Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 47


__ADS_3

Gibran memukul angin, pria itu bahkan menjadi perhatian beberapa orang di sana. Wajah yang merah padam bersamaan dengan tatapan kilat pada pada siapapun di sana menjadi citra seorang Gibran Anggareksa rusak.


Pria tampan dengan pembawaan tenang dan wajah penuh keramahan itu seakan hilang di telan begitu saja. Dia tak peduli, yang jelas kala dia melihat Kanaya yang di matanya semakin segar dan cantik luar biasa hatinya kalang kabut. Panas dan sungguh dia tengah menyalahkan keadaan.


"Ck, semudah itu kau melupakan aku, Naya?"


Melonggarkan dasinya dengan perasaan yang sama sekali tidak ada baiknya. Kanaya membuatnya ditutup kabut kecemburuan yang padahal tidak berhak sama sekali. Niat hati membuat Kanaya menyesal dan memohon padanya dengan menikahi Khaira, nyatanya justru batin Gibran yang tertekan.


Bagaimana harinya kedepan, di rumah bertemu Khaira yang senantiasa marah dan meluapkan emosinya dan di kantor dia justru bertemu Kanaya yang semakin cantik saja.


Pria itu kembali ke ruangannya, sudah hampir terlambat untuk seorang Gibran baru memulai pekerjaan jam segini. Walau sebenarnya Kanaya berada di bawah kuasanya namun akan sulit membuat Kanaya kembali, terutama ada Ibrahim yang dia sendiri belum kenal betul siapa pria itu.


Meninggalkan Gibran yang kini ngomel tiada henti, Kanaya justru dibuat terkejut dengan kejutan rekan kerjanya. Meja Kanaya penuh dengan hadiah pernikahan dan bisa ditebak isinya tidak ada yang waras.


"HAPPY WEDDING, KANAYA ALEXANDRA!!"


Sungguh, teriakan mereka bahkan menimbulkan kecurigaan di luar sana. Kanaya terharu? Tidak juga, yang ada dia sedikit malu dan geli dengan semua yang mereka lakukan.


"Akhirnya Gibran Anggareksa tergantikan dari hati Kanaya Alexandra, mari tepuk tangan!!!" seru Sandora, wanita cantik berambut keriting itu kala Kanaya justru menatapnya sembari menaruk sudut bibir.


Tak banyak yang mengetahui kedekatan Kanaya dan Gibran yang lumayan lama itu. Hanya mereka yang memiliki mulut anti bocor yang paham tentang hubungan mereka.


Begitupun dengan pengkhianatan Gibran, mereka mejadi saksi dari galaunya Kanaya berhari-hari setelah putus dari Gibran. Sempat depresi bahkan berpikir pindah kerja dan jadi guru ekonomi di salah satu sekolah swasta demi menghindari Gibran kala itu, beruntung saja Kanaya tak benar-benar melakukannya.


"Buka, Nay!! Kalau nggak muat kasih aku aja."


Kebiasaan, lelucon Lorenza menjadi bahan tertawaan mereka. Yang mendapat kejutan Kanaya dan yang bahagia adalah Lorenza. Lucu sekali, pikir mereka.


Kanaya menghargai semua yang mereka berikan, walaupun yang kini dia dapatkan tak henti-hentinya membuat ruangan semakin heboh.


"Pengaman buat setahun, Nay ... cukup lah ya?" tanya Sandora sembari sebegitu polosnya kala Kanaya menatapnya usai membuka hadiah spesial darinya.

__ADS_1


"Ih Sandora!! Kenapa kasihnya pengaman sih ... bukannya mereka harus punya baby segera?" tanya Hanifah heran, pertanyaan yang sontak membuat Lorenza tersedak ludahnya sendiri.


Mereka tidak mengetahui alasan di balik pernikahan dadakan Kanaya. Mereka mengira semua baik-baik saja dan tidak ada yang aneh karena Kanaya bukan wanita macam-macam.


"Nggak bisa, Kanaya harus gantiin posisi Gibran dulu baru boleh hamil."


Kanaya hanya menggigit bibir bawahnya, mereka berdebat perihal anak sementara zigot di perutnya sudah semakin berkembang.


Hanya menatap Lorenza sekilas, dan wanita itu hanya mengedipkan mata kemudian dia turut membaur bersama yang lainnya.


