Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 105


__ADS_3

"Kau yakin?"


Pria itu mengangguk pasti, Ibra menjambak rambutnya kuat-kuat. Pengakuan pria yang hampir menghilangkan nyawanya ini luar biasa mengejutkan seorang Ibra.


Penyesalan, kemarahan dan kehancuran hatinya kini menyatu. Ibra menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, apa yang kini dia lakukan? Indira terbujur kaku setelah beberapa saat sesenang itu dengan kehadirannya.


Atas perintah Olivia, anak buah Pedro bergerak dan mengusik Ibra secara nyata sejak beberapa hari lalu. Pasca Olivia kembali dan membawa kekecewaaan lantaran perlakuan kasar Ibra di kantor, wanita itu nekat melakukan aksinya diam-diam tanpa persetujuan Indira lebih dulu.


Hanya karena uang, uang yang Olivia berikan memang jauh lebih besar daripada nominal yang kerap mereka terima dari Indira. Sebagai manusia normal yang paham dunia hanya tentang uang, jelas saja membuat mereka memilih pihak yang membayar lebih.


"Kenapa kau diam saja jika tau mereka bergerak bukan atas perintah Mama?" tanya Ibra menatap tajam pria itu, rasanya tidak masuk akal jika sampai Indira tidak menyadari kaki tangannya bergerak tanpa perintahnya.


"Bagi kami, siapa berani membayar lebih, itulah tuannya. Kami tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam pekerjaan," jawabnya dengan suara gugup, ancaman Ibra berhasil membuatnya buka mulut.


Ibra memejamkan matanya, dadanya bergemuruh dan hendak bicara pada Indira juga sudah tidak bisa. Pria itu masih banyak pertanyaan pada Indira, jika sudah begini Ibra mana bisa hidup dalam misteri.


Ini bukan kesalahannya, Indira pergi bukan karena dirinya dan sama sekali Ibra tidak bersalah. Pria itu masih terpaku, menatap bingung keadaan sementara Ningsih sibuk sendiri mempersiapkan segalanya seakan bersyukur Indira pergi lebih cepat.


"Kain kaffan, kalian ingin mengubur Mama malam ini juga?" sentak Ibra tak habis pikir, sejak tadi dia memperhatikan bagaimana penjaga rumah justru sibuk mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan Indira.

__ADS_1


Bahkan suami Ningsih sudah membawa ustadz dan security sibuk menghubungi tukang gali kubur untuk besok pagi. Bukannya sedih, mereka seakan antusias menyambut kematian Indira.


"Besok pagi, Tuan ... apa masih ada keluarga yang belum dikabari?" tanya Ningsih sopan, dia melakukan hal sebagaimana mestinya, sementara Ibra justru merasa kepergian Indira adalah sebagian dari kesalahannya.


"Tidak ada, Mama tidak punya keluarga."


Menurut keyakinannya, Indira adik satu-satunya dari Sofia, ibu kandung Ibra. Dan kini kala wanita itu pergi, satu-satunya keluarga Indira adalah Ibra.


"Lalu non Olivia bagaimana?" tanya Ningsih merasa selain Ibra, wanita itu masih memiliki Olivia.


"Dia bukan siapa-siapa, jangan pernah izinkan wanita itu masuk ke rumah ini lagi."


"Baik, Tuan."


Dia masih terdiam, wajah pucat Indira masih ia tatap sejak tadi. Ibra mendekat perlahan, tubuh sang Mama memang terlihat berbeda sejak dia bertemu tiga bulan lalu.


Kurus dan keriputnya lebih terlihat nyata, lingkar mata yang hitam dan pipi tirus itu menjelaskan jika sakitnya tidak main-main.


Selama ini Ibra hanya menerima laporan Gavin terkait perkembangan Indira, sempat dirawat di rumah sakit lantaran obat pencahar atas titah Gavin hingga sakitnya menjalar dan membangkitkan penyakit yang lain membuat Ibra merasa dirinya sejahat itu.

__ADS_1


Permintaannya tentang kepulangan selalu Ibra abaikan dan dia anggap sebagai ancaman belaka. Penjelasan Ningsih semakin membuat dadanya sesak seketika.


"Nyonya bilang dia kerap kali bermimpi tentang Tuan, beberapa malam terakhir Nyonya menunggu di ruang tamu karena yakin Tuan akan datang."


Ningsih tidak berbohong, Indira memang kerap menanti Ibra pulang. Bahkan dia selalu mendongak cepat kala pintu utama dibuka dan wanita itu akan kecewa lantaran yang datang justru Olivia.


Jika perihal sayang, Indira jelas menyayangi Ibra. Ikatan itu tidak bisa berbohong, perannya hampir sama seperti ibu kandung. Menatap nanar wajah itu, Ibra lupa jika ini sudah terlalu larut sementara dia ke sini tanpa sepengetahuan Kanaya.


"Aku pergi! Besok aku kembali untuk pemakaman Mama," tegas Ibra kemudian, Ningsih belum selesai bicara dan dia berlalu begitu saja.


Pria yang tadinya menjadi musuh bebuyutan justru berniat baik untuk mendampinginya kembali karena khawatir teman-temannya yang Olivia bayar mahal masih memburunya.


"Tidak perlu, aku bisa jaga diri."


Tanpa banyak mengutarakan kalimat apapun, Ibra kembali dengan perasaan kacaunya. Dia merasa secara tidak langsung, kedatangannya adalah sebab Indira tewas seketika. Meski keadaannya sudah mengenaskan meski tidak jatuh dari tangga tersebut, Ibra sadar Indira turun adalah demi menyelamatkan dirinya.


To Be Continue.


Ini dah selasa, aku bakal up banyak, votenya yang kenceng dung bestie!! Sekenceng jemariku ngetik dan kepala aing yang sampe berasap😗

__ADS_1


__ADS_2