
Akhir-akhir ini mereka cukup sibuk, usai pernikahan Lorenza kali ini pernikahan Abygail. Tak hanya waktu, tapi juga uang Ibra korbankan. Hadiah pernikahan yang tidak main-main, bukan karena ingin memperlihatkan kekayaannya. Akan tetapi, memang dia ingin saja memberikan hal sebaik itu tanpa mengingat bagaimana Abygail dulu.
Hanya selang beberapa hari, bayangkan saja bagaimana kesalnya Siska mereka menikah di waktu yang sama. Haikal juga turut pusing kepala, kali ini pertanyaan keramat itu menghantui mereka.
Pasangan muda yang baru meniti rumah tangga, sementara Gavin masih menjadi olokan lantaran belum juga berhasil mengoyak pertahanan Lorenza. Padahal menurut Gavin waktu 3 hari belum begitu lama, bisa-bisanya Ibra khawatir Lorenza akan lumutan.
"Ck, jangan buat Lorenza ragu, Gavin ... kau tau, akhir-akhir ini ada kasus wanita yang memiliki suami seorang wanita juga, kau tidak takut Lorenza akan berpikir macam-macam?"
"Lalu apa urusannya denganku? Identitasku jelas mengatakan aku pria, apa masalahnya?"
"Setidaknya izinkan dia meraba," ungkap Ibra seenteng itu.
Mengerikan sekali, ucapan Ibra seketika membuat tiga pria di sekelilingnya terdiam. Menjadikan Gavin pusat perhatian dan tatapan mereka kemudian terfokus ke bagian inti Gavin.
"Sialan, apa yang kalian lihat!!"
"Aku hanya memastikan, tapi sepertinya kau pria tulen." Abygail yang bahkan meninggalkan istrinya sementara waktu kini tertarik dengan pembahasan Ibra.
"Maka dari itu, setidaknya izinkan Lorenza yakin jika kau memang jantan," seru Ibra, tak lupa dengan kedipan maut yang membuat Gavin luar biasa kesal.
"Kalau mau langsung diuji juga boleh, Bang ... buat dia nggak bisa jalan besoknya."
Mengerikan, Leon sepertinya amat ahli dalam hal ini. Gavin hanya mengerutkan dahi mendengar pernyataan Leon, dia yang terlambat dewasa atau memang Leon yang terlalu cepat, pikirnya.
"Ck pembicaraan kalian memang sinting," ungkap Gavin semakin kesal saja, jika dahulu hanya Ibra yang kerap menggodanya, kini dia semakin merasa terpojok saja.
Jika para suami tengah sibuk membahas hal yang menjurus ke sana, lain halnya dengan ketiga wanita yanh berasa di sisi ratu sehari itu. Kanaya, Lorenza dan juga Siska sibuk membahas kandungan Kanaya.
"Gak berat ya, Nay?" tanya Siska penasaran, dia menyentuh perut Kanaya pelan-pelan, di pikirannya wanita hamil hanya setipis balon udara.
"Nggak, mungkin belum ya."
"Hem menurut aku sih belum doang, dulu sepupu aku pas hamil 7 bulan dia gak bisa berdiri, Nay."
"Heeeh?"
Ketiganya kaget bersamaan, cara Lorenza bercerita juga mendukung suasana. Wanita itu benar-benar serius mengungkapkan semuanya, mimik muka yang tak bisa dikondisikan dan gesturnya juga mendukung.
"Ih serius ... anaknya kembar tiga tuh, gede banget tapi memang."
Mengerikan sekali, meski Kanaya tak bisa pungkiri hamil memang sedikit sulit. Trimester kedua ini cukup membuat Kanaya gerah, dia kerap merasakan panas meski di kamar sudah luar biasa dinginnya.
__ADS_1
"Eh di kampung aku ada loh yang hamil, pas lahir kambing."
"HAH?!!"
Pembicaraan semakin menarik, Siska yang biasanya hanya menjadi pendengar kini turut bercerita. Kanaya sudah mengelus perutnya, wanti-wanti karena takut hal aneh terjadi pada bayinya.
"Serius?"
"Serius!! Itu ya Allah heboh banget, Za! Sekampung ikut nengokin," jelas Siska kemudian, situasi semakin tegang, Kanaya bahkan menelan salivanya pahit.
"Lanjutin, gimana ceritanya," desak Lorenza penasaran, dia penasaran sekali memang.
"Iya, kan dia hamil tuh ... pas lahiran ya wujudnya kambing."
"Kambing? Kambing beneran atau?" Bingung, tak dapat dipercaya tapi Kanaya penasaran.
