
Pemandangan pagi menjelang sebelumnya memang indah, akan tetapi lebih indah lagi kala Ibra melihat istrinya yang kini tengah menyibukkan diri bersama Sulis menyiapkan sarapan.
Sarapan pagi, Ibra sebenarnya tidak terbiasa. Pria itu hanya makan siang dan mejelang malam saja. Memang sedikit aneh bagi sebagian orang, akan tetapi begitulah Ibra.
"Masak apa?"
Hendak memeluk istrinya dari belakang, tapi Sulis ada di sana. Bukan karena malu, tapi Ibra enggan jika hal semacam itu menjadi konsumsi mata orang lain. Selain itu, jika sudah memeluk Ibra tak yakin hanya sebatas itu, sudah tentu dia akan berbuat lebih dari itu.
"Mas kan bisa lihat sendiri," jawab Kanaya sembari menggeleng pelan, sudah jelas saat ini dia tengah menggoreng telur mata sapi yang sengaja ia masak sepenuh hati untuk Ibra pagi ini.
Dia tidak menyukai roti, Kanaya adalah orang Indonesia asli yang tidak makan jika tidak dengan nasi. Walau sebenarnya kenyang, tapi kenyang yang dia maksudkan berbeda dan Kanaya tidak puas lebih tepatnya.
"Hm, kenapa kamu masak sendiri?" tanya Ibra membelai rambut istrinya yang terasa sedikit lembab, belum sepenuhnya kering karena Kanaya suka rambutnya yang begitu.
"Buat kamu, kata Lorenza kalau udah jadi istri suaminya harus dibiasakan makan masakan istri, walau nggak semuanya."
Penjelasannya mengatasnamakan Lorenza, wanita yang memiliki sejuta fun fact yang wajib diketahui orang disekitarnya. Dan mengenai hal ini, Kanaya belum bisa memasak karena sejak kecil dia tidak terbiasa dan juga Widya tidak mengizinkan dia bersama di dapur karena dianggap semakin mengganggu saja.
"Oh gitu, tapi Mas nggak suka sarapan, Nay."
Mendidih darah Kanaya tiba-tiba, sungguh menghadirkan niat untuk masak di pagi hari adalah hal yang cukup sulit bagi Kanaya, dan kini pria itu justru mengatakan hal yang mengejutkan.
"Kenapa nggak suka? Sarapan wajib, Mas ... nanti otaknya kecil."
Kanaya berucap santai sembari menyajikan telur mata sapi setengah matang yang begitu cantik bahkan tak tega untuk dimakan itu ke piring saji. Dia bukan marah, hanya sekedar mengingatkan dampak apabila melewatkan sarapan, itu saja.
"Kecil? Ilmu dari mana?"
Ibra terkekeh, sebenarnya dia tahu tapi cara Kanaya menyampaikannya justru terdengar lucu. Wanita itu seakan tengah menasihati anak bayi, Ibra duduk mengikuti Kanaya yang juga telah lebih duduk di sampingnya.
"Kamu mana?" tanya Ibra heran, pasalnya Kanaya hanya menyiapkan nasi goreng dengan telur setengah matang itu Ibra, sementara dirinya hanya minum segelas air biasa.
"Nggak, aku mual."
__ADS_1
Memang, dia tak tahan jika harus memaksa diri. Meski terkadang dengan bantuan Ibra mual itu akan berkurang, tapi bukan berarti Kanaya bisa menghilangkan rasa mualnya hanya dengan suapann ibra.
"Coba sedikit aja ya, kamu sendiri yang mengatakan sarapan itu wajib."
Sama-sama mengkhawatirkan tapi tidak sadar akan bagaimana tingkah mereka masing-masing. Kanaya tetap menggeleng meski suapan Ibra sudah beberapa detik berada di depan mulutnya.
"Mas aja, aku kenyang ... kalau mual, semua yang udah aku makan keluar lagi, mubazir," tuturnya dengan senyum hangat berusaha agar Ibra tidak tersinggung.
"Ada yang begitu, tapi nanti makan ya?" Ibra tak mau jika Kanaya bertahan lama dengan prinsipnya itu.
Tersiksa mungkin saja, beberapa kali Ibra kerap meringis melihat istrinya bahkan butuh waktu beberapa menit kala mualnya menyerang.
"Iya, nanti."
Mengangguk seakan manusia paling patuh, padahal dia sendiri merasa tak sanggup membayangkan bagaimana rasa mualnya setelah perut wanita itu terisi.
-
.
