
"Tuan, tunggu sebentar ... ponselku ketinggalan."
"Gavin ayolah, kau jangan gila!!"
Ibra sudah gemetar, jantungnya berdebar tak karuan. Firasatnya memang sudah tidak begitu baik sejak tadi pagi, demi memastikan dia tiba dengan cepat Ibra yang memegang kendali.
Yang ada di pikiran Ibra saat ini hanya Kanaya. Bahkan Gavin lupa jarak tempuh seharusnya karena memang Ibra secepat itu. Andai kata mereka melewati semak belukar mungkin jadi bersih ketika Ibra melewati jalannya.
Sebagaimana alamat yang diberikan Axel, pria itu turun dan tak peduli dengan Gavin yang masih mengatur napas di dalam mobil. Kepalanya terasa sedikit sakit bahkan perutnya benar-benar mual.
Ibra melangkah panjang dengan sorot tajamnya mengedar seakan hendak menguliti siapapun yang ada di sana. Hingga tak butuh waktu lama dia sudah tiba ke tempat Kanaya berada.
"Aaarrrggghhhh, Kanaya!!! Sakit!!"
Teriakan itu menggema, yang melahirkan siapa namun yang teriakannya lebih luar biasa justru Lorenza. Segera Ibra menggantikan posisi Lorenza di sana, kasihan sebenenarnya melihat keadaan istri Gavin itu.
"Ya Tuhan lamaaaa banget, Bapak ... rambutku sampe rontok semua lihat," lirih Lorenza menghela napas panjang, lega dan benar-benar merasa selamat dari genggaman Kanaya.
"Maaf, Lorenza ... silahkan kau keluar."
Ibra tidak terlalu memerhatikan lantai yang Lorenza tunjuk. Yang jadi pusat kekhawatirannya saat ini adalah Kanaya, itu saja. Istrinya susah payah mengatur napas, mana mungkin dia akan peduli pada wanita lain.
Sakit itu pasti, tidak ada proses melahirkan normal tanpa rasa sakit. Akan tetapi Kanaya berusaha untuk tidak seheboh itu, terutama kala ada Ibra di sisinya. Genggaman tangan sang suami seakan benar-benar memberikan ketenangan untuknya.
"Dok berapa lama lagi?"
Kesal sekali rasanya Ibra, dia baru saja tiba beberapa menit lalu dan menemani susah payahnya Kanaya berjuang. Akan tetapi Ibra sudah merasa ini benar-benar lama, sangat lama.
"Sabar, Pak ... tolong tenang, Anda jangan panik."
__ADS_1
"Jangan panik gimana? Istriku kesakitan Anda minta saya untuk tenang?" gertak Ibra tak habis pikir, air mata Kanaya sudah membuat hatinya pedih, belum lagi rintihan yang sesakit itu dapat Ibra lihat di wajahnya.
"Mas," lirih Kanaya masih dalam keadaan sadar dan meminta Ibra jangan membuat masalah, cukup Lorenza saja yang membentak wanita itu sejak tadi lantaran mengatakan terlalu lama.
"Iyaaa, Mas di sin... Hmmppppp ya Tuhan." Ibra memejamkan mata, sakit luar biasa kala Kanaya meraih rambutnya setelah kembali merasakan sakit yang bersumber dari sana.
Wajar saja Lorenza bahkan frustasi, ternyata rasanya sesakit ini. Wanita itu mengikuti apa yang katakan dokternya. Mata Ibra kian mengembun, bukan hanya karena sakit di jambak Kanaya melainkan hatinya yang terasa sakit luar biasa.
"Mama!!!" rintih Kanaya di puncak rasa sakitnya, kasih sayang Widya yang sempat ia rasa beberapa waktu terakhir kembali Kanaya rindukan saat ini.
