
Kehidupan memang persis roda yang berputar, yang awalnya terlihat baik tak selamanya selalu baik. Begitulah kini yang terjadi pada pasangan yang juga baru menikah beberapa waktu lalu.
PRANK
“Kamu kapan cari kerjanya? Sampai kapan kamu begini terus, Mas?!!”
Pintu kamar terbuka dan mereka cekcok di dalam sana. Kepala Widya semakin sakit saja, entah mengapa semua hal seburuk itu harus terjadi pada Khaira, putri tirinya. Dalam keadaan hamil muda bebannya justru semakin mengada-ngada.
Gibran yang tidak memiliki pekerjaan dan selalu pulang malam dengan alasan yang sama, cari kerja. Entah kerja apa yang dia maksud hingga harus dicari malam hari. Keberadaan Ibra membuat Gibran benar-benar membuatnya pusing kepala. Berhasil merenggut Kanaya dan juga membuat perhatian Mahatma dan Abygail justru terfokus padanya.
“Khaira!! Bisakah pagi ini kamu jangan banyak bicara dulu? Mas pusing!!”
Pagi ini suasana rumah dihangatkan dengan amarah keduanya yang sama-sama memanas. Baik Gibran maupun Khaira sama saja. Keduanya memang pasangan abadi yang patut mendapat awards pasangan paling sinting se-kecamatan.
“Pusing kamu bilang? Eh Mas!! Aku begini juga demi kita, aku hamil loh … dan kamu pikir anak kita lahir nanti nggak butuh biaya?”
Gertakan semacam itu masih saja terdengar, rasanya tiada hari tanpa pertengkaran. Abygail hanya menghela napas kasar seraya menikmati selembar roti tawar dengan selai strawberry itu. Sepertinya baik Gibran maupun Khaira tak peduli tempat dan menganggap penghuni rumah itu sebagai patung belaka.
BRAK
Mendengar adiknya tak henti bertengkar, pria itu naik pitam. Meski Khaira bukan adik kandung, sama sekali Abygail tidak membedakannya dengan Kanaya. Dan prilaku Gibran saat ini sama tidak dapat dia biarkan berlarut-larut.
Abygail memukul meja dan menghampiri kamar mereka berdua, sekeras itu teriakan Khaira hingga terdengar begitu menggema. Dengan mata tajam penuh kemarahan dia mendorong pintu kamar yang memang sedikit terbuka itu hingga membuat Gibran terperanjat kaget dan mundur beberapa langkah.
“Kalian tidak malu?”
Abygail menghela napas kasar, pakaian Gibran acak-acakan begitupun dengan Khaira. Nampaknya mereka bukan hanya adu mulut tapi juga adu otot, meski hal ini terdengar biasa namun lama-lama Abygail jelas saja murka.
“Gibran!! Kau tau istrimu tengah hamil? Matamu tidak buta kan?!!” gertak Abygail mengepalkan tangannya, dimana letak hati Gibran hingga tega membuat istrinya sedemikian rupa.
__ADS_1
“Dan kamu, Khaira!! Bisakah berhenti membahas hal yang itu-itu saja? Selama ini juga kamu hidup dengan uang papa kan?!!”
Di mata Abygail, tidak ada yang benar. Keduanya sama saja, baik Gibran maupun adiknya sama-sama tidak waras. Kelembutan yang Gibran janjikan nyatanya palsu, tidak ada dia melihat kelembutan dari pria ini sekarang.
“Bersikaplah dewasa, Gibran … setidaknya jangan main tangan,” tutur Abygail pasrah, dia tidak bisa menyalahkan Gibran karena memang mulut Khaira sepedas itu.
“Maaf, Mas, tapi aku minta jangan ikut campur rumah tangga kami … Mas tidak tau bagaimana di posisiku.”
Mendadak menjual kesedihan seakan manusia paling tersakiti, jelas saja dia masih menyalahkan Ibra sebagai dalang atas kehancurannya. Sempat meminta pengertian pada Abygail bahwa memang dirinya berada di posisi sulit, Ibra benar-benar membuatnya lumpuh secara finansial.
“Jangan ikut campur katamu? Hah?”
Abygail maju beberapa langkah, Gibran yang paham jika kakak iparnya marah bisa membuat tulang patah segera mundur sebelum menjadi sasaran bogem mentah Abygail.
