Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 76


__ADS_3

Malam berganti, kelamnya langit kini mulai terisi tatkala mentari tersenyum tipis di ufuk timur. Kanaya hanya tidur sebentar pasca Ibra mengutarakan hal yang selama ini ia jaga.


Kanaya masih betah memandangi Ibra yang sejak tadi terlelap begitu damai. Jangankan bangun, dia sentuh dengan jemarinya yang dingin saja, Ibra bahkan tak bergerak.


Ada kemarahan dalam benaknya, kecewa sudah tentu ada. Tapi, bukankah semua sudah terjadi dan Ibra mengungkapkan itu hanya masa lalu. Sebagaimana dia yang juga punya Gibran, Ibra juga tentu punya namun Kanaya yang tidak mengetahuinya secepat Ibra mengetahui tentangnya.


Ibra baik, selama ini yang Kanaya dapatkan dari Ibra hanya perihal baiknya saja. Hingga pada akhirnya Kanaya paham bahwa tidak akan dia temukan manusia sempurna tanpa kurang sedikitpun di dunia ini.


"Nay?"


Suara serak bersamaan dengan jemari yang kini menyentuh pipinya pelan, Ibra tersenyum hangat menatap istrinya yang kini mengalihkan pandangan tiba-tiba karena ketahuan tengah memandanginya terlalu dalam.


"Ehem, a-aku ganggu tidurnya, Mas?" tanya Kanaya tanpa menatap Ibra, hingga saat ini Kanaya bahkan masih kerap malu di hadapan suaminya sendiri.


"Enggak, kamu tidur nggak sebenarnya?"


Ibra menelisik wajah Kanaya yang sepertinya tidak memperlihatkan dia baru bangun tidur. Lingkar hitam di mata Kanaya dapat menjawab istrinya memang bangun sejak tadi.


Kanaya hanya mengangguk sebagai jawaban, Ibra menghela napas panjang. Nampaknya Kanaya belum begitu baik seperti yang di kira, walau dapat Ibra pahami hati Kanaya takkan semudah itu menganggap semuanya hanya angin lalu.


"Kanaya, kamu masih marah?" Ibra mencoba untuk bertanya, selama Kanaya begini padanya Ibra takkan tenang sama sekali.


"Nggak, aku nggak marah ... lagipula, aku percaya ketika kamu mengambil keputusan, alasannya demi hal baik bukan?"


Ibra mengangguk pelan, tentu sana alasan itu baik menurutnya. Ibra berpikir bahwa akan lebih baik Kanaya tidak mengetahuinya, pernikahan itu sama sekali tak dia anggap ada sebelumnya.


Ucapan Kanaya terdengar manis, namun tidak dengan wajahnya yang terlihat seberat itu. Wanita itu menarik napas saja terasa sulit, dia membutuhkan Ibra, sangat-sangat butuh. Sebesar apapun kecewanya, mau kemana dia pergi sementara Ibra adalah rumah bagi Kanaya.


"Setelah ini, akan banyak yang kamu temui ... sekalipun mereka bersumpah, jangan pernah percaya karena hanya aku yang perlu kamu percaya, Kanaya."


Ibra sehalus itu bicara, pria itu menatap lekat Kanaya sembari menggenggam erat jemari istrinya. Tak bisa dipungkiri, akan banyak kemungkinan Olivia akan terus mencari istrinya. Meski pernikahan mereka tak begitu lama, Ibra cukup mengenal bagaimana Olivia jika mengejar segala sesuatu.

__ADS_1


Kanaya mengangguk, berusaha menerima dan tak membesarkan masalah. Meskipun jika dia berlarut-larut mempermasalahkan ini, tidak ada hal baik menghampiri mereka.


"Mas," panggilnya kini menatap suaminya, berharap Ibra takkan mengekangnya hari ini.


"Kenapa?" tanya Ibra merapikan anak rambut istrinya, hati kecilnya merasa bersalah, apalagi ketika dihadapkan dengan wanita sebaik Kanaya yang menerima masa lalunya tanpa terduga.


"Aku boleh ketemu Lorenza sama Siska ya, udah janji kemarin-kemarin."


Itu permintaan yang harus Ibra iyakan, sebenarnya tidak ada janji kemarin-kemarin. Kanaya saja yang merasa jengah dan ingin bertemu mereka kali ini. Sudah cukup lama mereka tak berbincang di satu meja.


"Hm, boleh ... Mas yang anterin ya?"


