Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 106


__ADS_3

Memecah keheningan malam, Ibra melaju dengan kecepatan yang sama tingginya seperti dia pergi ke sana. Meski tau dia akan tiba begitu larut, Ibra nekat dan lebih baik daripada dia kembali esok hari. Datang hanya untuk menghilangkan nyawa, anggap saja Ibra begitu saat ini.


“Dia masih tidur.”


Ibra menghela napas lega, Kanaya masih begitu lelap dalam kesendiriannya. Pria itu melangkah ragu namun tak seperti biasanya. Dia tidak memiliki keberanian menyentuh Kanaya, kesalahan yang kini menjadi beban di pundaknya menjadi alasan.


Ibra terdiam, dia menatap Kanaya begitu lama, sangat-sangat lama. Kemaharannya pada Indira hanya karena ancaman yang istrinya terima. Tanpa dia mengetahui lebih dulu, bahwa yang seharusnya meregang nyawa adalah Olivia, bukan Indira.


Waktu menunjukkan jam 02 dinihari, pria itu menghubungi Gavin dan berharap pria itu tidak tidur untuk saat ini. Mau tidak mau, hal ini harus Gavin dengar sendiri darinya, bukan dari siapapun.


“Kau tidur?” tanya Ibra basa-basi lebih dulu, sadar sebenarnya jika dia mengganggu.


“Belum … saya tidak bisa tidur,” Jawab Gavin singkat, suaranya tampak sama pusingnya. Baru kali ini Ibra menghubungi Gavin namun seakan tak tega untuk membenani pikiran pria itu lebih banyak lagi.


“Hm … Gavin, Mama meninggal.”


“Benarkah?!” Respon Gavin di luar dugaan, ini bahkan melebihi antusias Ningsih dan beberapa orang di sana. Ibra sadar jika memang sang mama menjadi pusat kebencian beberapa orang dalam hidupnya, namun ketika Indira di posisi ini dan mereka justru antusias, entah kenapa Ibra merasa mereka tega sekali.


“Ck, Mamaku meninggal, dan kau senang? Kau gila, Gavin?” desis Ibra menggeleng pelan, entah mengapa asistennya justru kehilangan hati nurani, pikir Ibra.


“Maaf, saya berlebihan, Tuan … meninggal karena apa? Sakitnya?”


“Bukan,” jawab Ibra menghela napas panjang, mau mengelakpun tetap saja dia mengutuk dirinya sendiri terkait kematian Indira.


“Lalu? Bunuh diri?”

__ADS_1


“Jatuh dari tangga,” jawab Ibra kemudian, pria itu bukannya mengutarakan bela sungkawa tapi justru menghela napas lega.


“Astaga, apa Nyonya juga mengalami gangguan penglihatan? Atau tulangnya benar-benar keropos?”


Pertanyaan Gavin semakin aneh saja, dia benar-benar bertanya karena penasaran, bukan karena merasa kehilangan. Pria itu bahkan tidak menyabarkan Ibra sebagaimana orang berusaha memberikan kekuatan untuk sahabatnya yang ditinggal pergi untuk selamanya.


“Gavin cukup, yang ingin aku sampaikan bukan ini … tapi terkait penyerangan yang dilakukan orang kepercayaan Mama,” ucap Ibra mulai serius, sebelumnya mungkin belum terlalu menjurus dan membuat Ibra sedikit emosi dibuatnya.


“Kenapa memangnya? Bukankah itu sudah jelas perbuatan Nyonya Indira?”


“Sayang sekali tebakanmu kali ini salah, Gavin … Mama tidak mengusikku setelah aku pergi dari rumah itu, tapi Olivia.”


“Menantu kesayangannya itu?” Gavin masih saja memperlihatkan jika dia membenci Indira, sangat-sangat membencinya.


Entah kenapa Gavin menyebalkan sekali malam ini, Ibra sudah mengajaknya serius tapi Gavin justru mengatakan hal yang tidak penting sama sekali. Pria itu hanya ingin semuanya tuntas, baik Olivia dan antek-antek tak bergunanya itu.


“Tenang saja, aku sudah meminta anak buahku meringkus mereka … Anda mau mereka berakhir bagaimana? Penjara atau neraka?” tanya Gavin enteng sekali, sepertinya memang benar Gavin tidak tidur sama sekali, entah siapa yang dia pikirkan hingga selarut ini masih sesegar itu.


“Neraka seperti biasa, penjara terlalu rumit dan menyebalkan Gavin.” Ibra memang tidak suka berusuan dengan aparat apapun bentuknya, dia lebih baik menghabisi tanpa sisa dan berkuasa dengan kekayannya.


“Perihal Lorenza bagaimana? Bukti terlalu kuat dan saksi terlalu banyak,” tutur Gavin berharap Ibra juga memikirkan hal ini, bagaimana Lorenza yang tengah was-was kebebasannya direnggut dan hidup di balik jeruji besi di umur segitu masih menghantui pikiran Gavin.


“Aku yang akan mengambil alih, kau tenang saja.”


Bukan tanpa asalan, Ibra melakukannya lantaran Lorenza melakukan semua itu karena melindungi istrinya. Balas budi dalam kehidupan adalah sebuah keharusan bagi Ibra, dan perbuatan Lorenza adalah hal terdesak yang tidak bisa dihindari sama sekali.

__ADS_1


“Mas,” panggil Kanaya dan membuat Ibra mengakhiri sambungan teleponnya sepihak, pria itu memasukkan ponselnya ke saku dan berbalik kemudian menghampiri istrinya yang kini terbangun.


“Hm? Mas ganggu ya?” tanya Ibra lembut, pria itu kemudian menarik sudut bibir dan Kanaya menatap curiga lebam dan luka di sudut bibir Ibra.


Bertengkar lagi, Ibra melanggar janjinya dan Kanaya menghela napas kecewa. Sepertinya memang Ibra belum sepenuhnya dia kendalikan karena pada faktanya wanita itu masih saja mampu Ibra bohongi.


“Berantem lagi?”


Tidak bisa mengelak, semua terlalu jelas dan tidak akan masuk akal jika dia mengatakan semua yang Kanaya lihat akibat terbentur tembok atau lainnya. Ibra meringis kala Kanaya menyentuh lembut sudut bibirnya, Kanaya menggeleng pelan dan menatap suaminya dengan tatapan tak terbaca itu.


“Kamu menemui Mama ya, Mas?” Pertanyaan itu begitu halus, dan Ibra dibuat jujur dengan kehalusan Kanaya bertanya padanya.


“Hm, maaf … tanpa izin kamu,” ucapnya penuh sesal, memang fakta dia menyesal dan itu tidak bisa dia tepis.


“Sudah selarut ini, kamu nggak tidur berarti dari tadi?”


“Enggak, Nay.” Ibra belum berani menjelaskan semua yang terjadi, walau tidak ada yang perlu dia tutupi karena besok pagi Kanaya harus tahu juga perihal pemakaman Indira.


“Besok, ikut Mas pulang ya? Kita ketemu Mama … kamu udah kuat kan?” tanya Ibra meneyentuh pelan wajah mulus Kanaya, wanita itu mendongak mendengar ucapan Ibra saat ini.


“Ketemu? Kamu bilang Mama nggak bakal suka aku, Mas?” Perasaan senang dan sedih tiba-tiba saja menyeruak dalam batinnya.


“Suka, Sayang … Mama akan suka kamu, pasti.” Entah apa yang membuat Ibra justru meyakinkan Kanaya begini, Mama yang bagaimana yang akan menyukai istrinya? Pria itu memejamkan mata sembari menarik istrinya dalam pelukan.


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2