Perkiraan yang tidak tepat, Ibra juga tidak menduga jika kelahirannya tak sesuai dugaan. Antara hidup dan mati, berjuang dalam genggaman sang suami, Kanaya berusaha bertahan dengan sisa tenaganya hingga tangis itu terdengar sebelum kemudian dia terpejam.
"Dok?"
Senyumnya terbit sesaat, namun tidak begitu lama karena dia sadar sang istri kini justru tak berdaya dalam pelukan. Genggamannya terlepas dan bibir Ibra bergetar, hendak berteriak dia seakan tak bersuara.
"Sayang," panggil Ibra menepuk pelan pipi Kanaya lembut, pria itu panik tentu saja.
"Naya!! Jangan becanda, Nay ... tolonglah."
Suasana di dalam ruangan itu tak hanya dipenuhi kekhawatiran Ibra, tapi semuanya. Pria itu tak peduli dengan rasa malu atau dianggap cenggeng, matanya sudah membasah dan tidak mungkin pasrah begitu saja dengan cara kerja dokter yang menurut dia lambat.
"Kalian semua mau aku mati?!! Apa yang kalian lakukan, kenapa hanya diam?!!" bentak Ibra dengan mata yang kini memerah, padahal dokter tidak diam dan mereka bergerak sebagaimana mestinya melakukan tanggung jawab sesuai tuntutan profesinya.
"Mohon ditunggu, Pak ... semua akan baik-baik saja."
Tidak ada janji dokter yang Ibra percaya, dahulu papanya juga sama. Dokter mengatakan bahwa sang papa akan baik-baik saja, nyatanya sang papa bahkan pergi sebelum kata itu diucapkan.
******
__ADS_1
Di sisi lain, Lorenza dan Siska tengah menguping di luar ruangan. Terasa sulit namun tetap akan mereka usahakan, Gavin sudah meminta istrinya menunggu dengan tenang, namun sepertinya memang sulit mengatur manusia liar itu.
"Udah lahir belom?"
"Diem makanya, ini juga lagi usaha." Siska menatap datar wanita di hadapannya kala jemari Lorenza mendarat di bibir tipisnya.
"Aku nggak sabar, pasti anaknya cowok."
"Menurut aku sih cewek, soalnya Kanaya anteng dan nggak banyak ulah pas hamil," tutur Lorenza yakin seratus persen jika yang akan dilahirkan Kanaya adalah seorang putri.
Tanpa mereka ketahui jika yang terjadi sesungguhnya saat ini adalah Ibra yang menangis dan khawatir luar biasa tentang istrinya.
"Kita taruhan aja gimana?"
"Taruhan gimana?" tanya Lorenza serius, ini adalah peluang yang biasanya dia akan beruntung luar biasa.
"Kalau tebakan aku bener, kamu bayar arisan aku bulan depan."
"Oke!! Tapi kalau aku bener kamu yang beliin aku mobil baru!!" balas Lorenza tak mau kalah, sejak kapan juga dia mau rugi dalam segala sesuatu.
"Enak aja mobil, bannya aja mau?"
"Dih makasih, aku juga bisa beli sendiri kalau cuma bannya."
"Kalian berdua bisa diam sebentar? Hargai bi Ningsih, doa kan bisa ... atau lakukan hal lain selama menunggu, kamu sudah dewasa, Za."
Pada akhirnya Gavin tak bisa menahan amarahnya, dia tarik Lorenza halus namun dengan sedikit tenaga. Siska yang dengan sendirinya sadar kini duduk di sisi Ningsih yang tengah khusyu berdoa sembari sesekali menatap pintu ruangan Kanaya tengah berjuang.
Ada perasaan yang tidak nyaman, Ningsih menatap cemas dan kemudian berdiri kala pintu itu terbuka. Baginya, Kanaya adalah wanita yang harus ia jaga layaknya Ibra kecil dulu, maka dari itu kecemasan Ningsih sama halnya bagai kecemasan seorang ibu pada anaknya.
__ADS_1
Tbc