Sebenarnya bisa saja Ibra ikut bergabung, tapi memang dia tak segila itu hingga membuat pertemanan mereka canggung karena dia ikut campur dalam perbincangan mereka.


Lagi-lagi, Kanaya tidak menjawab dengan suara. Istrinya tidak mood bicara sepertinya, Ibra maklumi, mungkin Kanaya terlalu lama menangis tadi malam hingga tenggorokannya sakit, pikir Ibra.


"Lorenza ...."


Jika saja Ibra belum mengutarakan hal itu tadi malam, mungkin dia akan mati-matian melarang Kanaya agar tak bertemu wanita itu. Akhir-akhir ini nampakny Lorenza bukan seseorang yang mendukungnya, melainkan bahaya baginya, pikir Ibra menggeleng pelan.


.


.


"Di sini?" tanya Ibra memastikan kala tiba di sebuah coffee shop yang nyatanya cukup jauh dari rumah.


Masih perlu dipertanyakan Lorenza punya dendam apa padanya hingga membuat Ibra harus bolak balik 8KM demi mengantarkan istrinya ke tempat yang dia tentukan.


"Ha-ah, aku turun ya, itu mereka udah nunggu di sana."


Lambaian tangan Lorenza yang seceria itu membuat Ibra trauma. Entah kenapa Lorenza adalah momok yang membuat Ibra sedikit takut setiap melihatnya.

__ADS_1


"Hati-hati ya, kalau udah selesai kabarin ... Mas ada urusan sebentar," ungkap Ibra, sekalian dia sudah sejauh ini, kediaman Gavin dapat dia datangi demi menyampaikan hal penting lainnya agar pria itu bisa mengerti dengan jelas kemauan Ibra.


"Iya, lama juga gak masalah ... aku kangen mereka soalnya," ucap Kanaya jujur sekali, pria itu mengerutkan dahi begitu mendengar ucapan istrinya, kesal saja tiba-tiba.


"Nggak lama ... dan ingat pesan Mas sebelumnya, jangan percaya siapapun, termasuk wanita rambut dora itu." Satu-satunya yang mengetahui rahasia Ibra selain Gavin adalah Lorenza, dia takut jika nantinya akan menyebar fitnah dan mencuci otak Kanaya.


"Rambut dora? Lorenza maksudnya?"


"Hm, dia."


"Mas ada masalah apa sama dia? Kenapa sesensi itu sama Lorenza?" tanya Kanaya heran, hal yang benar-benar menjadi tanya baginya, Ibra kerap kesal jika membahas Lorenza entah apa alasannya.


Ibra menggeleng, tidak mungkin dia ceritakan bagaiamana Lorenza yang kerap membuat Gavin berlari ke ruangannya dengan keringat membasah di seluruh wajah karena wanita itu kerap mengutarakan pertanyaan gila terkait Kanaya.


"Udah sana, titip salam buat temanmu."


Ibra mengecup keningnya cukup lama, Kanaya mengusap keningnya yang sedikit basah. Ibra memang sinting dalam hal ini sepertinya.


"Kenapa di usap?"


"Basah, kamu mau mereka nanya-nanya hal yang begini ke aku?" tanya Kanaya dengan bibir maju beberapa centi.


"Ya kan tinggal jawab jujur apa salahnya." Bukannya merasa bersalah, Ibra justru mengulangnya, bukan hanya di kening tapi penuh sewajah.


Drama pamit yang menyita waktu cukup lama, Ibra yang menunda bahkan berakhir dengan Lorenza yang menghubungi Kanaya demi memastikan sahabatnya masih bernapas di dalam mobil.


"Awasi dia," titah Ibra dengan tatapan yang masih tertuju pada Kanaya di depan sana. Langkah kecil yang begitu hati-hati dan disambut meriah oleh kedua sahabatnya dapat Ibra rekam dengan jelas.


"Baik, Tuan."


Pria itu memasukan kembali gawainya ke saku usai mendapat jawaban dari Jackson yang Ibra perintahkan untuk duduk di tempat yang tak jauh dari Kanaya. Tanpa sepengetahuan sang istri tentu saja, karena sebelumnya Kanaya meminta ingin bebas sehari saja, tapi Ibra tak mungkin mengabulkannya semudah itu.

__ADS_1


Kehadiran Olivia, dan beberapa anak buah Indira yang Gavin ketahui tengah berusaha mengusik kehidupan pribadinya masih saja menjadi kekhawatiran paling nyata dalam hidup Ibra.


Tbc


__ADS_2