
"Mas, tadi di kantor aku ketemu Gavin."
Kanaya membuka pembicaraannya, pria itu sejenak terdiam dan menatap wajah istrinya. Wajah serius yang sepertinya akan bertanya sesuatu, tebak Ibra asal-asalan.
"Lalu?"
Ibra kembali meletakkan surat kabar yang menurut Kanaya sangat aneh dibaca malam hari. Seakan tak punya waktu lain dan ini nampak aneh.
"Hm, kebetulan aja ... dia asisten kamu kan, Mas? Atau siapa?"
Demi apapun, Kanaya belum memahami bagaimana hubungan mereka sebenarnya. Jika mereka sahabat, kenapa Gavin memanggil tuan, jika memang Gavin asisten, lalu Ibra kerjanya apa, pikir Kanaya.
"Hanya teman ... Gavin memang banyak pekerjaan, Nay."
Kanaya mengangguk mengerti, Kanaya belum berani bertanya lantaran takut mengganggu privasi Ibra. Walau memang mereka suami istri, akan tetapi Kanaya tidak selancang itu untuk tahu semua dalam sekali waktu.
"Hm, gitu, iya sih keliatannya dia pintar dan tangkas juga, wajar saja banyak kerjaan."
Ibra menarik sudut bibir, pria itu menatap kagum Kanaya yang tak terlalu sibuk mengusik dan menggali lebih dalam seperti wanita lainnya, Ibra suka Kanaya dan malam ini dia kembali jatuh cinta dengan alasan itu pada sang istri.
"Oh iya, tadi siang di kantor ada berita duka ... ih aku merinding jadinya," ucap Kanaya lagi, dia mulai membuka diri untuk membicarakan hal random bersama pasangannya.
"Berita apa?" tanya Ibra seakan penasaran sekali, pria itu bersedekap dada sembari menatap Kanaya dengan tatapan seriusnya.
"Direktur utama meninggal dunia, dan ini beneran berita paling menggemparkan! Bahkan ni ya, tukang bubur depan kantor aja kaget!!" seru Kanaya, bukan berlebihan tapi memang nyata kematian pria itu membuat heboh bukan hanya sebatas karyawannya saja.
"Kenapa bisa heboh, bukannya kematian adalah hal wajar?" tanya Ibra kini menopang dagunya, tidak sama sekali kaget tapi dia justru tertarik dengan cara bicara Kanaya yang luar biasa semangat.
__ADS_1
"Ini aneh, Mas! Semuanya tu seakan janggal, pak Wedirman memang nggak masuk beberapa hari terakhir, tapi sebelum itu dia baik-baik saja, jadi tidak ada konfirmasi dia sakit ... lalu tiba-tiba kabarnya dia meninggal," ungkap Kanaya tiba-tiba menghela napas pelan, bukan karena dia sedih kehilangan seperti Lorenza. Akan tetapi kali ini dia menyayangkan keadaan dan curiga akan kematian mendadak Wedirman.
Ibra mendengarkan dengan seksama, tanpa memotong penjelasan Kanaya sama sekali. Masih sesekali dia tersenyum lantaran menyadari fakta istrinya secantik itu.
"Lalu bagaimana?" tanya Ibra seoalah kurang mendengar penjelasan Kanaya, wanita itu menatap sekilas sang suami sebelum meneruskan bicaranya.
"Ya gitu deh, semuanya jadi merasa kehilangan ... bahkan Lorenza nangis kejer-kejer karena mikirin nasib putrinya," lanjut Kanaya kembali mengingat bagaimana Lorenza tersedu-sedu seakan menjadi keluarga inti Wedirman.
"Kasihan, semuanya termasuk kamu, Naya?" tanya Ibra penuh selidik, andai saja istrinya menjawab iya alangkah kesal rasanya Ibra.
"Enggak, Lorenza dan lainnya aja, aku cuma merasa kaget aja nggak sekalut itu." Kanaya sejujur dan sepolos itu, dia bahkan tak takut mengungkapkan apa yang dia rasakan.
"Lorenza memang bodooh sekali, buang-buang air mata untuk menangisi keluarga sampah."
Pria itu berucap sedikit kesal dengan nada biaranya sedikit meninggi. Nampak kebencian di sana dan Kanaya jelas menangkapnya hingga menimbulkan rasa curiga.
