
"Baiklah, Khaira ... sepertinya telingamu perlu diperbaiki lebih dulu, setelah mendengar ini buka matamu yang tertutup debu itu!! Pertama, sebelum menilai istriku sebagai wanita murahaan, ada baiknya kau pastikan lebih dulu siapa yang sebenarnya murahan!! Istriku, atau suamimu?"
"Kedua!! Mungkin dahulu kau bebas menghardiknya dan bicara semaumu tentang Kanaya, tapi kali ini tidak!! Aku suaminya dan kau berurusan denganku!!"
Pembukaan yang cukup membuat hati Khaira bergetar. Wanita itu mendadak gentar padahal Ibra baru mengawalinya.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu dan hampir semua isinya membuat telinga dan hati Khaira sakit.
"Kenapa?"
Widya menatap bingung pada Khaira yang kini terdiam. Sebelumnya dia berkata ingin menghubungi Kanaya karena merasa marah Gibran diperlakukan layaknya hewan oleh Ibra.
Sayangnya, niat Khaira yang sebelumnya berapi-api justru ciut seketika begitu mendengar ancaman balik Ibra yang juga akan menghancurkan Khaira. Wanita itu baru menjalani karir sebagai dokter satu tahun lalu, dan Ibra mengancamnya akan bernasib sama seperti Gibran.
"Sudah bicara sama Kanaya?" tanya Widya penasaran, dia juga ingin tahu pengakuan putrinya, jika benar apa yang Gibran katakan sungguh Widya tak bisa memaafkannya.
"U-udah, Ma ... aku ke mas Gibran dulu ya," tutur Khaira dengan suara bergetar, selain ancaman, pernyataan Ibra terkait kejadian sebenarnya semakin membuat tulang Khaira seakan patah dalam sekali hentakan.
Dia hancur, jika benar suaminya berbohong, alangkah tidak berharganya dia di mata Gibran. Wanita itu mengepalkan tangannya, mengeraskan rahang dan giginya seakan bergemulutuk.
"Benar-benar nggak ada hati."
Sakit sekali rasanya, bukan hanya malu yang dia dapat dari Ibra. Akan tetapi juga luka yang begitu luar biasa. Kanaya tidak menjelaskan apa-apa karena sepertinya Ibra tak mengizikannya bicara, kali ini Khaira benar-benar kalah telak dari seorang Kanaya Alexandra.
"Keluar kalian!!" sentak Khaira di ruang perawatan, wanita itu memang tidak ada sopannya sama sekali.
Kemarahan yang membekas di hatinya lebih besar dari segalanya hingga dia membuat kekacauan ketika kembali ke ruang rawat Gibran.
"Kamu kenapa lagi?"
Frustasi Mahatma melihat kelakuan putrinya, pemarah dan benar-benar tidak bisa ditebak. Wanita itu menatap tajam sang papa dan Abygail yang membuang napas kasar kemudian berlalu setelah mendengar Khaira mengusirnya.
"Ada yang perlu aku bicarakan bersama Gibran, Papa tidak perlu ikut campur."
Mahatma menggeleng, putrinya memang tidak terselamatkan lagi. Dia sama sekali tidak berarti di mata wanita itu, rasanya sesakit itu mengetahui fakta Kanaya memang lebih menganggapnya seorang papa.
__ADS_1
Gibran yang merasakan hawa tak aman ini tengah mencari cara agar tidak menimbulkan hal buruk. Pria itu kembali pura-pura tidur dan berharap Khaira mengira dia kembali tak sadarkan diri.
-
.
.
"Dia bilang apa, Mas?" tanya Kanaya setelah Ibra menyudahi panggilannya, pria itu tersenyum tipis dan mengacak rambut istrinya.
Ibra mengembalikan ponsel Kanaya, setelah beberapa menit menjadi pembela sang istri, Ibra hanya bisa menghela napas pelan. Saudara Kanaya sama gilanya, pria itu bergidik mengingat sekeras apa suara Khaira yang persis seperti orang kurang se-ons.
"Hapus nomornya, untuk apa kamu masih berhubungan dengan sampah seperti itu, Kanaya?" Ibra berdecak heran, dia saja bahkan memblokir semua nomor yang sekiranya tidak penting, sementara Kanaya masih bersedia menyimpan nomor orang-orang yang telah menyakitinya.
"Hm, ini aku hapus."
Kanaya menurut, memang benar kata Ibra, sesuatu yang melukai ada baiknya dibuang karena potensinya untuk menyakiti akan semakin besar.
