
Kanaya terdiam usai mendengar kalimat Ibra yang terakhir. Ada gurat kesedihan di sana, wajahnya kini berbeda dan Ibra paham akan perubahan Kanaya.
Pria itu turut duduk dan menelisik wajah Kanaya, mungkin fakta bahwa Ibra sengaja tidak mempertemukan mereka di awal adalah alasan utama Kanaya sesedih itu.
"Nay, maafkan, Mas ... semua terjadi begitu cepat, dan Mas takut pernikahan kita akan kacau jika melibatkan Mama, Sayang." Ibra berucap lembut sekali, dia meminta pengertian Kanaya lagi.
Dia tak sepenuhnya berbohong, melihat Kanaya yang mendengar hal ini saja sudah hancur, lantas bagaimana nanti bila dia mengetahui fakta Ibra yang lain? Sungguh, ketakutan di benak Ibra kian besar saja.
"Ta-tapi Mas kenapa nggak bilang dari awal? Apa aku sehina itu sampai kamu malu untuk bilang sama mama kamu tentang pernikahan kita? Kamu takut penikahan itu kacau jika mama kamu tau alasannya karena terpaksa oleh kehamilanku? Haah?!"
Mata Kanaya kini mengembun, suaranya bahkan bergetar dan demi apapun dia sakit. Kanaya sakit ketika menyadari ada hal paling besar yang Ibra sembunyikan. Salah dia sebenarnya, tidak mencari tahu fakta siapa Ibra di awal, dan kini wanita itu terjebak dengan pria yang justru memiliki rahasia lebih banyak lagi.
"Kanaya, jangan pernah sebut diri kamu hina, Mas menikahimu bukan karena terpaksa. Dan perihal anak kita, memang Mas yang menginginkannya sejak malam dimana kita melakukan hal itu," ungkap Ibra tanpa ragu sama sekali, memang dia yang sengaja kala itu, Ibra tahu resikonya dan sudah menduga Kanaya akan hamil setelahnya.
"Apa? Sengaja? Kamu sengaja?" tanya Kanaya seakan tak percaya, matanya sudah membasah tapi entahlah dengan kalimat yang Ibra ucapkan ini dia semakin kacau rasanya.
"Iya, sengaja dan memang Mas yang mau."
Ibra menatap lekat Kanaya, perihal ini dia benar-benar jujur tanpa sedikitpun kebohongan. Dia menginginkan Kanaya lebih dari sekadar untuk jadi cinta satu malam. Walau bisa dibilang Ibra termasuk badjingan karena memilih untuk merusak Kanaya meski harusnya malam itu dia bisa menjaga dan menolak keinginan Kanaya.
Kala menyadari istrinya masih asli, Ibra yakin Kanaya tidak pernah terjamah laki-laki lain. Dia mencintai Kanaya sejak awal wanita itu mengecup bibirnya, Ibra merasakan getaran yang sama sekali belum pernah ia rasakan sebelumnya, pun dengan wanita yang lain.
__ADS_1
"Kamu kok jahat? Kamu buat aku diposisi sulit karena anak ini, Mas." Ibra mungkin tidak tahu bagaimana cara Kanaya membiasakan diri sebelum dia kembali bertemu dengan pria itu, dikecam ketakutan kala menanti datang bulan yang tak kunjung datang. Bahkan dia pura-pura sakit perut seolah menstruasi demi membuat orang-orang disekitarnya tak berpikir macam-macam.
"Iya, kamu boleh anggap Mas jahat, Kanaya ... Mas hanya punya cara itu untuk bisa bertemu kamu lagi setelah malam itu, karena Mas yakin kamu 100 persen akan pergi dan memilih tidak mau bertemu denganku lagi."
π€π€π€π€π€
Memang, salah satunya adalah itu. Ibra berpikir bagaimana cara bisa membuat Kanaya terikat padanya. Walau sempat putus asa karena hampir tiga minggu dia tak mendapatkan kabar dari Kanaya sama sekali kala itu.
Kanaya tak bisa berkata apa-apa, lidahnya seolah terkunci dan tangis itu tiba-tiba kian menjadi. Merasa Ibra sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan, wanita itu memukul dada Ibra berkali-kali ketika Ibra menariknya kembali dalam pelukan.
