Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 144 - Tamat


__ADS_3

Menjalani kehidupan berumah tangga memang bukan hal mudah. Namun, Ibra dan Kanaya berusaha melakukan peran sebaik-baiknya. Semenjak diperistri Ibra, yang Kanaya pahami hanya tentang rasa bersyukur saat ini.


Dalam setiap sujud dan ujung pengaduan pada Tuhannya, doa Kanaya selalu sama. Bahagianya Ibra dan Mikhail akan selalu utama, hidupnya ada dan melekat pada kedua belahan jiwanya saat ini.


Menatap lekat Ibra yang kini tertidur dengan memeluk Mikhail, mana mungkin Ibra rela jika harus tidur di tempat berbeda. Meski sudah disiapkan tempat tidur bayinya sejak beberapa bulan sebelum kelahiran, pada nyatanya Ibra belum memberikan izin untuk putranya jauh walau sedetik saja.


"Kamu capek banget ya?"


Kanaya tersenyum simpul, malam sudah larut tapi dia belum bisa tidur. Tepatnya terbangun beberapa saat lalu, menatap Ibra yang begini hatinya bergetar berkali.


Mata Ibra yang tak tertutup sempurna menjelaskan jika dia kelelahan. Lucu sekali rasanya, Ibra sedikit menganga dan dengan jahilnya jemari Kanaya mencubit bibir tipis Ibra.


"Eeuunggh."


Ibra terganggu rupanya, Kanaya cepat-cepat mengelus kelopak matanya agar kembali terlelap. Dia tengah memperlakukan suami dan putranya sama, sama-sama dianggap bayi.


Sayangnya, kala Ibra mulai tertidur pulas kembali, Mikhail seakan tak terima sang mama lebih peduli pada papanya. Awalnya menangis pelan, kini tangisannya membuat Kanaya kaget sesaat.


Sedikit sulit, menyusui dengan posisi begini rasanya kaku bagi Kanaya karena memang baru pertama kalinya memiliki bayi. Beberapa saran dari Widya dia terapkan dan itu cukup berguna.


"Nay? Mikhail udah lama bangunnya?"


Dengan kesadaran yang belum 100 persen, dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Ibra cepat-cepat duduk dan membantu istrinya, tepatnya duduk saja, karena memang Mikhail sudah minum susu dengan benar.


"Belum, baru kebangun beberapa menit lalu."


Kanaya sama sekali tidak meminta Ibra bangun juga, karena sepanjang hari Ibra berperan lebih banyak untuk segalanya. Mulai dari mandinya Mikhail hingga putranya siap untuk Kanaya susui.


Jika ditanya kenapa Ibra melakukannya sementara dia tidak pernah punya anak sebelumnya, tentu saja berbagai media jadi jawabannya. Tak hanya itu, Ibra kerap belajar kepada ahlinya, ini adalah hal tersembunyi yang tidak Gavin tahu.


"Susah nggak? Masih perih?" tanya Ibra beruntun, dan menatap khawatir istrinya.

__ADS_1


"Nggak, udah mendingan."


Segala sesuatu yang sulit nantinya akan menciptakan kemudahan setelahnya. Rasa sakit yang dilalui sama halnya sebagai nikmat yang Tuhan berikan. Ya, begitulah cara Kanaya bersyukur tentang rasa sakit.


Ibra bertopang dagu, matanya hanya fokus menatap putranya yang tengah menerima asupan terbaik di dunia itu. Senyum tipisnya terbit, ada dua kesenangan yang sekarang ia tatap sekaligus.


"Khail, nggak mau gantian? Papa juga mau, Sayang."


Kanaya merinding mendengar ucapan suaminya, sudah menjadi kebiasaan sebenarnya jika Ibra kerap mengatakan hal random yang asal mau seenak jidat.


"Aarrrggghhh ternyata begini ya rasanya berbagi tapi tidak diutamakan, Papa sedih tau, Khail."


PLAK


"Mas kebiasaan, ngelanturnya mulai ... tidur sana kalau udah ngantuk."