Dia hanya penasaran bagaimana tanggapan Khaira mendengar gertakan Ibra. Kalimat yang Kanaya sendiri takut ketika mendengarnya. Ibra membuat Khaira tak berani berkutik, sebagai wanita yang menjunjung tinggi karir dan pencapaiannya jelas saja dia takut dengan ancaman Ibra.
"Mandi sana," titah Ibra lembut, dia mencebik karena pertanyaannya terkait Khaira tak Ibra jawab.
"Kamu?" tanya Kanaya seolah kesal Ibra perintahkan mandi tiba-tiba.
"Mas udah, satu jam lalu."
Dia memang sudah sempat membersihkan diri, Ibra memintanya untuk mandi segera karena memang sudah waktunya. Malas sekali rasanya, Kanaya bukannya segera beranjak ke kamar mandi tapi justru kembali merebahkan tubuhnya di tepian ranjang.
"Kanaya!! Mandi, Sayang," pinta Ibra sekali lagi, dan wanita itu masih bertahan dengan posisinya.
"Lima menit lagi, Mas ... ngantuk banget," ucap Kanaya sebegitu manjanya, Ibra tak berhasil dengan suara maka artinya harus dengan tindakan.
"Mandi, kamu betah tubuh kamu bekas keringat semua setelah bermain tadi siang, hm?"
Kanaya terperanjat kaget kala Ibra kini menbawanya ke kamar mandi. Hari sudah hampir gelap dan istrinya ngeyel. Ibra tak sesabar itu pada Kanaya, meski istrinya berteriak sejadi-jadinya Ibra tetap bersikeras untuk berkontribusi agar mandi Kanaya lebih cepat dengan bantuannya.
__ADS_1
Meninggalkan dua pasangan yang berbanding terbalik situasinya. Di tempat lain kini Olivia kembali mengamuk tak jelas pada Indira karena sang mama yang dia sebut sebagai kesayangannya itu tidak memberikan respon panik ketika dia bercerita tentang kekasaran Kanaya.
BRAK!!
"Mama diam aja? Aku ditampar loh, Ma!!" desak Olivia kesal luaar biasa.
"Selesaikan dulu makanmu."
Makan malam yang tidak dapat mereka nikmati sama sekali. Indira yang masih makan sendiri tanpa peduli kemarahan Olivia. Sementara wanita itu sejak tadi hanya marah dan bahkan nasinya sudah hampir dingin.
"Nggak nafsu," jawabnya mendorong makanan yang sama sekali belum dia jamah. Keinginan Olivia untuk makan hilang begitu saja.
Indira kehilangan cara, makin kesini Olivia semakin menjadi. Wanita itu memejamkan mata dan melanjutkan makan malamnya.
Dalam pengawasan Ningsih, bagaimana tingkah Olivia jelas terekam di telinganya. Wanita itu mencebik begitu menyadari Olivia memang tak pantas berada di meja makan keluarga Megantara.
"Kanaya menamparku bukan sekali, tapi dua kali!! Bisa-bisanya Mama hanya diam begini," keluh Olivia tak habis pikir, jika dia ingat rasanya malu sekali.
"Kanaya?"
Indira menghentikan makannya, dia menatap tajam ke arah Olivia. Nama itu Olivia sebutkan juga pada akhirnya, setelah sebelumnya dia enggan mengatakan siapa nama istri Ibra, kini lidahnya secara tak sengaja membukanya.
"Iya, Kanaya."
Sifat Indira yang kerap diam setelah usai bertanya ini melekat dalam diri wanita paruh baya itu. Olivia menatapnya dengan penuh tanya dan merasa wanita di depannya ini semakin menyebalkan saja.
"Mama ayolah!! Dia hamil, Ma!! Mama harus tau ini," tambah Olivia yang membuat Indira memicingkan mata, menatap serius Olivia dan dadana terhenyak mendengar hal ini.
"Kamu tidak bercanda? Ibra sebentar lagi punya anak, Olivia?"
"Iya!! Mama tetap akan tinggal diam?"
"Kamu mau Mama melakukan apa? Bukankah kamu sendiri telah melakukan lebih dari yang Mama bisa? Gunakan akal sehat dan tubuhmu itu dengan baik, kamu tau sendiri kan Mama sakit!!" ucapnya sarkas dan Olivia hanya bisa terdiam mendengar ucapan Indira.
To Be Continue.
__ADS_1