Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 63


__ADS_3

Perihal kehidupan Ibra, Kanaya tak bisa menyalahkan siapapun. Toh memang salah dia yang tidak mencaritahu lebih dulu Ibra siapa. Dan yang datang kepada Ibra adalah dirinya, dia yang menyerahkan diri dan bagaimanapun Ibra dia harus terima.


Meski sempat tertekan, Kanaya mencoba memahami. Lagipula yang Ibra lakukan bukan sesuatu yang fatal, Kanaya mengubur itu dan menganggapnya sebagai salam perkenalan.


Menjelang malam, Kanaya membantu menyiapkan makan malam. Sementara menanti Ibra yang tak kunjung keluar dari kamar entah apa kesibukannya. Meski Kanaya ketahui, waktu mandi Ibra memang lebih lama darinya.


Merasa suaminya tak kunjung datang, Kanaya kembali ke kamar memastikan jangan-jangan suaminya terlelap di kamar mandi. Wanita itu berlalu dengan langkah cepatnya, dan mendorong pintu kamar tanpa aba-aba.


"Aaaarrggghhh!!"


Kanaya melongo begitu pintu terbuka dan dia saksikan suaminya sudah terjatuh di depannya dengan wajah memerah menahan sakit. Kepalanya terasa pusing karena memang kepalanya terbentur pintu, tak lupa jemari kakinya jadi korban tentu saja.


"Mas? Kenapa juga di depan pintu! Udah tau aku mau masuk!"


Memang benar, wanita tidak pernah salah. Sudah jelas-jelas dia yang mendorong pintu itu dengan kekuatan penuh seakan tengah menangkap gerombolan penjahat hingga Ibra terkena batunya. Pria itu hendak keluar dan tidak mengetahui akan ada serangan dari luar jelas saja tidak memiliki persiapan apapun, sungguh Ibra tak menduga kesakitan ini akan ia rasa.


“Sakit banget ya?” tanya Kanaya tak tega, sepertinya Ibra cukup menderita dengan benturan yang sama sekali tidak dia rencanakan.


“Nay, kamu balas dendam atau kenapa?”


Mata Ibra bahkan berair karena sakitnya, tak pernah dia rasakan sakit yang sesinting ini pada fisiknya. Bisa dipastikan keningnya akan membiru hingga beberapa hari kemudian, pria itu masih belum bisa berdiri.


“Maaf, Mas … kan udah aku bilang nggak sengaja, kalau aku tau kamu ada di deket pintu nggak bakal aku begitu.”


Wanita itu mengusap pelan kening Ibra yang kini sudah terlihat memerah, sejak tadi pria itu masih terpejam dan nampaknya hidung suaminya juga merasakan penyiksaan. Ibra membuka matanya perlahan, memeriksa hidungnya siapa tahu mimisan.

__ADS_1


“Sakit, Kanaya sumpah,” rengeknya kini bersandar di dada istrinya, kesempatan emas untuk semakin membuat istrinya luluh setelah sebelumnya Kanaya sedingin itu akan Ibra manfaatkan dengan sebaik-baiknya.


“Maaf, besok pintunya ganti pakai kaca aja, Mas.” Ide brilian menurut Kanaya tapi bukan saran yang baik menurut Ibra.


Beberapa menit, Kanaya memberikan kesempatan untuk Ibra menenangkan sakitnya. Pria itu berjalan pelan dengan bantuan Kanaya yang memegangi tubuhnya, Kanaya lupa Ibra hanya terbentur biasa, bukan patah tulang.


“Kasihannya ya, Tuhan,” tutur Kanaya menggeleng pelan, wanita itu sigap menyiapkan makanan untuk sang suami bahkan dia sudah menyiapkan diri jika Ibra minta disuapi. Karena tidak menutup kemungkinan tangannya juga akan sakit mengingat posisi jatuhnya Ibra memang cukup mengenaskan.


