
Sibuk dengan dunianya masing-masing, Kanaya mungkin sedang menikmati bahagianya dalam pelukan Ibra. Sementara Lorenza kini dalam kekuasaan Gavin yang mengharuskan dia memegang payung dengan alasan panas.
Terjun ke lapangan dan menyaksikan tempat pembangunan yang baru, Gavin benar-benar menggantikan peran Ibra. Lorenza kesal luar biasa, dan wajahnya sudah berubah masam sejak tadi.
"Panas?" tanya Gavin dengan matanya yang mengecil, jelas saja panas! Wajah Lorenza yang sudah memerah meski dia menggunakan sunscreen setebal itu sepertinya tidak berperanguh untuk hari ini.
Matanya mendelik tajam di balik kacamata hitam itu, cuaca hari ini memang ngajak ribut. Dia tidak mungkin mendekat karena bagaimanapun juga Gavin adalah orang asing bagi Lorenza.
"Masih nanya, tentu saja, Bapak."
Gavin menahan senyumnya, pria itu sepertinya kurang mengerti penderitaan Lorenza. Tidak peka sama sekali dengan keringat yang ngucur di keningnya.
Beberapa kali Lorenza kerap menangkap pemandangan manis yang mana Ibra akan menyeka keringat Kanaya. Sementara dia, rasanya hal semacam itu akan percuma dia harapkan.
"Mendekat boddoh, kau bisa terbakar."
Gavin menggeleng, entah kenapa gadis ini begitu bodoh, pikirnya. Pria itu menarik lengan Lorenza hingga tubuh mereka lebih dekat demi bisa sama-sama berlindung di bawah payung hitam itu.
"Sudah kukatakan ganti rokmu, keras kepala sekali."
Penyesalan di wajah Lorenza begitu jelas sebenarnya. Akan tetapi, wanita itu tetap pura-pura tak masalah sama sekali demi menutupi rasa malu dan gengsinya.
Apa yang Gavin katakan memang benar, seharusnya Lorenza tidak menggunakan rok seketat itu dan pakaian seperti itu tidak cocok jika dibawa keluar begini. Bukan tanpa alasan dia melakukannya, semua demi kebaikan wanita itu.
"Ck, lakukan saja tugasmu ... setelah itu kita pulang, aku tidak kuat di sini."
Lorenza akhirnya mengeluh, rasanya dia ingin berlari ke mobil dan membuka semua bajunya. Panas sekali, memang dia yang salah kali ini, Lorenza hanya mengerucutkan bibir mendengar semua ocehan Gavin.
"Jangan lagi-lagi kamu kumat begini, Nay."
Dia bermonolog, karena hal semacam ini berawal dari Kanaya yang menginginkan hal dadakan bersama Ibra. Wanita itu menggigit bibirnya berkali, Gavin betah mungkin karena terbiasa, tapi sayang semua itu tidak berlaku untuknya.
Hingga beberapa saat kemudian dia bernapas lega kala Gavin mengatakan selesai dan mereka bisa kembali. Wanita itu menyesuaikan langkah panjang Gavin, sungguh pria yang tidak memikirkan orang lain, pikir Lorenza.
"Kau kira aku sopirmu, duduk depan."
Gavin kesal kala Lorenza justru memilih duduk di belakang layaknya nyonya rumah. Dan Lorenza yang juga lelah enggan berdebat dan dia pindah ke depan tanpa keluar dari mobil lebih dulu.
"Lorenza ... apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
"Bapak bilang pindah kan?"
"Keluar dulu bisa kan?"
Tak habis pikir Gavin dengan tingkah Lorenza. Tanpa dosa dan dia sudah duduk manis di sisinya, wanita itu melakukan hal yang benar tapi tidak dapat dibenarkan.
"Kalau ada yang mudah kenapa harus yang susah," tuturnya santai, Lorenza sudah terlalu lelah bahkan terkena matahari sedikit saja dia sudah enggan.
"Menyesal aku mengajakmu."
Pria itu menggeleng pelan, entah itu bentuk brontaknya karena terjebak dengan suasana sepanas itu hingga membuat Lorenza memperlihatkan dengan jelas bagaimana lelahnya.
"What? Menyesal? Bapak lihat sendiri ... MERAH!!"
Lorenza menunjukkan kakinya yang kemerahan lantaran cahaya matahari yang luar menyiksa kulit putih wanita cantik itu. Dan Gavin yang melihat kaki mulus itu hanya melonggarkan dasi dan pura-pura tidak melihat apa yang Lorenza tunjukkan.
