
"Selamat pagi mejelang siang, Nona Kanaya."
Pria itu memberikan senyum termanisnya, wajah tegas namun ramah dan senyum hangat yang membuat siapapun akan berpikir pria itu sangatlah baik. Gavin Andreatama, ada gerangan apa berada di sini, pikir Kanaya heran.
"Ehm, pagi kembali ... kau ada urusan apa datang kesini?" tanya Kanaya sedikit gugup, dia masih terkejut dengan hadirnya Gavin di sini.
Rambut tertata rapi dengan kacamata yang bertengger di hidung bangirnya. Tubuh tegap dan pandangan tajam namun bersabahat adalah hal yang menjadi nilai tambahan untuk Gavin.
"Saya ada sedikit pekerjaan, Anda karyawan di sini?" Pertanyaan Gavin terdengar formal namun tetap tak meninggalkan kedekatan antara mereka. Kanaya adalah istri Ibra, yang tentu saja harus dia perlakukan sebaik dia memperlakukan Ibra.
"Iya, saya karyawan di sini sejak lama ... lanjutkan pekerjaanmu, aku harus kembali," tutur Kanaya sopan dengan menampilkan senyum manisnya meski tipis.
Beberapa orang yang lain melihat interaksi mereka, dan sikap Gavin yang sempat menunduk ketika menyapanya membuat Kanaya tak nyaman.Takutnya, berbagai pikiran buruk akan kembali menyerbunya setelah sebelumnya ketahuan keluar dengan cara tak sopan dari ruangan kerja Gibran.
Kembali dia menunduk sebelum Kanaya benar-benar pergi, wanita itu berlalu dengan langkah terburu dan mendengar Gavin memanggilnya sedikit keras.
"Nona."
Kanaya menoleh, sedikit malu karena saat ini bukan hanya mereka berdua. Kenapa juga Gavin harus memanggilnya dengan sebutan itu, pikir Kanaya.
"Hati-hati ... tidak perlu berlari, Nona."
Hanya anggukan, Kanaya tidak menjawab lagi setelah hal itu Gavin katakan. Pria itu memberikan perhatian kecil, karena sepatu yang Kanaya pakai cukup bahaya di mata Gavin. Ibra tidak sadar atau bagaimana, pikirnya.
Membuang pikiran yang terlampau macam-macam, mungkin memang ada pekerjaan yang berkaitan. Kanaya tidak ingin terlalu fokus mencari tahu karena pekerjaannya saja sudah membuat pusing.
"Gimana? Apa yang dia katakan sampai hampir satu jam?" selidik Lorenza kala Kanaya baru saja kembali, wanita itu menghela napas saja belum sempat. Dan Lorenza sibuk mewawancarai Kanaya dengan sedikit mendesak.
"Buruan apa!!"
"Ya sabar, duduk dulu kek."
Kanaya memang harus memiliki stok sabar setelah menikah. Kehamilannya membuat mood terkadang tak tentu dan ditambah sahabatnya ini luar biasa menyebalkan jika sedang kumat.
__ADS_1
"Lorenza kerja, dari tadi kamu nunggu di pintu juga nggak guna." Sandora memang penasaran kenapa Gibran meminta Kanaya untuk ke ruangannya, tapi dia tidak segila Lorenza yang bahkan ikut melalaikan pekerjaan demi menunggu Kanaya keluar.
"Sewot ih, ini tuh penting, Sandora!! Manajer songong itu udah lama nggak sengaja kemari tiba-tiba ajak Naya ke ruangannya, apa nggak aneh? Kalau aku sih curiga," tutur Lorenza masih saja mengandung ujaran kebencian pada Gibran, sampai kapanpun pengkhianat semacam Gibran takkan memiliki tempat untuk dia maafkan.
Mereka mengangguk mengerti, akan tetapi sepertinya Kanaya takkan semudah itu mau mengutarakan semuanya. Ia masih memiliki batasan, kalaupun dia membuka rahasia itu, belum tentu hanya nama Ibra yang buruk, tapi dia juga.
"Pelit banget kebiasaan, Kanaya sekarang main rahasia-rahasiaan, gak seru." Lorenza menyerah, karena sejak tadi Kanaya benar-benar memilih diam dan justru fokus pada pekerjaannya.
-
.
.
.
Siang itu, kala bias mentari menusuk kulit. Di kantor berita yang lebih menggemparkan kini mencuat bahkan membuat Lorenza enggan melanjutkan makannya.
