Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 89


__ADS_3

Ibra berdecak pelan, meski dia tidak pernah merasakan serangan tepat di sana, akan tetapi dapat dipastikan rasanya memang akan sangat menyiksa. Gavin menolak ke rumah sakit dan lebih menolak lagi kala Ibra menghubungi Imron, salah satu sahabat karibnya yang merupakan seorang dokter.


"Arrgh aaarrrrrrgggghhhh!! Saya akan keluar sekarang, Tuan!! Tidak perlu panggilkan dokter ataupun menyarankan saya ke rumah sakit, Robert baik-baik saja, santai."


Ibra tidak yakin sama sekali, pasalnya Ibra tidak melakukan apa-apa dan Gavin setakut itu. Dia bahkan mencoba berlari, tapi sangat sulit mengambil langkah. Wajah cengengesan Gavin yang sebenarnya menahan malu lantaran Kanaya mencuri dengar interaksi mereka adalah alasannya.


"Robert?" Ibra menautkan alisnya, beberapa saat dia perlu memahami maksud dari ucapan Gavin.


"Iya, bukankah milik Tuan juga punya nama?"


Ada-ada saja, Ibra tertawa sumbang kemudian menatap Kanaya sekilas. Wanita itu membuang pandangan dan pura-pura tak mendengar apa yang mereka katakan.


"Aku bahkan lupa dia punya nama, kenapa kau bisa ingat, Gavin?"


Itu sudah sangat lama, bahkan ketika Ibra masih remaja. Mereka cukup dekat, namun Dewata yang merupakan ayah dari Gavin selalu menegaskan pada putranya jika status mereka berbeda. Panggilan tuan pada Ibra adalah hal yang Dewata biasakan sejak kecil, bukan karena permintaan Ibra.


"Kebetulan, karena tidak banyak hal yang saya ingat selain itu tentang Anda."


Wajah Ibra berubah seketika, sungguh pernyataan Gavin membuatnya menghela napas panjang. Hanya sebatas itu kenangan Gavin tentang dirinya, benar-benar mengharukan, pikir Ibra.


"Kau hanya mengingat pertemanan kita sesederhana itu?" tanya Ibra tak percaya, padahal masa kecil mereka dihabiskan bersama sejak taman kanak-kanak.


Meski memang Ibra tidak sebebas itu karena Indira mengharuskan dia belajar dan belajar serta menegaskan pada Ibra bahwa bermain dengan siapapun itu hanya menghambat kesuksesan.


"Ck, lupakan ... itu masa lalu juga."


Dia sendiri yang bersedih karena Gavin hanya ingat sedikit tentangnya, kini dia juga yang meminta Gavin tidak membahasnya.


Siang ini dia kecolongan, walau dia sangat marah bahkan ingin menelan Gavin bulat-bulat, tapi keadaan Gavin membuatnya selamat dari amukan Ibra. Pria itu hanya meminta Gavin agar mengerahkan anak buahnya untuk memata-matai orang suruhan Indira yang Ibra takutkan justru mulai bergerak diam-diam bersamaan dengan Olivia yang kini nekat menghampiri Ibra ke perusahaan.


"Selama ini mereka terpantau dan belum ditemui berkeliaran di kota ini, Tuan."


Ibra mengangguk mengerti, syukurlah jika memang begitu. Meski, kebersamaan Ibra dan Kanaya yang sudah sampai kepada Indira itu membuatnya khawatir, kala mendengar penuturan Gavin dia sedikit lebih tenang.


"Bagaimana dengan kesehatan Mama?"

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, Ibra masih sempat menanyakan keadaan wanita itu. Setelah biasanya Gavin yang selalu mengabarkan, kini Ibra bertanya meski nampaknya raut khawatir tidak begitu jelas di sana.


"Masih seperti beberapa hari terakhir, Tuan, gula darah Nyonya naik dan Ningsih berkali-kali meminta maaf pada saya dan Tuan sejak kemarin."


Ibra tak marah, walau tahu sebab mamanya bisa begitu karena kerja sama fenomenal antara Gavin dan Ningsih yang melampiaskan dendam pada wanita paruh baya itu.


"Hm, pantau terus ... jangan biarkan dia bergerak sebebasnya."


Gavin mengangguk mengerti, tanpa Ibra perintahkan sebenarnya dia akan lakukan. Pesan Dewata yang selalu dia ingat, Ibra sangat manja dan selamanya pria itu harus dijaga meski fisiknya tampak sekuat itu.


-


.


.


.