"Pak, jangan lihat ke samping dong ... kaki saya lihat," pinta Lorenza menepuk pelan pundak Gavin, pria itu sudah susah payah menghindari dan kini dibuat harus melihat oleh wanita itu.
"Salah sendiri, sudah kukatakan ganti celana dan kamu pembangkang, Lorenza."
Benar juga, memang ini salah Lorenza. Dia pikir tidak akan sepanas itu, dan menemani Gavin takkan selama itu namun yang terjadi justru sebaliknya.
.
.
.
Menjelang sore, hembusan angin pantai membelai lembut wajah Kanaya. Dari jarak beberapa meter Ibra memperhatikan langkah istrinya, sebahagia itu Kanaya kala hamparan pasir putih yang ia pijaki itu terasa basah.
Selama ini memang Ibra memberikan apa yang Kanaya inginkan. Akan tetapi perihal waktu mereka sedikit terhambat karena tanggung jawab Ibra sebagai penerus Megantara Group cukup besar.
Punggung polos istrinya membuatnya semakin cantik dipandang mata. Lambaian tangan sang istri dan suara indahnya masih membuat batin Ibra bergetar. Andai Tuhan masih baik, Ibra hanya ingin kehidupannya bersama Kanaya semakin baik.
"Kamu suka laut, Mas?" tanya Kanaya singkat, Ibra hanya terdiam sesaat sebelum kemudian dia menggeleng pelan.
"Kenapa?"
"Laut, Mas menyukainya ... 17 tahun lalu, selebihnya tidak lagi."
__ADS_1
Tidak ada yang Ibra sukai semenjak kepergian sang papa. Jika beberapa orang akan menyukai tempat-tempat yang pernah menjadi kenangan, Ibra justru sebaliknya.
"Tapi kenapa Mas mau dan nggak nolak tadi pagi?"
Kanaya menatap bingung suaminya, sorot tajam Ibra memang menunjukkan ada ketakutan dan kesedihan di sana. Pria itu mengelus puncak kepala Kanaya, nampaknya sang istri mulai berpikir terlalu panjang terkait ucapannya.
"Karena kamu suka," jawabnya lembut, Ibra bisa mengalah namun dia takkan bisa menolak keinginan istrinya.
Bagi Ibra, untuk saat ini keinginan Kanaya adalah hal utama yang harus dia berikan bagaimanapun keadaannya. Menyaksikan senja yang memerah, sembari menanti terbenamnya mentari di ufuk sana. Dalam pelukan Ibra dan sentuhan pasir putih di kakinya, semua terasa lebih indah.
"Mas."
"Iya, kenapa?"
"Lepas, gimana dong."
"Apanya yang lepas, Sayang?"
"Tali bra ku, benerin dong."
Merusak suasana khidmat penantian senja yang berkilau ini. Ibra terkekeh mendengar permintaan Kanaya, pengait bra nya terlepas dan itu tidak pernah dia duga.
"Mas! Kamu kok ketawa sih! Benerin buruan."
Bukannya bergerak cepat, Ibra sibuk mentertawakan istrinya yang kini tengah kebingungan. Pasalnya di tempat ini tak hanya mereka, sementara Ibra tidak memiliki jaket atau sebagainya untuk Kanaya jadikan solusinya.
Layaknya seseorang yang menikmati suasana pantai, Ibra hanya menggunakan celana dan tidak mengenakan apa-apa di atasnya. Matilah dia, tidak mungkin minta dipeluk sampai pulang, pikir Kanaya bingung sendiri.
"Hahaha, kenapa juga bisa lepas."
"Ini nggak lucu Ibra, cepetan benerin."
Mudah saja sebenarnya, pakaian Kanaya tidak terlalu rumit untuk Ibra meraih benda keramat itu. Akan tetapi, pria itu masih ingin menikmati paniknya Kanaya karena hal itu.
"Ibra? Ibra? Ulangi, siapa katamu? Hm?" desak Ibra mengacak rambut istrinya, rasanya masalah sekali jika istrinya memanggil hanya dengan nama.
"Mas, tolong ... aku nggak nyaman," pinta Kanaya mengulang ucapannya, berada di posisi terdesak memang membuat Ibra kerap merdeka dan merasa menang di atas Kanaya.
Tbc
__ADS_1