Kematian Wedirman, sebuah hal yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Sosok direktur utama yang ramah luar biasa dan bersahabat pada semua karyawan walaupun berada di posisi paling bawah itu telah tiada.
Lorenza lemas rasanya, wanita itu paling sedih sepertinya. Entah apa yang pernah dia terima dari pria itu hingga membuatnya sedih luar biasa.
"Kamu jangan gitu nangisnya, Za ... malu."
Betapa tidak? Di tempat itu banyak orang dan yang mendengar tangisannya bahkan merasa terganggu. Kanaya sudah melakukan berbagai cara agar Lorenza tak sesedih ini. Namun hasilnya sama saja, nihil.
"Biarin, aku sedih ... Haaa, Zora gimana ya? Pasti sedih banget kan papanya meninggal?"
Sebenarnya Kanaya tak terlalu peduli karena dia tidak mengagumi dua orang itu sama sekali. Seorang Zora, wanita muda yang dijadikan sebagai afirmasi banyak kaum hawa serta Wedirman yang menjadi pria terpuji di berbagai kalangan, dia juga tidak paham kenapa orang sesuka itu pada pria yang hanya suka tersenyum namun sepertinya menggigit.
"Dia baik-baik saja, mereka kaya dan kamu tidak perlu sesedih itu.
Ya, simpel bagi Kanaya. Toh wanita itu memang terkenal dengan hura-hura akan harta dan slogan dalam hidup yang mengatakan uang adalah segalanya.
__ADS_1
"Kamu nggak ada empatinya heran, kita lagi berduka dan kamu nggak sedih sama sekali heran."
Entahlah, dia juga bingung kenapa. Kanaya tidak memaksa, jika dia meneteskan air mata artinya memang tersentuh. Akan tetapi, saat ini batinnya menyedihkan, lantas kenapa dia harus menangis, pikir Kanaya.
Beru diawal kepergian, entah bagaimana besok. Mungkin saja pria itu akan jadi abu dalam kenangan, terlupa dan bahkan sedikitpun takkan diingat lagi.
Kanaya memilih berlalu, kembali ke ruangannya dan memilih sendiri. Dia hanya ingin, di luar sana terlalu bising dan telinganya sedikit sakit.
Wanita itu menghempaskan tubuhnya di kursi kerja kebanggaannya, walau tidak naik jabatan tapi gajinya lumayan bagi Kanaya. Terdiam sesaat, di sini hanya ada dirinya seorang.
Kenaya menunduk seraya menatap nanar perutnya, untuk pertama kalinya dia menyentuh tempat berkembang sang buah cinta milih Ibra di sana dengan perasaan.
Belum lama dia menghabiskan waktu sendiri, Ibra kini menghubunginya. Sudah Kanaya duga pria itu akan menelponnya, padahal pesan singkat Ibra bahkan belum dia baca.
"Hallo, Mas," sapa Kanaya berusaha tak terlihat jika dirinya sebenarnya tidak dalam suasana hati yang amat baik.
"Selamat siang, my princess ... kamu sudah makan?"
Geli sekali, apa itu? Dia memanggil Kanaya dengan panggilan semanis itu. Kanaya hanya menarik sudut bibir namun dia enggan untuk menjawab sama.
"Udah, barusan aku makan siang sama Lorenza."
"Baguslah kalau sudah, oh iya ... pesan Mas kenapa nggak kamu baca? Sengaja ya?"
Hanya pesan singkat ungkapan rasa sayang sebenarnya kalau Kanaya artikan, dia bingung hendak menjawab apa maka dari itu dia memilih untuk tak membacanya.
"Aku baca kok, cuma lupa aja kalau belum bales." Alasan paling berbeda dan itu membuat Ibra meradang, kesal sekali dia, padahal dia menunggu jawaban Kanaya bahkan beberapa menit sekali selalu dia pantai apa pesan itu sudah dibalas atau belum.
"Jawabanmu menyebalkan ... pulang nanti Mas yang jemput ya, jangan kemana-mana," titah Ibra tegas, dan sebagai istri Kanaya hanya mengangguk patuh.
"Naya jawab, kenapa cuma diam?" desak Ibra menanti jawaban Kanaya
"Udah aku jawab, iya, Mas." Dia lupa, padahal sekuat apapun dia mengangguk Ibra takkan mengetahuinya sama sekali.
__ADS_1
To Be Continue
Sore nanti🖤