Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 92


__ADS_3

"Kamu mau apa?" Gibran hanya menatapnya datar, pertanyaan Kanaya seakan angin lalu yang akan Gibran jawab dengan tindakannya.


"Ikut aku!!"


Menarik paksa Kanaya ke dalam ruangannya, sekasar itu Gibran memperlakukan istri orang hanya karena rasa sakit yang dia ciptakan sendiri.


Brak


Pintunya tertutup dan mata Kanaya membulat kala dia menyadari bahwa kini sudah benar-benar berada di ruangan Gibran lagi.


"Kamu sepertinya harus diberi pelajaran sedikit ya, Nay, sombong sekali ... Mas sakit sekali rasanya."


"Badjingan, jauhkan tanganmu."


"Hahaha, mari kita lihat, sejauh apa kamu berani berteriak padaku, Kanaya."


Napas Kanaya memburu, dia ingin berteriak tapi sentuhan jemari Gibran di bibirnya membuat Kanaya membeku untuk sesaat. Tangan yang tadinya hanya menyentuh bibir pada akhirnya berubah menjadi cengkraman di dagu.


Sakit? Tentu saja, Gibran benar-benar gila sepertinya. Pria itu mengunci tangan Kanaya di atas kepala, Gibran membuat Kanaya benar-benar tak berdaya. Kali ini, dia tidak seperti hendak menyentuh Kanaya dengan cinta, tapi membuat Kanaya celaka.


"Sakit, Naya?" tanya Gibran dengan suara datarnya, dia tengah menikmati Kanaya yang kini kesulitan bernapas.


Berusaha sekuat mungkin menyingkirkan tangan Gibran, napasnya sudah tersengal sementara hendak menendang dia tidak bisa karena tungkai bawahnya juga dikunci oleh pria itu.


"Kau serendah itu melakukan hal semacam ini pada wanita, Gibran?!!"


Kanaya tidak mengiba, sampai kapanpun dia takkan pernah mau berada di posisi rendah dan mengalah pada Gibran. Bertahan sekuatnya sembari berharap Ibra akan datang secepatnya.


Dia masih bisa menatap sinis Gibran meski cengkraman itu cukup menyakitkan, pertanyaan Gibran menjelaskan jika dirinya menginginkan Kanaya merasakan sakit.


"Mengiba, Kanaya ... siapa tau hatiku luluh untuk melepaskanmu," titah Gibran dengan senyum kemenangan di sana, melihat Kanaya yang tersiksa memang obsesi Gibran sejak dulu.


"Najish!! Mas Ibra nggak akan pernah ampuni kamu setelah ini, jangan merasa menang hanya karena tindakan pengecutmu ini."


Melakukan penyerangan saat dia sendirian, dan wanita itu sedang hamil. Sungguh luar biasa bukan cara Gibran menyusun strategi ala pecundang.


"Kamu benar-benar berubah, Nay ... sesombong itu."


Merasakan perbedaan sikap Kanaya yang kontras bagaikan langit dan bumi membuat Gibran merasa terdzolimi. Selama ini dengan fakta bahwa Ibra segala-gala darinya dan membuat anggota keluarga Mahatma juga lebih suka memuji Ibra daripada dia.

__ADS_1


Gibran merasa kalah, dia hancur dan merasa tidak ada harga diri sama sekali. Khaira menuntut dirinya harus berada di atas dan Abygail yang mengetahui sifat buruknya sehingga pria itu dijauhi sang kakak ipar. Itu adalah alasan Gibran melampiaskan kegilaannya ketika bertemu Kanaya.


"Sombong? Cih, bukankah sampah sepertimu harusnya tidak digubris sama sekali?"


Jawaban Kanaya masih selalu ada, dan Gibran selalu dibuat terhenyak setiap Kanaya usai bicara. Cengkraman itu belum terlepas, dan sama sekali Gibran belum berniat untuk membiarkan Kanaya lolos.


"Kanaya!!" bentaknya tertahan sembari mendekatkan wajahnya dengan perasaan kecewa.


Merasa kehilangan kata, apapun yang Gibran lakukan tak pernah berhasil membuat Kanaya bertekuk lutut. Napasnya menggebu bersamaan dengan dada yang kini kembang kempis.


"Tadinya aku berpikir dengan menakutimu begini akan berhasil, tapi ternyata nyalimu besar juga, Kanaya alexandra?"


Gibran melepas cengkraman di dagunya kasar, menghimpit tubuh dan menekan dada Kanaya dengan sengaja dan wanita itu merasa kesakitan tentu saja.


"Aaarrrggghhh!! Mas Ibra!!!"


Dia berteriak sebisanya, kala dadanya kian sakit Kanaya tak lagi memilkirkan bagaimana pandangan orang lain nantinya. Teriakan sekencang itu dia harap akan terdengar jelas di telinga siapapun jika Ibra memang belum kembali.


