Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 88


__ADS_3

"Jaga mulutmu, Olivia!! Dia istriku, dan kata-kata itu lebih pantas untukmu, bukan Kanaya." Ibra meradang, tangannya mengepal dan demi Tuhan dia ingin mencabut nyawa Olivia saat ini juga.


"Benarkah? Aku tidak percaya ... hey kau, berapa uang yang kau inginkan? Aku berikan sebanyak yang kau mau dan pergi dari ruangan suamiku."


Kanaya memicingkan matanya, yang benar saja apa yang dia dengar kini. Sejak tadi Ibra menahannya dan Kanaya tidak terima dengan ucapan wanita di hadapannya.


"Nay ... Naya!!" Ibra lengah hingga istrinya sudah melangkah maju dan menghampiri Olivia di sana, Ibra hanya takut jika Olivia nekat dan melakukan hal macam-macam pada istrinya


"Apa katamu? Ulangi!!" desak Kanaya dengan tangan yang sudah terkepal dan berusaha menahan amarahnya.


"Kau tuli? Pergi dari ruangan suamiku saat ini juga!!" teriak Olivia dengan mata yang sudah memerah, Kanaya menarik sudut bibir, bukannya panas pemilik wajah cantik bak dewi ini justru menggaruk kepalanya yang memang sedikit gatal.


"Kau kurang tidur ya?" tanya Kanaya santai, sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak terpikirkan dalam benak Ibra.


"Apa pedulimu?" sentak Olivia sebaliknya, wanita ini tidak santai sama sekali. Berbicara dengan nada tinggi dan menganggap semua yang dia ajak bicara akan tunduk dan takut dengan cara bicaranya.


"Soalnya siang bolong begini kau masih bermimpi," ucapnya disertai senyum tipis dan berhasil membuat Olivia berang tentu saja.


"What!!"


Olivia kehilangan kendali, wanita itu lancang mendorong tubuh Kanaya hingga pinggulnya terbentur ujung meja. Ibra yang melihatnya jelas saja semakin marah.


"Olivia!! Kau berani mengusiknya?!!"


Sebagai suami yang mengkhawatirkan istrinya Ibra memilih Kanaya tentu saja. Walau sebenarnya dia bisa memukul Olivia detik ini juga.


"Kanaya, sakit?"


Ini yang menjadi alasan Ibra meminta Kanaya tetap berada di belakangnya. Pria itu mengerti bagaimana gilanya seorang Olivia, meski mungkin saja Kanaya bisa melawan, tapi menurutnya alangkah lebih baik jika menghindar saja.


"Enggak, Mas."


Kanaya menggeleng, meski sebenarnya cukup terasa karena dorongan Olivia tidak main-main, tapi saat ini Kanaya masih bisa mengatasinya.

__ADS_1


Melihat gerakan tangan Ibra yang beberapa kali mengelus perut Kanaya, Olivia semakin sakit saja. Baru dia bisa percaya jika Kanaya benar-benar istri Ibra.


"Kamu emang jahat ya, Mas ... aku masih istri kamu loh! Tega-teganya kamu main perempuan sampai menikah di belakangku!!"


Amukan Olivia terasa hiburan, Gavin yang masih merasakan ngilu hanya melihat tanpa berani kembali bertindak. Meski dia sempat memanggil security, selebihnya dia enggan ikut campur.


"Dan kau! Perempuan tapi tidak paham bagaimana perasaan perempuan lain ... kau hanya dia pakai sementara, camkan itu!!"


Kanaya meradang, sejak tadi Olivia selalu melayangkan hinaan padanya. Serendah itu Kanaya di mata Olivia bahkan dengan entengnya mengatakan jika Ibra hanya memakai dirinya untuk sementara.


"Sebelum bicara ada baiknya berkaca, dan juga bukankah kau sudah mas Ibra talak berkali-kali? Artinya apa, kau sudah dibuang, Olivia ... dan sekarang, kau datang dan menghina istri sahnya? Bukankah kau terlalu percaya diri?"


"Kau menikah tanpa restu Mama, artinya ... kau tidak punya tempat di keluarga Megantara. Sementara aku? Aku wanita pilihan yang Mama inginkan sebagai istri untuk Ibra."


Tatapan keduanya kian sengit, Kanaya tidak merasa terpancing sama sekali. Kalaupun memang benar keberadaannya tak diterima Indira, Kanaya tidak keberatan sama sekali.