Lima orang yang memang cukup dekat meski tak sedekat Siska dan Lorenza. Berpura-pura merasa hal ini lucu membuatnya seidkit tidak nyaman. Meski Kanaya paham bahwa mereka tidak mengetahui, jadi wajar saja mereka seperti ini.


BRAK


Pintu dibuka paksa dan mereka sontak melirik bersamaan, mencari penyebab kenapa bisa pintu itu dibuka paksa sekasar itu.


"Bisakah kalian berhenti? Ini kantor, bukan kos-kosan. Murahhan sekali cara kalian!!"


Gibran, demi apapun Kanaya kaget kala mata tajam itu melihat ke arahnya. Kalimat yang keluar dari bibir Gibran seakan tertuju untuk Kanaya, dan demi apapun dia takut bahwa Gibran akan mempermalukannya.


Perintah Gibran di jam kerja tentu saja harus dia ikuti. Kanaya paham bahwa memang Gibran patut dia hormati saat ini. Akan tetapi, jika pria itu hanya menggunakan jabatan untuk membuatnya tunduk, demi Tuhan Kanaya tidak terima.


-


.


.


.


"Gibran Anggareksa, baru naik jabatan enam bulan lalu karena memang pria itu memiliki potensi, Tuan."

__ADS_1


Ibra masih butuh waktu untuk membaca profil keseluruhan yang Gibran miliki. Pria itu menyeringai seakan meremehkan pria yang pernah menjadi kekasih istrinya itu.


"Hm, yakin karena potensi? Bukan curang seperti kasus yang lainnya, Gavin?" tanya Ibra ragu, melihat wajah Gibran yang memang tidak lebih tampan darinya pikiran Ibra sudah tak sejernih itu.


"Entahlah, Gibran naik jabatan pada saat pak Wedirman yang memimpin di sana ... perihal kecurangan saya belum tahu pasti, Tuan."


Karena cara Gibran menjilat bukan sembarang, mengambil hati pimpinan dengan cara selicik itu dan ini tidak akan terdeteksi dengan data atau semacamnya.


"Pria itu, sudah kau pastikan dia mati, Gavin?"


"Benar, Tuan ... Imron tak sengaja memukulnya dan ternyata berakibat fatal."


Sebenarnya Gavin merasa takut, karena sebelumnya Ibra tak meminta untuk benar-benar menghabisinya. Namun, karena anak buag Gavin memiliki tingkat emosi yang lebih tinggi dari gedung pencakar langit hal itu tidak dapat terhindarkan sama sekali.


"Zora bagaimana?"


"Nona Zora baik-baik saja, Tuan ... saya sudah mengirimnya ke Australia dan saya pastikan dia tidak akan bisa kembali ke sini."


Ibra mengangguk pelan, bukan karena dia jahat, tapi ini memang berhak dia lakukan. Meski sempat kaget mengetahui fakta bahwa Wedirman benar-benar kehilangan nyawanya, tapi untuk marah pada anak buah Gavin dia juga tidak bisa.


"Bagus, selama ini dia terlalu merdeka ... aku tidak suka." ibra sadar, semua yang terjadi itu karena dia memberikan celah untuk mereka yang pada akhirnya justru menyakiti diriya sendiri.


"Bagaimana dengan Nyonya? Aku rasa cara yang seperti ini akan lebih baik, Tuan," saran Gavin sebenarnya sedikit lancang, sejak dulu Gavin geram luar biasa namun Ibra selalu saja menahan untuk tidak melakukan hal yang lebih dari perintahnya.


"Tidak semudah itu, Gavin ... belum waktunya, nanti saja."


Gavin mengangguk pasrah, dia mengerti karena keputusan mutlak ada di tangan Ibra. Meski dia sekesal itu tetap saja yang punya hak adalah Ibra.


To Be Continue🦔


Saran jam berapa aku harusnya up? Aku selalu merasa jadwalnya salah. Dan kalian suka episode yang panjang atau sedikit pendek. Beberapa waktu lalu aku epsnya rada pendek, dan di deket-deket ini gue selalu panjang. Mohon sarannya ya men-teman agar aku bisa lebih baik di sini.

__ADS_1


Babay 🖤🖤


Terima kasih.


__ADS_2