"Panggil!! Dia tidak akan datang, Kanaya!!"


Melihat wajah Kanaya kian memerah, dia semakin merdeka. Dia tahu Ibra pergi biasanya cukup lama, dan kali ini adalah kesempatan, dan dia tidak peduli sekalipun bawahannya datang karena tidak akan ada yang berani menghentikannya, itu pikiran Gibran.


.


.


BRAK


"Badjingan!! Apa yang kau lakukan!!"


Di saat yang tepat, Ibra datang dengan mendorong kasar pintu itu. Kanaya menatap ke arah sana, wajah marah Ibra ia rindukan saat ini.


Dengan langkah panjang, dia datang dan menyerang Gibran tanpa basa basi. Kanaya menarik napas lega dan kakinya terasa lemas tiba-tiba. Gavin membimbing Kanaya untuk menjauh dan membiarkan Ibra berkuasa atas diri Gibran.


"Kau benar-benar cari mati, aarrrrggghhh!!"


Serangan membabi buta terus saja dia berikan, tak memberi kesempatan Gibran membalasnya. Bahkan jika bisa menarik napaspun tidak Ibra berikan kesempatan.


BUGH

__ADS_1


"Kau menyerang wanita hamil tanpa perasaan bersalah, dia istriku dan kau tidak pantas menyentuhnya, Badjingan!!"


"Uhuk-uhuk, jika me-mang ...."


BUGH


"Diam!! Aku tidak memintamu bicara!!" sentak Ibra kembali menghadiahkan bogem mentah di wajah Gibran.


Pria itu terengah, darah mengucur bukan hanya dari bibir tetapi juga hidungnya. Nampaknya Gibran memang ingin merasakan serangan yang sempat membuat Adrian hampir celaka.


Tubuh Gibran yang kini lemas Ibra paksa untuk kembali berdiri, pria itu kehilangan kendali dan membenturkan kepala Gibran ke tembok beton itu. Sekalipun harus dia jadi pembunuh siang ini, Ibra tak peduli.


"Tamat kau kali ini, kau pikir aku akan memberikan kesempatan yang sama? Kau bisa tiba di neraka dengan segera, Gibran," desis Ibra sebelum memberikan serangan terakhir, menghadiahkan tendangan sekeras itu tepat di dada Gibran yang kini telah tergeletak tak berdaya.


Darah berceceran di lantai, Ibra tidak mengizinkan siapapun di luar sana ikut campur. Karena bagi Ibra jika mereka ingin masuk sudah terlambat dan tidak berguna sama sekali.


"Itu akibat kau masih berani menyentuh istriku dengan tangan kotormu itu," ucap Ibra dengan nada sedingin itu.


Gibran berusaha bertahan hidup dengan pasokan udara yang seminim itu. Dia terbatuk kecil dan darah yang mengalir di hidungnya semakin membuatnya sulit untuk bernapas lega.


Rumah sakit? sama sekali Ibra tak berpikir untuk itu. Dia lebih suka jika Gibran dikirim ke kediamannya dengan keadaan begitu kalau perlu tak lagi bernyawa.


Pria itu keluar dari ruangan Gibran dengan tatapan tajam seolah hendak menguliti siapapun yang ada di sana. Ibra meminta mereka bubar dan tutup mulut tanpa perlu ikut campur sedikitpun jika ingin hidup aman.


Hanya ancaman kecil yang ternyata mereka turuti dan bahkan tak satupun yang berani memutuskan untuk masuk ke dalam sana.


Ibra segera ke ruangannya, yang ada di pikiran pria itu hanya Kanaya. Gavin membawa istrinya ke sana dan saat ini dia yakin Kanaya takkan baik-baik saja.


"Mas."


Ibra tidak menjawab ketika panggilan itu dia dengar, pria itu memeriksa tubuh istrinya dalam diamnya. Setelah memberikan kode untuk Gavin agar mengurus sisanya, kini perhatian Ibra terfokus pada istrinya.


"Apa yang dia lakukan sebelum aku datang? Hm?" tanya Ibra menyeka keringat Kanaya, merah di area dagu dan dekat leher Kanaya dapat Ibra lihat dan itu amat menyakitkan.


"Dia menciummu?" tanya Ibra dingin dan Kanaya hanya menggeleng pelan, dia masih shock dengan perlakuan kasar Gibran.


"Jangan menangis, Mas bukan marah, Nay." Ibra menarik istrinya dalam pelukan, Kanaya bukan menangis karena mengira Ibra marah, tapi memang dia ingin saja dan kehadiran Ibra saat ini spontan membuat hatinya meraung begitu saja.


"Maaf," lirih Ibra mengeratkan pelukannya, nyatanya membawa Kanaya saat ini benar-benar bahaya besar. Ibra hanya terjerat dalam sesal dari apa yang dia lakukan.

__ADS_1


To Be Continue.


__ADS_2