Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 51


__ADS_3

Hiruk pikuk kota berjalan seperti biasa, macet bukanlah hal yang membuatnya meluapkan emosi. Bersamaan dengan jam pulang kerja, jadi wajar saja hal semacam ini terjadi.


Belum lagi Ibra yang melaju pelan, sangat pelan lantaran hati-hati untuk Kanaya. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh sedikit cepat, kali ini lebih lambat dari biasanya.


Tiba pun Ibra masih melakukan hal sama, membukakan pintu untuk Kanaya bahkan pria itu rela berlari karena takut Kanaya akan lebih bertindak duluan. Dia tidak berlebihan, hanya saja memang begini cara Ibra memperlakukan wanita yang dicintainya.


"Naya, besok jangan gunakan sepatu itu lagi."


Dia berucap seraya meniti perjalanan menuju pintu utama. Menggenggam tangan istrinya dengan lembut namun tak semudah itu lepas, bahasa cinta pria ini nampaknya memang berbeda dari Gibran.


"Kenapa?" tanya Kanaya mengerutkan dahi, pasalnya ini adalah yang paling nyaman menurutnya.


"Terlalu tinggi, kamu hamil, Kanaya."


Ibra menghela napasnya pelan, kenapa istrinya harus bertanya soal ini. Bukankah dia seharusnya sadar, pikir Ibra.


"Iya, besok nggak lagi."


Walau sebenarnya sangat sulit untuk Kanaya bisa menerima, tapi kali ini entah kenapa dia memilih menurut tanpa berkata tapi atau mengutarakan banyak alasannya.


Perlahan Kanaya memahami, Ibra memang sosok yang menciptakan perintah dan itu harus dituruti. Membiasakan diri untuk membuang egonya yang pantang diatur laki-laki memang cukup sulit, tetapi di sisi lain Kanaya sadar apa yang Ibra katakan semua ada baiknya.


Drrrt Drrrt


Baru saja masuk kamar, ponsel Kanaya bergetar dan itu bukan sekali. Berkali-kali dan tentunya ini mendesak, Kanaya melihat sejenak pada Ibra, sedikit takut Ibra takkan memberikan izin untuknya.


"Siapa?" tanya Ibra dingin tiba-tiba, melihat gurat wajah Kanaya yang terlihat gugup entah kenapa batinnya tak suka.


"Mas Aby," jawab Kanaya singkat, demi apapun dia masih setakut itu Ibra memendam amarah pada Abygail.

__ADS_1


"Oh, jangan diangkat."


Kanaya membeliak kala ucapan itu Ibra cetuskan dengan wajah datar dan kini dia menjauh sembari melepas kemejanya, semudah itu suasana hati Ibra berubah, sorot tajam itu membuat Kanaya takut dan merasa suaminya bukan Ibra yang biasa.


Hendak menurut kata suaminya, tapi panggilan Abygail itu kembali masuk dan ini sudah yang ketiga kali. Kanaya khawatir, tentu saja dia khawatir. Pikiranya mulai macam-macam dan merasa bersalah jika terus mengabaikan Abygail dengan sengaja.


Masih terpaku di posisinya, sementara Ibra kini telah berlalu ke kamar mandi. Kanaya spontan melakukan hal yang memicu amarah suaminya. Merasa tak tega mengabaikan sang kakak, Kanaya melanggar larangan Ibra karena berpikir tidak akan ada masalah jika Ibra tak mengetahuinya.


"Hallo ... kenapa, Mas?" tanya Kanaya sedikit berbisik, dia mulai mengambil langkah pelan keluar kamar.


"Tidak, tiba-tiba rindu saja ... kamu baik-baik saja, Kanaya?"


Pertanyaan Abygail masih sama, seperti setiap kali dia kerap menghubungi adiknya. Walau sebesar itu luka yang dia berikan malam itu, namun ketika begini Kanaya seakan merasa lebih baik dan bersyukur sang kakak masih merindukannya.


"Baik, Mas bagaimana?"


Kanaya gugup, dia bertanya dengan sangat kecil dan batinnya tengah khawatir. Abygail kembali menghubungi dan mengungkapkan rindu. Dia hanya takut ada sesuatu yang tidak beres dengan kakaknya ini.


"Bisa, Mas ... besok Nay ...."