Hanya pelan, tidak begitu kuat. Tamparan sayang yang Kanaya berikan agar Ibra berhenti membuatnya semakin memerah persis kepiting rebus.


Ibra menunduk dan menghirup aroma Mikhail yang secandu itu baginya. Kepala Ibra yang persis di depan dada Kanaya masih berhasil membuat istrinya ketar-ketir.


Suaminya mengecup pipi mungil Mikhail, tapi rasanya seakan tengah turut menikmati aset pentingnya itu. Hingga, matanya benar-benar dibuat membeliak kala Ibra mendaratkan bibir juga di sana.


"Biar adil, cium pipinya cium juga punya Mamanya ... iya kan, Mikhail?" tanya Ibra dan sempat-sempatnya dia kembali menyentuh benda kenyal itu dengan jemarinya.


"Modus banget sih, sengaja kan?"


"Iya lah sengaja, masa nggak sengaja." Ibra mana mau kalah, setiap kesempatan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, tidak ingin dia kehilangan sedikit saja.


"Kamu nggak punya cita-cita tidur sekarang? Matanya udah merah padahal," ujar Kanaya menatap sendu Ibra, dia tidur paling akhir dan biasanya bangun akan selalu di awal.


"Nggak, Kanaya bawel ... tidurin Mas mau?"

__ADS_1


"Dih, tidur sendiri ngapain minta tidurin, tinggal rebahan terus tutup mata aja susah, Mas."


Perdebatan itu akan terus berlangsung hingga baru berakhir ketika Mikhail sudah tertidur pulas. Dan dia tatap Kanaya yang juga mulai menguap sejak tadi, Ibra memaksa istrinya untuk memejamkan mata karena sejak tadi keduanya saling meminta untuk tidur duluan.


"Tidur ya, udah malem, Sayang."


"Mas juga, besok kan harus kerja biar kita tetap kaya."


Sejak kapan istrinya ketularan Lorenza. Ibra tersenyum simpul mendengar candaan Kanaya, istrinya memang kerap mengatakan hal-hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum.


"Hm, Mas kerja memang untuk kalian."


Kanaya bercanda, dia menatap lekat Ibra dan menggeleng pelan lantaran reaksi suaminya yang juatru serius. Meski ada Mikhail di antara mereka, pandangan keduanya masih terkunci dan mengalirkan cinta dari mata indahnya.


"Kanaya, Mas mencintai kamu ... sangat-sangat cinta, Sayang." Ibra berucap tulus, pria itu tersenyum hangat dan matanya berbinar menatap Kanaya.


"Kanaya juga cinta, Mas ... segini," balas Kanaya sembari memperlihatkan ujung kuku kelingkingnya.


"What? Seujung kuku?" Ibra tak terima rasanya, cintanya pada Kanaya bahkan lebih luas dari danau toba, bisa-bisanya Kanaya hanya seujung kuku.


"Iya, tidak akan habis dan akan selalu sama ... aku jatuh cinta setiap detiknya. Semakin bertambah selama aku masih bernapas." Tidak pernah gombal, sekalinya mengutarakan perasaan batin Ibra seakan terguncang.


"Bahagia di ujung masa, temani Mas sampai akhir ya, Sayang."


"Hm, temani sampai akhir."


Malam yang berakhir indah, lebih indah dari seribu bulan lainnya. Kanaya diratukan raja yang hadir dalam hidupnya secara tiba-tiba, cinta dan semua yang belum pernah ia temukan justru ada dalam diri Ibrahim Megantara.


Tuhan menghadirkan dia untukku, di waktu yang tak aku kira dan datang dengan tergesa. Kanaya Alexandra masuk dalam hidupku kala aku menduga dunia sejahat itu, satu impian dalam hidupku ... menjalin bahtera hingga nanti di tempat yang mulia. - Ibrahim Megantara.


Menjalin asmara, hingga nanti sama-sama menuju surganya. Kita bukan manusia baik dan akan berusaha untuk jadi baik, bukan seseorang yang suci ... hanya pendosa yang mencoba memperbaiki diri.

__ADS_1


Tamat


__ADS_2