Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 71


__ADS_3

Di jam makan siang, Gavin sudah dibuat gila dengan kedatangan wanita sinting tak tau aturan ini. Ketidakhadiran Ibra sudah cukup membuatnya rumit, ditambah lagi dengan wanita ini yang memaksa masuk ke ruangan Ibra padahal berkali-kali Gavin jelaskan pria itu tidak ada.


"Kau bohong kan? Dimana suamiku?"


Gavin memejamkan mata, sungguh kepalanya sakit tiba-tiba. Kenapa ada wanita tak memiliki malu seperti ini. Beruntung saja di tempat ini hanya ada dirinya, andai ada orang lain posisi Ibra tentu dalam bahaya.


"Kau tidak paham bahasa manusia sepertinya, lagipula Ibra itu bukan suamimu ... camkan itu."


Pria itu tak pernah kasar sebelumnya, sekalipun pada Lorenza yang kerap menuntut penjelasan perihal keadaan Kanaya, dia tak seemosi ini sebelumnya. Wajah Olivia benar-benar membuatnya muak luar biasa.


"Terserah apa katamu, buktikan jika aku memang mantan istrinya ... akta cerai, bisa?" tantang Olivia dengan nada merendahkan Gavin.


"Lalu dengan statusmu sebagai istri bagaimana? Tunjukkan padaku buku nikah kalian, ada?"


Jawaban paling pas yang membuat wanita itu terdiam seketika. Sepertinya kedua wanita itu tidak menyerah, setelah berkali-kali Indira meminta Ibra pulang sejak perutnya bermasalah namun tak Ibra gubris, kini Olivia turun tangan.


"Lancang kau padaku!! Kau lupa aku siapa?!! Aku menantu keluarga Megantara, Gavin ... sementara kau?"


Bukannya takut, Gavin malah tersenyum miring mendengar pengakuan Olivia. Sungguh percaya dirinya melebihi apapun itu. Andai Ibra dengar, mungkin dia akan menatap Olivia lebih rendah dari ini.


"Aku tidak lupa kau siapa, Olivia ... sepertinya kau yang lupa dirimu siapa, sadar sebelum Ibra membuatmu bernasib sama seperti Zora."


Itu adalah ancaman, dan hal itu mereka ketahui sejak kematian Wedirman sampai ke telinga Indira. Walau itu adalah kabar yang cukup baik menurut Indira, akan tetapi dari kejadian mereka harusnya Indira maupun Olivia mampu berkaca.


"Tutup mulutmu!!" teriak Olivia menggema, dadanya kembang kempis memperlihatkan bela han itu dengan jelas, pemandangan yang harusnya mengguncang batin justru membuat Gavin jijik tiba-tiba.


"Tidak perlu berteriak, kau tidak terlihat menakutkan sama sekali," ungkap Gavin kemudian berlalu, dan pasca Gavin berlalu Olivia nekat masuk ruangan Ibra secara paksa.


BRAK


"IBRA!!"


"Ays!! Dasar merepotkan!!"


Gavin berlari, menahan Olivia yang sudah berada di dalam ruangan Ibra. Mungkin wanita itu berpikir akan lebih cepat bertemu Ibra jika dia memaksa masuk, sayangnya yang ia lihat kini hanya kekosongan belaka.

__ADS_1


"Kau masih tidak percaya? Lihat sendiri, apa ada Ibra? Tidak kan!!" Berusaha setenang mungkin, dia hanya berusaha agar Olivia tidak berjalan menuju meja kerja Ibra.


Olivia susah payah menahan napas, dia merasa pasokan udara di tempat ini seakan tak cukup untuk melegakan pernapasannya. Dia putus asa dan kehilangan cara, Ibra benar-benar tidak bisa dihubungi secara pribadi kalaupun itu Indira yang melakukannya.


"Kau yang merencanakan ini semua kan?"


Gavin mengerutkan dahi, apa yang dimaksud Olivia sebagai rencananya, pikir pria itu bingung.


"Semenjak dia berhasil pergi dari rumah, mas Ibra jadi semakin sulit dihubungi dan bahkan Mama yang meminta anaknya pulang karena sakit hanya bisa menghubungimu saja ... jika bukan ulahmu, lalu siapa lagi yang mengaturnya?" Olivia menatap Gavin dengan mata tajam yang kini sudah terlihat memerah, wanita cengeng itu nampaknya mulai mengeluarkan senjata andalannya.


"Bukankah kalian harusnya bersyukur Ibra masih memberi kesempatan untuk bisa menghubungi aku? Menurutmu, aku yang mengatur hidup Ibra atau Ibra yang memberiku perintah?"


