
Ibra menanti dengan sabar meski istrinya belum keluar, lama sekali entah apa yang Kanaya bersihkan. Pria duduk di tepi ranjang dan kini fokus dengan benda pipih di tangannya.
Ibra mencuri pandang sang istri yang sudah selesai mandi dengan menggunakan bathrobe milik Ibra dan handuk kecil membungkus rambut panjangnya. Wanita itu hanya menatap sekilas suaminya yang terlihat santai seakan tak peduli dengan keberadaannya.
"Tumben," ceteluk Kanaya lantaran Ibra tidak seperti biasanya.
Padahal biasanya Ibra rela meloncat dari tempat tidur kala menyadari istrinya selesai mandi. Sungguh kebetulan sekali dia tidak kumat, pikir Kanaya.
"Mas," panggil Kanaya pada akhirnya, terbiasa dengan Ibra yang kerap nyosor seenak jidat wanita itu merasakan perbedaannya.
"Hm, kenapa, Nay?"
Masih belum melirik istrinya, Kanaya kesal saja tiba-tiba. Dia tidak pernah diabaikan dan kini Ibra seakan acuh padanya.
"Gak, manggil aja."
Kanaya membuang napas kasar, sepertinya Ibra memang sedang waras. Entah apa yang dia lihat di sana hingga sebetah itu memegang benda si tangannya, apa mungkin Ibra terlalu senang karena ponselnya baru? Batin Kanaya penuh tanya.
"Kamu menggodaku? Mas lagi berkabung, Nay."
"Enggak, jangan salah paham ... aku nggak bermaksud begitu, Mas, demi apapun!!"
Ibra menarik sudut bibir, istrinya cepat sekali panik padahal sebenarnya dia tidak begitu serius. Walau memang ada benarnya, tapi kepergian Indira tak membuat Ibra segila itu dan membuat hasrratnya bisa tertahan.
"Iya, udah pakai baju sana ... nanti malam saja kalau mau Mas puasin."
What? Pria itu tidak ada bedanya. Ibra berucap dengan mata genitnya yang diperlihatkan sangat jelas jika dia memang menggoda. Kanaya yang melihat hanya menautkan alis dan mengalihkan pandangannya cepat-cepat.
"Iya nggak? Jawab dulu, Kanaya."
__ADS_1
"Apanya?" tanya Kanaya pura-pura tak mengerti, Ibra masih membahas hal itu dan Kanaya rasanya ingin tenggelam saat ini juga.
"Ya itu, masa nggak ngerti?"
Menyesal dia meladeni Ibra, karena pada akhirnya pria itu kini beranjak dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Kanaya yang tidak mengenakan apa-apa di balij bathrobe itu segera berpindah mode was-was seketika.
"Eh!! Mau ngapain?"
"Nggak mau apa-apa, curigaan banget jadi istri."
Dia berucap dengan tangannya yang sengaja menyentuh bagian sensitif Kanaya dari balik jubah itu. Merinding seketika, dia tengah memancing Kanaya atau apa senebarnya.
"Kamu apa-apaan sih, Mas, katanya tadi suruh ganti baju," omel Kanaya menepuk punggung tangan Ibra, hanya menempelkan sebenarnya, Ibra tidak melajukan hal lebih dan anggap saja itu pembukaan dari sebuah permainan yang belum ditentukan waktunya kapan.
"Salah sendiri nggak cepet."
Ibra pantang dipuji, seharusnya Kanaya memang diam dan tidak perlu mengusiknya jika dia diam seperti tadi. Namun yang terjadi justru berbeda, suaminya kumat setelah sempat membuat Kanaya merasa ada yang kurang.
Hal yang sangat tak bisa Kanaya mengerti, pria itu memeluknya sampai kesulitan bernapas. Dengan alasan gemas dia melakukan hal sinting itu tanpa sadar bahwa itu menyakiti istrinya.
"Maaf, meluk kamu nggak ada puasnya, Nay! Pengen Mas telan rasanya."
"Pipi kamu ya Tuhan, Kanaya ... Aarrrgggghh!!"
Kedua pipi Kanaya terasa sakit, pria itu hanya tertawa sumbang. Walau suda jadi kebiasaan yang tak seharusnya Kanaya bingungkan, tertawa bukannya mikir, batin Kanaya kesal sekali.
"Kamu kenapa sih, besok-besok minum obat deh, Mas."
"Obat apa? Obat kuat ya, Nay?" tanya Ibra dengan sengaja menyentuh aset pribadi yang kini telah menjadi hak milik Ibra.
__ADS_1
"Kamu kalau ada masalah cerita deh, Mas."
"Hahaha banyak, Sayang, kamu mau aku ceritakan yang mana?"
Kanaya bermaksud bercanda, namun Ibra justru menanggapinya dengan serius. Pria itu menghela napas pelan sembari mengulas senyumnya. Tatapan Ibra kembali tak terbaca, ternyata benar bentuk stres itu berbeda-beda.
"Tidak perlu, kamu juga paham tanpa Mas ceritakan, Nay."
Jika dibahas, semua takkan habis dalam satu malam. Akan tetapi tidak selamanya juga harus berpikir keras tentang masalah yang terjadi. Pria itu hanya ingin Kanaya tenang karena hantaman sudah terlalu berat untuk Kanaya hadapi saat ini.
"Nanti malam Mas pergi, boleh kan?"
"Kemana lagi?"
"Ada yang perlu Mas selesaikan, Nay ... Lorenza dan Jackson jadi tanggung jawab Mas kan."
Lorenza, dia benar-benar lupa perihal tameng saktinya Kanaya. Bagaimana kabarnya saat ini, menyedihkan sekali, pikr Kanaya menyesali yang terjadi.
"Boleh ya? Di sini ada bi Ningsih yang akan jaga kamu," tutur Ibra tulus dan Kanaya hanya menghela napas pasrah, sedikit tak ikhlas akan tetapi jika Ibra tetap bersamanya tidak baik juga.
"Lama?"
"Enggak, secepatnya Mas kembali ... kalau malem Mas belum pulang, tidur duluan ya."
Tidur di kamar ini? Sendirian, rasanya sangat sulit walau bari Kanaya bayangkan. Pria itu tersenyum kala Kanaya mengangguk pelan meski tanpa mengucapkan apapun.
"Titip salam buat Lorenza, jangan lupa makan bilangin."
"Kalau lapar dia makan, Nay, mana mungkin lupa." Ibra menangkup pipi Kanaya dengan kedua tangannya, dagunya semakin berisi dan tubuhnya kian padat, hasil karya Ibra memang tidak perlu diragukan.
__ADS_1
To Be Continue