“Dengan kalian yang selalu meributkan hal yang sama setiap hari dan membuat jantung Mama makin tidak baik-baik saja, kau minta aku jangan ikut campur? Sehat kau, Gibran?”
Tak memiliki jawaban, Gibran hanya tertunduk malu dan merasa terpojok lantaran sepertinya Abygail justru berada di pihak Khaira, wanita yang selalu merendahkan dia saat ini. Semakin pusing saja, apa ini yang Kanaya maksud karma sudah menghampirinya, pikir Gibran mengusap wajahnya kasar.
Tak peduli bagaimana reaksi Mahatma, pria itu terlanjur marah karena telinganya sudah sakit menghadapi keributan antara Gibran dan juga Khaira. Berlalu pergi karena tanggung jawabnya sudah menanti, tertunduknya Khaira takkan membuat Abygail tersentuh sedikitpun.
-
.
.
Prahara rumah tangga memang takkan habis, baru menikah beberapa bulan saja sudah terancam bubar. Abygail yang sebentar lagi akan menikah mendadak was-was lantaran takut sifat istrinya akan sama seperti Khaira.
“Kamu baik-baik saja, Aby?”
__ADS_1
Mahatma tersenyum getir melihat wajah kusut putranya, dia sendiri tidak punya cara membuat Khaira dan Gibran dapat menjalani peran sebagai suami istri yang seharusnya. Dia bukan tak berusaha, akan tetapi bagaimana Khaira yang menolak semua nasihatnya membuat Mahatma lelah.
“Baik-baik saja, Pa.” Abygail menatap sendu wajah sang papa, dia paham saat ini justru hati Mahatma yang lebih terluka, bukan dirinya.
“By.” Mahatma menahan pundak putranya yang hendak pergi, ada hal yang ingin dia utarakan lewat tatapan matanya itu.
“Kenapa, Pa? Apa ada yang mau Papa sampaikan?” tanya Abygail hati-hati, nampaknya sang papa memang memiliki hal yang ingin dia sampaikan.
“Kanaya … Papa rindu, apa kamu sudah bertemu adikmu?” tanya Mahatma sangat berharap akan jawaban “Iya” dari Abygail.
Abygail mengangguk pelan, dia memang tidak pernah membahas Kanaya sedikitpun bersama Mahatma. Apalagi, setelah kejadian kemarin memang Abygail memilih tak mengungkitnya lebih dulu.
“Beberapa hari terakhir, Pa … sama Ibra juga,” ucap Abygail sopan, memang dia bertemu mereka meski dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan baik.
“Bagaimana kabarnya? Apa mereka baik-baik saja?” Hanya itu, sejak kemarin perasaan pria paruh baya itu tak enak hati. Pikirannya hanya tertuju pada Kanaya seorang, entah apa yang menjadi sebabnya.
“Sangat baik, Pa … Papa jangan khawatir,” tutur Abygail menenangkan Mahatma, gurat wajah pria itu dapat Abygail baca dengan jelas, dia meminta sang papa untuk tidak terlalu banyak berpikir karena khawatir kesehatannya menurun.
“Di hari pernikahan kamu nanti, Papa harap mereka hadir, Aby.”
Abygail tak bisa menjanjikan hal ini kepada Mahatma seutuhnya, dia tidak yakin jika Ibra sudah menerimanya sebagai kakak secara nyata. Dia tidak ingin memberikan harapan yang terlalu besar pada sang papa.
“Insya Allah, Pa.”
Mahatma tertawa sumbang, telinganya seakan dibuat terkejut dengan ucapan manis Abygail. Apa mungkin pengaruh jodohnya kian dekat hingga pria ini tampak menjaga ucapan, pikirnya. Dia menepuk bangga pundak Abygail, padahal yang terjadi di hatinya adalah bingung memilih kata, sang papa justru salah mengira jika dirinya sudah lebih baik.
“Oh iya, apa kamu akan menemui Adibah hari ini?” Senyum Mahatma mengandung ejekan paling nyata, dia yang sudah lama tidak membawa wanita ke rumah namun sekalinya mengenal wanita justru ke jenjang serius membuat pesona Abygail semakin bertambah di mata sang papa.
“Tidak, Pa … dia sibuk.” Abygail mencari alasan demi mengindari ledekan sang papa yang biasanya akan semakin menjadi.
__ADS_1
To Be Continue