Pria itu paham bagaimana kesalnya Indira dan Olivia. Satu bulan sejak rencana jahatnya yang dilakukan dengan begitu baik oleh Ningsih, ternyata faktor umur membuat Indira justru menderita sakit lainnya hingga wanita itu terpaksa dibawa ke rumah sakit.


Ibra bukan tak peduli, tapi dia memilih cari aman dengan mengandalkan Gavin dan para pekerja di rumahnya untuk memastikan Indira. Dia tak sebodoh itu dan mana mungkin dia mau jatuh ke lubang yang sama. Selemah-lemahnya Indira, kaki tangannya tak bisa Ibra anggap sepele.


"Pergilah, dan aku ingatkan kau jangan pernah kembali kesini," tegas Gavin tak peduli meski wanita itu merasa tinggi, toh yang menjadi istri Ibra adalah Kanaya, bukan Olivia.


"What? Kau mengusirku lagi?" Olivia tak terima, meski demikian Gavin tak peduli sama sekali.


-


.


.


.


Keluar dengan langkah panjang dan kaki sengaja ia hentakkan sebagai pelampiasan kekesalannya. Olivia terlalu fokus dengan kekesalan hingga dia tidak bisa mempertahankan dirinya ketika menabrak seseorang dari arah berlawanan.


BRUGH


"Aww!! Kau tidak lihat jalan?!!" sentak Olivia meraih tas mahalnya itu cepat-cepat, penuh emosi dan lebih emosi lagi kala menyaksikan wanita di depannya yang begitu santai dengan kopi di tangan kanan dan roti di tangan kirinya.


"Ups, sowry ... kecelakaan, biasa aja kan bisa."

__ADS_1


Baru saja bertemu, wanita itu sudah ngajak ribut. Dan Olivia begitu percaya diri hingga tak menyadari siapa lawannya kini. Lorenza, wanita cantik dengan jemari yang begitu lentik terlihat santai sekali padahal dia sudah menabuh genderang perang.


"Woah, sepertinya kau perlu diberi pelajaran ya."


"What? Situ nggak salah? Aku yang korban di sini," ungkap Lorenza tak merasa bersalah sama sekali. Dia memang tak salah, dan wanita itu yang justru menabraknya seenak jidat.


"Sepertinya kau hanya staff biasa ... cih berani sekali berulah, aku bahkan bisa membuatmu kehilangan pekerjaan dengan sekali jentikan jari."


Sombong sekali, selamanya dia akan terus begitu. Membanggakan posisi Ibra yang dia ketahui telah menjabat sebagai Direktur utama di tempat ini membuatnya semakin merasa merdeka.


"Aww seram, memangnya kau siapa? Ah aku jadi takut dibuatnya," tantang Lorenza sembari menikmati kopi hitam kesukaannya, kebetulan saat-saat begini ice coffe sangat ia perlukan.


"Kau belum mengenalku rupanya ... ehem, istri Ibra." Olivia berucap dengan dada yang membusung dan tangan masih ia lipat di atas perut.


"Pppffftttt"


Dalam detik yang sama kopi itu menyembur ke wajah dan dada Olivia. Wanita itu meradang, wajahnya merah padam dan berteriak mengutarakan emosi yang luar biasa itu.


Lorenza tak sengaja, dia bahkan baru sadar kala membuka mata, wajah dan baju putih Olivia yang sedikit terbuka itu sudah ternoda dan bahkan basah.


"Waw, halumu membuat lidahku terkejut." Lorenza bahkan tak tergerak minta maaf, Olivia yang marah kini mengangkat tangan hendak mendaratkan pukulan di wajah Lorenza.


"Dasar mura han!!!"


"Olivia!! Jangan berbuat gila di sini!!" Gavin menahan tangan Olivia yang hendak menyakiti Lorenza, pria itu menghempaskan Olivia kasar bahkan wanita itu hampir terhuyung.


"Kau lupa apa yang kukatakan?!!"


Olivia menatap Lorenza penuh dendam, dia mengepalkan tangan dan matanya menatap tajam ke arah Gavin yang telah menghalanginya.


Pasca Olivia berlalu, Lorenza terdiam sejenak memahami ucapan Olivia sebelumnya. Wanita itu menghela napas pelan, entah kenapa dia merasa ini bukanlah hal baik.


"Apapun yang kau dengar dari mulutnya, jangan percaya dan cukup berhenti di dirimu saja, Lorenza ... aku mohon." Gavin menatap lekat manik Lorenza yang masih terjebak dalam kebingungannya, dia masih butuh waktu untuk memahami maksud Olivia beberapa saat lalu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2