"Ha? Tidak, ma-maksudnya untuk apa menangisi seseorang yang bukan keluarganya, aneh sekali temanmu itu." Ibra tengah mengelak, dia hampir kelepasan dan tak bisa menahan diri.
Kebenciannya pada mendiang sang paman sekaligus anak tunggal Wedirman masih sangat membekas. Pria itu diberi kepercayaan penuh untuk memimpin salah satu perusahaan yang didirikan oleh Megantara sewaktu hidup, namun pada akhirnya mereka berusaha mengambil alih dan merebut aset keluarga Ibra dengan mengatasnamakan dia dan Zora adalah hal yang membuat Ibra menyamakan mereka sebagai sampah.
Sementara di sisi lain, Kanaya yang mendengar jawaban Ibra sebelumnya hanya mengangguk berkali dan membenarkan jika Lorenza memang luar biasa aneh. Tidak kenal secara pribadi, bahkan jika saja Zora bertemu dengannya sama sekali takkan melirik Lorenza. Bisa-bisanya wanita itu justru sesedih itu memikirkan nasib Zora kedepannya.
-
.
.
__ADS_1
.
"Naya, tidurlah ... hampir jam 10," ucap Ibra kemudian mengajak istrinya berbaring, menarik Kanaya dalam pelukan walau sebenarnya Kanaya merasakan gerah malam ini.
"Mas, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Kanaya ragu, sejak hari pertama menikah ini mengganggu pikirannya, tapi entah kenapa lidahnya sangat kelu untuk hanya sekadar bertanya.
"Boleh, tanyalah, Naya." Ibra menjawab pelan, pria itu mengelus pundak sang istri sembari menanti kantuk yang belum juga ia dapati.
"Maaf, tapi semoga Mas tidak tersinggung ... kalau boleh tau, orangtua kamu ada dimana? Sejak awal menikah kamu nggak cerita apapun, apa kamu menyembunyikan aku dari orangtua kamu, Mas?" tanya Kanaya pada akhirnya terluapkan jua, pertanyaan bertubi yang membuat Ibrahim tiba-tiba terhenyak dan merasa telah menyakiti sang istri sebelumnya.
"Bu-bukan begitu, Kanaya ... papa meninggal sejak aku masih 17 tahun, sementara mama kehilangan nyawanya ketika aku lahir ke dunia ...." Belum selesai penjelasan Ibra, Kanaya yang merasa bersalah luar biasa sontak duduk dan menatap wajah Ibra penuh sesal. Sungguh dia tidak berpikir bahwa Ibra akan mengalami hal semenyakitkan itu.
"M-maaf, aku tidak tau jika Mas sesulit ini ... harusnya aku tidak perlu bertanya," sesal Kanaya merasa sangat tak nyaman, tapi kemudian Ibra hanya tersenyum sembari menggeleng pelan.
"Tidak, kamu memang seharusnya tau dari awal, semua salahku karena tidak membuka diri padamu." Ya, walau memang menyakitkan jika harus mengukit luka lama, tapi Kanaya punya hak untuk mengetahui bagaimana kisah hidupnya.
"Kalau mereka semuanya pergi, artinya Mas sendirian?" tanya Kanaya kemudian, jika memang itu terjadi wajar saja Ibra begitu takut dirinya lepas, pikir Kanaya.
"Tidak, Mas masih punya mama ... setelah mama meninggal, papa menikahi adik kandung mama karena Mas tidak bisa minum susu formula ketika bayi, kata papa begitu."
Penjelasan Ibra membuat Kanaya melongo, artinya Ibra masih memiliki seorang Ibu, tapi kenapa Ibrahim tidak membawa dirinya pada sosok mama yang Ibra maksudkan, batin Kanaya mulai bergejolak dengan sejuta kecurigaan yang kian tak bisa ia kuasai.
"Lalu saat ini beliau dimana?" tanya Kanaya sopan, dia butuh penjelasan akan hal ini, sorot tajam meminta Ibra segera mengatakan karena Kanaya enggan mati penasaran.
"Ada, di luar kota ... suatu saat Mas akan pertemukan kalian, tapi tidak sekarang, Kanaya." Dia tidak sepenuhnya berbohong, tempat mereka tinggal memang berbeda kota walau tak sejauh itu. Ibra Mencoba meminta pengertian Kanaya, bukan dia jahat atau bagaimana, tapi mengenalkan Kanaya pada Indira saat ini sama saja dengan bunuh diri, pikirnya.
TBC
__ADS_1