Belum sempat Kanaya menyelesaikan ucapannya, wanita justru terkejut bukan main kala ponselnya diambil paksa secara tiba-tiba dari arah belakang. Kanaya menoleh dan kini mata itu membulat sempurna kala melihat Ibra sudah menatapnya dengan tatapan tajam dan wajah kecewa.


Salah besar, Ibra bukan mandi melainkan hanya cuci muka. Air yang menetes di dagunya masih begitu nyata dan artinya Ibra bahkan tak lama di kamar mandi.


"M-mas?" Kanaya susah payah menelan salivanya, apa mungkin Ibra akan marah? Sungguh jika memang iya, dia akan sangat takut.


"Kanaya!! Hallo ... Naya, kamu masih dengar Mas kan? Nay, kamu baik-baik saja?"


Ibra mendengar dengan jelas Abygail panik memanggil Kanaya, tanpa pikir panjang Ibra mematikan sambungan teleponnya sepihak. Tanpa kata dan tanpa meminta izin dari Kanaya.

__ADS_1


"Kamu lupa Mas bilang apa?"


Mata Ibra tak melepaskan Kanaya, wanita itu bingung tentu saja. Ibra benar-benar sependendam ini dan dengan mudahnya, Ibra melempar ponsel Kanaya ke sudut kamar.


Untuk pertama kalinya, Kanaya menemukan sisi kasar dari dalam diri Ibra. Wanita itu menatap ponselnya di sudut kamar, memang tidak Ibra banting sekuat tenaga tapi tetap saja apa yang Ibra lakukan membuat Kanaya terhenyak.


Dia selesai setelah melemparkan ponsel Kanaya? Tentu saja belum. Pria itu menunduk menyesuaikan tinggi Kanaya, tidak ada sorot marah pada istrinya dan pria itu kini merapikan anak rambut wanitanya dengan lembut.


"Mas tidak suka dibantah, Kanaya ... jangan ulangi jika tidak mau Mas marah lebih besar lagi, paham?" Ibra tidak membentak, sama sekali tidak. Akan tetapi, hati Kanaya bahkan lebih ciut daripada dibentak sekeras apapun.


"T-tapi dia kakakku, Mas." Kanaya tidak merasa salah di sini, tapi sepertinya Ibra tak terima alasan apapun itu.


"Tidak peduli, Kamu hanya milikku ... dan Mas tidak sudi jika kamu memberikan hati untuk seseorang yang memberikan luka dalam hidup kamu."


Kanaya hanya mengangguk pasrah, marah seseorang yang begini belum pernah dia temui. Dia tak bisa paham sebenarnya Ibra kenapa, apa benar tak memberikan izin karena perlakuan Abygail kala itu.


"Mandi sana, kamu lelah kan," ucapnya seakan semua baik-baik saja, Ibra bisa kembali seakan tak ada masalah sebelumnya.


Hanya anggukan, Kanaya tak bisa berucap lagi. Suaranya tercekat di tenggorokan padahal yang ingin dia tuntut adalah penjelasan. Walaupun Ibra seakan tak marah sama sekali, hanya saja untuk bertanya lidahnya seakan kelu.


Menatap punggung istrinya yang kini menjauh, Ibra menatap ponsel yang mungkin saja sudah mati di ujung sana. Pria itu mengepalkan tangan sembari mengeraskan rahangnya. Giginya kini bergemelutuk dan napasnya seakan tercekat kemudian membuat dadanya terasa sakit.


Ibra marah, tapi bukan untuk Kanaya. Pantang baginya memberi hati untuk seseorang yang menggap istrinya hina. Tak peduli mau sebaik apa Abygail sebelumnya, yang jelas bagaimana Abygail saat itu adalah hal yang takkan pernah ia lupa.


Kanaya hanya miliknya, tidak ada yang boleh kembali setelah menggores luka. Kalaupun Kanaya yang meminta, dia tidak akan rela.


"Berani sekali kau menghubunginya lagi."


Hanya sebuah panggilan, dan itu belum memberikan kejelasan Kanaya akan benar-benar kembali seperti dulu pada Abygail, tapi Ibra sudah semarah itu.

__ADS_1


TBC


Menurut kalian, Ibra mengambil tindakan yang benar atau salah?


__ADS_2