"Iya kambing yang bener-bener kambing," jawab Siska sama seriusnya, wajah wanita itu kian serius.
"Ya Tuhan, kok bisa? Dia ada dosa apa ya?" Lorenza justru berpikir hal itu, kasihan sekali, pikirnya.
"Ya bisa dong, kan yang hamil memang kambing," ucap Siska tanpa dosa dan sukses membuat emosi pendengarnya naik seketika.
"TERSERAH!! SISKA SETAN!!"
"Hahahahahah!! Makanya bahasannya nggak usah tegang-tegang ... kasian Nay-nay tuh mukanya keliatan capek banget."
Dia tidak sadar jika yang membuat lelah adalah Siska sendiri. Kanaya menatap datar Siska yang kini terbahak tanpa henti, gelak tawa yang kini memekakan telinga ketiganya.
"Kasian, mana udah tua."
Lorenza menggeleng pelan, mereka sudah diam tapi Siska masih sibuk tertawa. Seakan merasa paling lucu sedunia, ingin sekali dia acak-acak rambut Siska itu.
-
.
.
.
Terlepas dari cerianya Kanaya, ada sepasang mata sayu yang menjadikannya pusat perhatian sejak tadi. Dari jauh, karena dia merasa malu pada diri sendiri utnuk menghampiri.
__ADS_1
Sebelumnya sudah sempat bertemu, Kanaya bahkan mengecup punggung tangannya sebagai ungkap rasa sopan. Wanita itu tanpa sadar tersenyum hangat lantaran hatinya bergetar melihat binar mata Kanaya secerah itu.
"Mama!" Belum usai dia memandangi Kanaya, suara itu sudah menyadarkannya.
"Iyaa, kenapa?"
"Haus, Ma ... mas Gibran jauh."
Manja sekali, Widya hanya tersenyum kecut sembari melangkah kemudian menuruti kemauan Khaira. Dia masih ingin berada di sana, membelai Kanaya jika bisa.
"Mama liat apa disana? Mba Adiba?" tanya Khaira pura-pura tidak mengetahui apa yang jadi pusat perhatian sang mama.
"Iya, dia cantik ... Mama suka."
Khaira tersenyum smirk, benci sekali rasanya melihat bagaimana Kanaya yang bisa secepat itu dekat dengan Adiba. Dan kini, sang mama juga mulai luluh dan Khaira menyadari itu.
Mama hanya milikku, Kanaya ... jangan harap kamu bisa berkuasa hanya karena diterima kembali di keluarga ini.
Matanya menatap tajam ke arah Kanaya, sengaja melewati mereka dengan bergelayut di tangan sang mama seakan menjelaskan jika putri Widya hanya dirinya.
"Mama, aku pengen makan ikan kerapu ... Mama masakin ya," rengek Khaira berusaha membuat pandangan Widya tidak menuju Kanaya, apapun akan dia lakukan kalaupun harus pura-pura ngidam.
"Nanti ya, Mama capek kalau sekarang, Ra."
Untuk pertama kalinya Widya menolak dengan alasan lelah, sebagai pencemburu akut Khaira jelas berpikir macam-macam dan menganggap sebabnya adalah Kanaya.
Di sisi lain, Kanaya bukan tidak melihat bagaimana kedekatan Widya dan Khaira. Mungkin dahulu dia akan merasa sakit dan sedih, tapi tidak untuk saat ini. Adanya Ibra benar-benar membuat Kanaya merasa dunia lengkap tanpa ada kekurangan.
Belajar dari Ibra, tidak semua orang bisa mencintai kita. Sekalipun itu orang terdekat atau bahkan yang sedarah, kadang kala kasih sayang itu didapatkan dari sosok lain yang memang menginginkan diri kamu seutuhnya.
"Udah, Nay ... mama Sofia masih ada."
"Udah meninggal, Za," jawab Kanaya polos dan membuat Lorenza menyesal luar biasa. Demi apapun dia memang tidak mengetahui jika orangtua kandung Ibra sudah berpulang. Hal ini dikarenakan Kanaya hanya mengatakan nama Sofia tanpa menjelaskan bagaimana keadaannya.
"Ma ... ma-ma Maria!! Atau mama Hilmira," ujarnya kemudian, wanita itu panik harus bicara apa demi bisa menyelamatkan dirinya.
"Hilmira? Namanya bagus banget, Emak Gavin ya?" tanya Siska kemudian.
"Emak-emak, manggilnya Mommy Hilmira, Siska."
"Dih, sama ajalah."
__ADS_1
"Sshutt, yang belum punya mertua nggak diajak," tukas Lorenza seenak jidat dan membuat wajah Siska tertekuk lantaran kesalnya.
Tbc