"Kamu jahat banget sumpah," ucapnya dengan napas tertahan, Ibra tak peduli apa yang Kanaya ucapkan, sesakit apapun dia akan terima dan tidak menghalangi pukulan Kanaya tepat di dadanya.
"Maaf, Nay ... Mas memang pemaksa," ucapnya kemudian setelah Kanaya memilih menyerah dan tak menolak lagi pelukan Ibra, menyerah karena dia lelah. Walau sebenarnya Kanaya tak seharusnya semarah itu, faktor hormon yang mungkin mempengaruhi dirinya hingga merasa Ibra terlalu jahat padanya.
Terus saja memeluk, hingga deru napas istrinya terdengar teratur. Ibra menyeka keringat Kanaya di keningnya, begitu basah dan dia yakin Kanaya sangat panas.
Niatnya baik, Ibra hendak membuka kancing piyama Kanaya setelah wanita itu ia tidurkan di sisinya. Namun, baru saja terbuka satu kancingnya, Kanaya tersadar dan menahan tangan Ibra.
"Mas mau apa? Aku lelah, jangan macam-macam," tuturnya benar-benar menunjukkan jika dirinya sedang lelah, Kanaya menatap lesu Ibra yang kini menatapnya dengan wajah teduh seakan tiada masalah sejak tadi.
"Nggak, Mas cuma buka kancingnya ... kamu kepanasan kan?" tanya Ibra kemudian tersenyum hangat, Kanaya tak menjawab dia merubah posisinya dan menenggelamkan wajahnya tepat di dada bidang Ibra.
__ADS_1
Semarah-marahnya, dia tidak bisa jauh. Aroma tubuh Ibra seakan menenangkan Kanaya hingga menjadi candu yang membuatnya harus berada di dekat Ibra dalam keadaan apapun.
"Tidurlah, maafkan kesalahan orang-orang yang membuatmu terluka malam ini, Naya." Salam perpisahan malam hari yang Ibra ucapkan dengan disertai kecupan manis di keningnya. Ibra menyayangi wanita ini lebih dari dia menyayangi diri sendiri.
Ibra masih menatap langit-langit kamar, kendati istrinya sudah teramat lelap tapi dia memejamkan mata saja tidak bisa. Malam ini, Ibra melihat istrinya menangis lagi. Menangis seolah tak terima dengan takdir yang memang Ibra paksakan untuk memilikinya.
Ibrahim Megantara, di dunia tidak ada yang tidak bisa dia miliki ketika dia menginginkannya. Seorang pria yang sesulit itu jatuh cinta, bahkan Indira menyiapkan calon istri tak ia lirik sama sekali. Dan kini, hanya kepada sosok Kanaya, wanita muda yang dia kenal secara singkat, Ibra jatuh cinta, jatuh Sejatuh-jatuhnya.
Dia tak peduli bagaimana Kanaya menganggapnya, jahat, pemaksa, atau ego Ibra di luar nalar. Yang jelas jika dia menginginkan apapun itu, maka hal itu hanya miliknya seorang.
"Eeeuunggh," lenguh Kanaya membuyarkan lamunan Ibra, pria itu kemudian menoleh ke sisi istrinya dan memastikan apa ada yang sakit sekita Kanaya melenguh demikian.
"Kenapa? Kamu butuh sesuatu? Atau yang sakit, Nay?" Perhatian Ibra kini ke perut Kanaya, wanita itu menggeleng dan juga tampaknya dia tidak mengalami hal aneh dengan kandungannya.
"Terus kenapa? Katakan dengan jelas ... supaya Mas paham." Ibra menepuk wajah Kanaya pelan, malam-malam buat panik setelah dia menangis jelas saja Ibra kacau.
"Haus," jawab Kanaya masih dengan mata terpejamnya, dia mengantuk luar biasa, tapi memang tenggorokannya sekering itu tiba-tiba.
"Tunggu, Mas ambil dulu." Bersyukur sekali rasanya kala yang Kanaya keluhkan adalah haus, bukan yang lainnya. Kanaya mengangguk dengan keadaan setengah sadarnya, Ibra tertawa sumbang melihat istrinya yang berusaha tak menggubris tapi nyatanya tak bisa lepas.
TBC
__ADS_1