Pria itu kemudian berlalu juga pada akhirnya. Kanaya yang sejak tadi menunggu di meja Ibra hanya tersenyum menatap suaminya kini. Bagaimana Ibra yang membelanya di hadapan wanita tak tahu malu itu masih membekas dalam pikiran Kanaya, walau ada ucapan dari Olivia yang hingga kini masih mengganggu pikirannya.


"Akan lebih bahaya jika aku tidak kamu ajak hari ini," tutur Kanaya menarik sudut bibirnya, bagaimana amukan Olivia tadi menjelaskan jika memang Ibra masih diakui wanita itu sebagai hak patennya.


"Kamu baik-baik aja kan, Sayang?"


Kanaya mengangguk, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Olivia tak sempat membalasnya. Sebelumnya Kanaya tidak pernah bertengkar sehebat ini bersama wanita, baru Olivia yang mendapat tamparan dua kali dalam waktu hitungan menit.


"Kamu hebat, Mas pikir bakal diem."


"Dia begitu masa aku harus diem, yang istri kamu itu aku, kenapa ngalah?"


Kanaya mencebik, masih kesal dengan Ibra yang tadi melarangkan melakukan serangan pada Olivia. Sungguh dia kesal luar biasa dan ingin sekali mengutuk Ibra rasanya.


"Pintar, jago bela diri ternyata istri Mas."


"Berantem tepatnya, Mas." Kanaya menbenarkan kalimat Ibra.

__ADS_1


Sebenarnya tidak juga, itu baru separuh dari keahlian dalam bertengkar yang Kanaya punya. Dia bukanlah jago bela diri layaknya karate, pencak silat atau semacamnya. Yang Kanaya bisa adalah peka terhadap lingkungan dan antisipasi terhadap lawan.


Otaknya secara spontan memberikan respon dan meminta tangannya untuk menyakiti lawan. Begitulah cara Kanaya mempertahankan hidup, sebagaimana ajaran Abygail tentang melindungi diri dari serangan lawan


"Iya, apapun itu ... kamu hebat, Mas suka."


Ibra menarik sudut bibir, walau dia paham alasan Kanaya tak mampu lagi menahan diri adalah rasa sakit terkait bayinya yang Olivia anggap sehina itu. Bukan hanya Kanaya, tapi Ibra juga terluka.


"Sayang," panggil Ibra menatap lekat istrinya, mereka begitu dekat, tapi entah kenapa Ibra harus memanggil Kanaya lebih dulu.


"Iyaa, kenapa, Mas?" Suaranya sangat lembut, bagaimana tidak seorang Ibra luluh dalam pelukan wanita ini.


"Maaf, kali ini kamu dan anak kita mendapatkan hinaan karena Mas yang hadir dalam hidup kamu ... maaf ya, Sayang."


Kanaya menghela napas perlahan, Ibra selalu meminta maaf untuk hal yang bukan menjadi salahnya. Dia harus jelaskan berapa kali jika tidak ada kesalahan Ibra yang mengubah hidupnya.


"Mas nggak salah, tidak ada yang perlu disesali, semua sudah terjadi dan aku menerima semua ini sebagai anugerah," tuturnya sedamai itu, Kanaya bahkan merasa bersalah dahulu sempat menolak kehadiran bayinya. Satu hal yang hingga sampai kapanpun akan selalu Kanaya sesali, dia bahkan sempat berpikir membunuh anak itu di malam Ibra nekat melamarnya.


"Hm, terima kasih untuk hal ini." Untuk alasan apapun, Ibra sangat amat berterima kasih dengan Kanaya yang serela itu mengubur mimpinya tentang karir atau apalah itu demi menjalani peran sebagai istri Ibra seutuhnya.


Kanaya mengangguk pelan, pelukan suaminya kini terasa amat menenangkan. Ibra mengelus pundak Kanaya pelan-pelan, menciptakan rasa nyaman dan membuat wanita itu seakan tak bisa lepas dari Ibra.


"Mas ...."


"Hm, apa, Sayang?" sahut Ibra sangat lembut, matanya masih terpejam menikmati hangatnya pelukan itu.


"Punya kamu namanya siapa? Aku penasaran juga," celetuk Kanaya membuat suasana romantis mereka buyar seketika, bisa-bisanya Kanaya membahas hal yang sempat dia bahas bersama Gavin sebelumnya.


"Pertanyaan kamu apasih, Naya, otak Gavin tidak perlu ditiru, Sayang."


"Tapi aku penasaran, Mas, siapa? Pasti ada juga namanya." Kanaya ngeyel dan membuat Ibra tak kuasa menahan tawanya.


"Ck, hentikan otak mes*ummu, Gavin memang benar-benar harus dihajar," omel Ibra sembari mencubit bibir Kanaya yang dengan usilnya membahas hal itu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2