Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 74


__ADS_3

Setelah semua usai, Gavin memutuskan kembali. Mereka benar-benar lama pada kenyataannya, Kanaya yang Ibra ingatkan jangan menunggu, dia tetap menunggu sampai suaminya selesai.


Melihat keduanya keluar dengan keadaan sama-sama kacau, Kanaya mengerutkan dahi. Luka di sudut bibir Gavin terlihat jelas, sementara rambut Ibra yang acak-acakan dan tangannya terluka sontak menjadi pusat perhatian.


"Kalian kenapa? Apa ada masalah?" tanya Kanaya bagai petir yang berhasil membuat Ibra ketar-ketir. Pria itu mendadak bingung hendak menjawab apa, dia terdiam sementara kini Gavin yang mewakili Ibra.


"Tidak apa-apa, Nona, masalah kecil di kantor ... Anda tidak perlu khawatir," tuturnya sopan, Gavin masih mampu tersenyum meski rasanya sedikit perih.


"Apa benar begitu? Kamu yang pukul dia, Mas?"


Hal yang dia tidak suka dari Ibra, pria itu ringan tangan dan tidak memandang itu siapa. Wajar saja Jackson dan Axel takut setengah mati pada Ibra, Kanaya membatin dalam diamnya.


"Saya yang salah, Nona, jangan salahkan, Tuan."


Dalam keadaan begini, Gavin masih membela Ibra. Padahal, jika dia jujur pria itu bisa saja kenyang makan omelan Kanaya hingga esok hari. Sebagai wanita yang tidak terlalu banyak bicara jika orang lain telah memberikan penjelasan, Kanaya mengizinkan Gavin berlalu setelah pria itu menolak untuk makan malam lebih dulu.


"Kamu kenapa, Mas? Sebesar apa salahnya Gavin sampai bibirnya bisa pecah begitu?" tanya Kanaya menghela napas pasrah, sungguh pola pikir Ibra tak bisa dia pahami sama sekali.


"Dia salah, Nay ... dia lengah, hingga menciptakan celah pencuri masuk ke ruangan kerjaku tanpa izin."


Matanya masih menatap tajam ke arah pintu keluar, mata yang Kanaya takuti itu kembali ia lihat lagi. Ibra terbelenggu kemarahannya, persis kala dia meradang pada Adrian dulu.


"Pencuri?"


"Hm, tidak perlu pikirkan ... Mas luka, tolong obati ya," pintanya kemudian dengan wajah yang sudah berubah selembut itu. Beberapa detik yang lalu dia marah, beberapa saat kemudian Ibra akan kembali semanis itu.

__ADS_1


Kanaya menggeleng, lukanya cukup besar, dan Kanaya yakin yang Ibra hantam adalah benda tajam. Kekhawatiran dalam diri istrinya dapat dia tangkap, entah kenapa Ibra justru menyukai itu. Kalaupun dia harus berdarah lagi dan lagi, selagi Kanaya ada di sisinya sepertinya dia tidak akan keberatan.


Sebagaimana seorang wanita yang mengkhawatirkan prianya, Kanaya begitu hati-hati merawat luka Ibra. Pria itu meringis berkali-kali, padahal Kanaya sudah melakukannya selembut mungkin.


"Andai dia meninggalkanku, apa aku bisa hidup?"


Dia menatap Kanaya terlalu lekat, bahkan rasa sakit itu tak lagi lagi Ibra rasakan.


"Mas udah," ungkap Kanaya menyadarkan Ibra yang sejak tadi hanya terpaku menatapnya.


-


.


.


.


Gavin berkata, wanita takkan semarah itu jika mengetahui pahit dari prianya sendiri. Tapi, dalam keadaan Kanaya yang hamil muda jelas saja Ibra kalut sebelum bibirnya berkata.


"Mas, aku masih nunggu ... tadi Mas mau bilang apa?"


Ibra terhenyak ketika Kanaya kini menagih janjinya, dia kembali terdiam dan bingung hendak menjawab apa. Kanaya bertanya dengan lembut, dia yang sebenarnya mengantuk bahkan rela menunggu Ibra bicara dengan begitu sabar.


"Besok saja boleh nggak?" tawar Ibra mendongak, sedari tadi dia memeluk erat istrinya, tanpa sejenakpun dizinkan untuk menjauh darinya.

__ADS_1


"Sekarang, aku nggak suka Mas ngulur-ngulur ... apa memangnya?" Kanaya kembali bertanya, firasatnya tidak begitu baik sejak kepulangan Gavin sebenarnya.


Ibra melepaskan pelukannya, duduk persis di hadapan Kanaya dan memegang kedua pundak Kanaya sebelum dia mulai bicara.


"Sebelum Mas mengatakan ini, Mas minta kamu janji dulu, Naya."


"Janji apa?"


"Apapun yang kamu dengar setelah ini, tolong jangan pernah tinggalkan aku, Kanaya." Dia memohon untuk ini, tatapannya penuh permohonan dan Kanaya hanya mengangguk tanpa menjawab iya ataupun tidak.


Keduanya sejenak terdiam, bahkan udara di luar juga tampak sunyi. Sepertinya sama-sama tenggelam dalam kekhusyukan atas pengakuan pria ini pada istrinya.


"Mas tau kamu akan marah, dan kamu memang berhak marah ... lampiaskan sesukamu Mas akan terima, Naya," tambah Ibra kemudian, pria itu bergetar bahkan mata yang tadinya menatap Kanaya kini hanya menunduk malu.


"Bicaralah, Mas, apapun aku akan terima." Kanaya tak mengerti kenapa Ibra benar-benar berbeda dari sebelumnya. Kebohongan apalagi yang membuat dia bahkan setakut ini.


"Apapun?" tanya Ibra mengulas senyum, pernyataan Kanaya membuatnya lega meski tetap saja gugupnya melanda.


"Iya, apapun itu."


"Tentang masa lalu Mas, sejak dulu hal ini mengganggu pikiranku ... sebenarnya ini tidak penting, tapi sepertinya dugaanku salah besar." Ibra belum berani menatap Kanaya lagi.


"Masa lalu, maksudnya apa, Mas?"


"Sebelum kita menikah, Mas pernah menikahi wanita pilihan Mama, dan .... maafkan aku, Kanaya." Ibra menghentikan ucapannya, kenapa sesulit ini menjelaskannya, lidahnya terasa kelu dan napasnua bahkan tak bisa teratur.

__ADS_1


"Mas? Kamu bercanda kan?"


To Be Continue.


__ADS_2