"Lalu, apa yang bisa kau banggakan dengan restu Mama tirinya? Yang menikah denganku adalah Ibra, bukan Mamanya."


Jawab cerdas Kanaya membuat Ibra hampir tersedak, pria itu mengusap wajahnya kasar sembari tersenyum Kemudian. Nampaknya Kanaya tidak selemah itu meski lawannya adalah wanita semacam Olivia, pikir Ibra.


Tatapan sinis Olivia benar-benar mengusik Kanaya, wanita itu mengepalkan tangan dan dia tidak bisa menerima ini. Olivia mengusik kelemahannya, Kanaya terluka dengan kalimat yang Olivia lontarkan kali ini.


"Sepertinya begitu, aku benar kan?" tanyanya kembali dengan senyum penuh kemenangan di sana.


PLAK


Kanaya menghadiahkan tamparan keras di sana, rasanya perih, panas dan sakit berpadu. Suaranya sangat amat renyah terdengar, sepertinya Kanaya memamg ahli dalam tampar menampar, pikir Ibra.


"Kau!!"


PLAK


Belum sempat melanjutkan pembicaraannya, tangan Kanaya sudah mendarat untuk kedua kalinya. Wanita itu benar-benar kehilangan akal setelah mendengar hinaan terakhir yang Olivia berikan.

__ADS_1


"Bagaimana? Masih kurang? Aku bisa menampar mulutmu jika mau," tambah Kanaya menatapnya tanpa berkedip, dadanya seakan ditekan kala Olivia mengatakan bayi dalam kandungannya sebagai anak haram.


"Kau benar-benar ingin bermain denganku, Jallang!" geram Olivia hendak membalas tamparan Kanaya, namun belum sempat mendarat di pipi mulus lawannya, Ibra lebih dulu bertindak dan mencekal tangan Olivia begitu kasarnya.


"Kamu bela dia, Mas? Hah?" tanya Olivia dengan mata yang kini sama merah dengan pipinya, bekas merah akibat jari Kanaya masih tergambar jelas di sana.


"Kau sepertinya benar-benar gila ya ... dia istriku, jelas aku membelanya!! Apa kurang jelas bagimu?!!"


"Keluar!!"


Ibra menarik paksa tubuh Olivia dan hendak mendorongnya keluar, bersamaan dengan itu security terlambat di dunia itu datang dengan perasaan gugup karena Ibra sudah semarah itu.


"Mas, kamu nyakitin aku!! Lepasin, sakit!!" lirih Olivia kembali menangis, wajahnya mengiba dan meminta Ibra baik hati sedikit.


"Kalian dari mana hingga butuh waktu selama itu untuk sampai di sini? Macet, hah?!!" bentak Ibra kesal bukan main, hendak marah juga pada Gavin tapi kasihan dengan wajah lesunya karena alat tempur yang masih ting-ting itu sepertinya benar-benar lemas.


"Ma-maaf, Tuan ... tapi lift memang benar-benar rusak jadi kami lewat tangga darurat." Mereka mengelak, membuat alasan yang sangat amat tidak masuk akal menurut Ibra tapi kenyataannya memang begitu.


"Kenapa kepala kalian tidak ikut rusak juga sekalian?"


"Maafkan kami, Tuan."


"Bawa dia keluar dari sini, dan ingat wajahnya jelas-jelas!! Jangan sampai wanita ini masuk ke perusahaan meski hanya selangkah, paham kalian?!!"


Mata Olivia membulat sempurna, dia benar-benar terbuang di mata Ibra. Matanya menatap Kanaya dari jauh dengan penuh dendam. Wajahnya begitu menyedihkan, perlakuan kasar bukan hanya dia dapat dari Ibra dan Gavin, tapi juga kedua security itu.


BRAK!!


Ibra menutup pintu dengan kasarnya, sementara Gavin kini berdiri di sana dengan ngilu dan sakit yang masih tersisa. Wajahnya bahkan pucat, bisa jadi Gavin sakit satu minggu kemudian.


"Ckck, kasihan sekali ... kau masih bisa berjalan, Gavin?" tanya Ibra khawatir, bahkan ketika dia mendekat, Gavin mundur pelan dan spontan melindungi adik kecilnya.


"Sinting, aku tidak akan memegangnya," ujar Ibra membuat Kanaya dan Gavin bergidik seketika, keduanya sama-sama malu dan seakan tak mendengar ucapan Ibra.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2