra menyadari Kanaya sedikit mejauh darinya, gelagat Kanaya dapat dia baca. Dan Ibra sudah menduga Kanaya akan takut dengan pengakuaannya.


"Jawab dulu pertanyaanku."


"Tidak, Nay ... Mas bukan pembunuh, anak buah Gavin yang melakukannya." Sedikit tenang, tapi tetap saja dada Kanaya berdebar tak karuan. Bukan cinta, melainkan dia terkejut bukan main, fakta ini terlalu berat untuk dia ketahui.

__ADS_1


"Atas perintahmu?" tanya Kanaya kemudian, mana mungkin seseorang akan bertindak tanpa perintah, pikir Kanaya.


"Perintah Gavin dong, kan anak buah Gavin bukan anak buah Mas." Jawaban Ibra membuatnya hampir terbahak, meski dia menjawab demikian tetap saja perintah utama atas kehendaknya.


"Ya tapi Gavin juga pasti atas perintah kamu," sergah Kanaya dengan wajah takut yang tak bisa dia sembunyikan. Ibra tak sesederhana itu untuk dipahami, wajar saja pria ini suka memaksa demi mendapatkan segalanya, pikir Kanaya.


"Hahah Gavin bilang tidak sengaja, percayalah ... Mas tidak sejahat itu, Sayang." Ibra hendak meraih tangan Kanaya, dan wanita itu spontan menghindar hingga membuat Ibra menghela napas pasrah.


"Kamu benar-benar takut, Naya? Mas bukan penjahat, sama sekali tidak berpikir bahwa pria itu akan mati beberapa hari setelah disekap." Ibra keceplosan dan ini makin membuat posisinya terlihat gila di mata Kanaya.


"Sekap? Dia menghilang waktu itu karena Mas yang ... ya Tuhan, kalian kenapa sebenarnya."


"Kamu perlu memahami aku, Kanaya ... aku tidak sebaik yang kamu kira, tapi tidak sejahat yang kamu pikirkan."


Ibra mendekati Kanaya dan kini memaksa wanitanya untuk masuk dalam pelukan. Bukan inginnya Wedirman terbunuh, akan tetapi anak buah Gavin terlalu gila dalam mengambil keputusan.


"Jangan pergi setelah ini, Mas hanya punya kamu ... setelah Papa pergi, dunia seburuk itu, Nay." Ibra memeluk erat wanitanya, Kanaya membalas pelukan itu walau perlu waktu untuk memahami kata-kata Ibra.


"Cintai aku, maka hidupmu akan baik-baik saja ... tugasmu cukup mudah, Kanaya."


Tbc

__ADS_1


__ADS_2