Hendak meningkatkan kadar manjanya, Ibra takut Kanaya justru melemparkan sendok ke jidatnya. Bukan karena dia suami takut istri, akan tetapi bisa jadi kekesalan wanita itu masih membekas, pikir Ibra.


“Mas,” panggil Kanaya di sela makannya, mereka menikmati makanan begitu tenang, sejak tadi hanya dentingan sendok yang terdengar. Hingga kini Kanaya mulai membuka pembicaraan.


“Iya, kenapa, Naya? Apa ada yang mau kamu tanyakan lagi?” tanya Ibra sedikit hati-hati, sengaja menghentikan makannya sebentar demi bisa fokus pada Kanaya seorang.


“Manggil aja, aku takut kamu tuli.”


🖤


“Mas,” panggil Kanaya lagi setelah beberapa menit Ibra dibuat kesal karena ucapannya, kini wanita itu mulai lagi. Entah apa yang kini dia inginkan, wajahnya terlihat mencurigakan.


“Apa?” sahut Ibra singkat namun tidak terkesan dingin, pria itu tak mau membuat Kanaya merasa aneh dengan perubahan caranya bicara.


“Aku pengen bebek bakar,” ucapnya dengan wajah datar, Ibra yang berada di hadapannya hanya bisa diam dan menatap heran piring Kanaya yang sudah bersih itu.


“Hah? Sekarang? Kamu baru selesai makan, Nay ….” Ibra tak habis pikir, porsi makan Kanaya memang tak begitu banyak, tapi sungguh tak masuk di akal keinginan itu justru muncul ketika makannya baru saja selesai.

__ADS_1


“Ya pengennya sekarang.”


“Astaga, nggak bisa tunda besok pagi saja?” tawar Ibra mulai panik, bagaimana bisa dia pergi demi memenuhi keinginan Kanaya sementara kini kepalanya masih terasa sakit sebenarnya.


“Nggak bisa, harus malem ini.”


“Delivery aja ya?” Mungkin ini adalah jalan keluar yang baik, namun sayangnya Kanaya enggan dan dia menggeleng cepat kala Ibra mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


“NO! Kita berdua yang kesana, aku mau makan di tempat abangnya … seru tau makannya malem-malem, ah pasti rame, Mas.”


Benar-benar bencana, Ibra tak terlalu suka keramaian apalagi keramaian di tempat seterbuka itu. Bisa dipastikan yang Kanaya maksudkan adalah bebek bakar kaki lima dan Ibra tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana.


“Pinggir jalan?” tanya Ibra memastikan, jika iya maka siap-siap Kanaya tidak akan mendapat sedikitpun izin darinya.


“Iya, masa di tengah jalan.” Jawaban yang tidak salah, tapi tidak juga benar sama sekali.


“Nggak, polusi, cari tempat lain,” ungkap Ibra mutlak dan tidak bisa ditentang, sayangnya perintah semacam itu takkan berlaku untuk Kanaya, wanita berwatak keras yang juga mendapat dukungan dari keinginan bayinya.


“Nggak!! Kamu belum lihat tempatnya, adem kok nggak ada asap juga … ayolah, Mas, dia loh yang mau kalau aku udah makannya tuh udah abis malah,” ucap Kanya menunjuk perutnya kemudian mengerlingkan mata ganitnya. Ibra menghela napas pelan dan mengangguk patuh karena ini lebih mutlak dari larangannya.


“Iya, tunggu ya.” Menghabiskan makannya dengan sekali hap, tidak mengapa kalaupun harus nekat kesana dengan kepala yang sedikit cenat-cenut. Selagi Kanaya terus menggodanya seperti itu, Ibra akan rela.


“Gitu dong.”


“Pakai jaket, baju tidurmu terlalu tipis,” titah Ibra, bahkan beranjak dari meja makanpun belum tapi dia sudah mengatur apa yang Kanaya kenakan.

__ADS_1


Tbc


Bab selanjutnya abis Isya, tanggung belum 3K


__ADS_2