.
.
"Tuan muda ingin istirahat malam ini, beliau terluka tadi malam."
Pria berpakaian hitam itu mengatakan apa yang dia ketahui tentang Ibra. Mengingat bagaimana Ibra datang dalam keadaan yang terlihat hancur dan tentu akan berakibar pada aktidivas kedepannya.
"Terluka? Maksud Anda?"
Gavin menegang, pernyataan pria itu membuatnya teeperanjat kaget. Sungguh demi apapun dia tidak mengetahui apapun soal ini, apa mungkin Ibra lupa memberitahunya, pikir Gavin.
"Boleh saya masuk?"
__ADS_1
Tidak mungkin pria itu menjawab tidak, karena posisi gavin cukup tinggi bahkan kuasanya hampir sama. Gavin memiliki kebebasan sebagaimana di tempat tinggalnya sendiri. Namun, dia tidak memiliki mental penjilat dan justru bergantung pada hidup Ibra.
"Silahkan."
Meski nantinya Ibra tak jadi pergi, tapi setidaknya dia mendapat informasi dari pria itu. Sangat tak biasa Ibra menyembunyikan hal-hal semacam ini padanya, dan ketika memasuki rumah yang ia lihat dia baru selesai makan pagi.
"Tumben sekali manusia itu mau makan pagi," batin Gavin seakan tengah menemukan sesuatu yang baru, kebiasaan pria itu seakan berubah sejak menikah, bersyukur sebenarnya karena ini adalah perubahan yang baik.
Melihat kehadiran Gavin, Ibra tak merasa terganggu. Pria itu memang memiliki hal yang harus dibicarakan, akan tetapi sejak tadi malam dia terlau fokus dengan Kanaya hingga lupa bahwa Gavin harusnya dia hubungi tadi malam.
"Apa ini berbahaya?" tanya Gavin pada intinya, Ibra yang begini tak perlu ia tanyakan sebabnya apa. Karena sudah jelas ini adalah ulah Indira Ghandi, Nyonya besar keluarga Megantara yang berkuasa menggantikan Megantara atas hidup Ibra.
"Hm, aku memikirkan Kanaya ... aku bisa jaga diri, Gavin."
Pria itu menggangguk paham, pembicaraan mereka benar-benar serius dan tatapan Gavin sangat memerhatikan dengan jelas setiap tutur kata Ibra dan mencatat semua hal di memorinya baik-baik.
"Apa Nyonya tahu Anda sudah menikah lagi?"
Ibra menggeleng, karena dia tidak punya rencana untuk memberitahukan soal ini pada Indira. Meengatakan berita yang dia anggap baik ini sama halnya dengan bunuh diri, dan Ibra tak mau jika sewaktu-waktu yang akan terkena imbasnya adalah Kanaya.
"Lalu bagaimana dengan Nona?"
Berat, keputusan ini akan menjadi berat bagi Ibra. Dia butih waktu dan tidak bisa mengatakan hal itu sekarang. Takut jika pikiran Kanaya justru terganggu akan hal tak penting dan membhahayakan perkembangan janin diperutnya.
"Soal itu, aku akan mengatasinya ... dan aku minta seseorang untuk mengawasi dan menjaga Kanaya selama aku tidak berada di sisinya, kau paham maksudku bukan?"
Gavin mengangguk patuh, hal itu memang butuh demi mencegah hal-hal yang tidak diingini. Pria itu paham bagaimana harapan Ibra terhadap Kanaya, kehadiran seorang malaikat kecil yang sangat-sangat ia ingini sejak dulu adalah alasan Ibra akan mengutamakan kehidupan Kanaya melebihi dirinya sendiri.
"Kepalaku terasa semakin sakit saja, kenapa wanita itu masih ada ... haruskah aku membunuhnya?" tanya Ibra pada Gavin serius dan pria itu segera menggeleng sebagai pertanda tidak setujunya.
"Tidak perlu menjadi pembunuh demi membuat hidupmu tumbuh, Anda ingat siapa yang pernah mengatakan ini, Tuan?" tanya Gavin kemudian, pria itu kemudian menatap nanar tanpa arah setelah mendengar ucapan Gavin.
"Papa," jawabnya singkat, sebuah kalimat yang selalu Ibra ingat untuk membatasi diri agar tidak melenceng dari norma kemanusiaan. Hak hidup bukan hanya milik pribadi, dan itu adalah salah-satu pesan yang selalu Ibra tanamkan dalam hidupnya.
__ADS_1
TBC