
Tidak untuk malam ini, meski Ibra seingin itu rasanya sama saja dengan memaksakan diri. Sementara sakit di tubuh Ibra bukan main rasanya. Malam juga sudah terlalu larut, sementara sakit di dada akibat serangan mereka masih sesak sebenarnya.
"Aah nyamannya," ucap Ibra memejamkan mata, tidur dipangkuan Kanaya memang lebih nyaman dari apapun.
Memang benar wanita itu tidak mengantuk, begitu bersikap demikian dia merasa lebih nyaman. Gurat lelah Ibra terlihat jelas, mata itu terpejam dan Kanaya bisa melihat dengan jelas bulu mata lentik Ibra.
Alis tebal, hidung bangir dan bulu halus di sana membuat Naya merasa tak ikhlas dengan luka yang Ibra terima. Sakit sekali rasanya, walau sebenarnya Kanaya tidak paham penyebab dan kronologi sebenarnya.
"Ehem, kamu beneran nggak mau tidur, Naya."
Matanya kini menatap sepasang netra cantik yang tengah mengaguminya. Untuk pertama kali dia merasakan bagaimana ketulusan dari mata wanita menatapnya. Selama ini, yang Ibra saksikan sama dan hanya mengharapkan hal lain dari Ibra.
Bertahun-tahun hidup dalam kekangan dan mencoba mencari pelarian. Dengan statusnya sebagai suami dari Olivia, pria itu tetap mencari tempat untuk dia menghempaskan penatnya.
Dia jahat? Anggap saja begitu. Batinnya tertekan dipaksa keadaan, dunia seakan merenggut kebebasan Ibra kala sang papa meninggal dunia 12 tahun lalu. Tepat di hari ulang tahun Ibra yang ke 17, dia kehilangan separuh jiwanya.
"Enggak, mas tidur aja duluan."
Bukan dibuat-buat, tapi memang dia tidak mengantuk sama sekali. Dan dengan kehadiran Ibra yang tidur di pangakuannya, Kanaya sudah merasa lebih tenang dan baik-baik saja.
"Mau lepas nggak mau, tapi mau begini terus Mas nggak tega."
Pria itu terkekeh, dia sangat menyukai posisi ini. Wajah cantik Kanaya dapat dia saksikan dari bawah, hidung bangir dan dagu yang membuatnya senantiasa berdesir itu seakan mengikatnya untuk terus berada di sana.
"Nggak apa-apa, aku kan udah tidur lama pas nunggu Mas tadi."
Ibra menghela napas perlahan, entah kenapa perasaan bersalahnya kian mencuat dan rasanya tak punya muka lagi. Meski yang Kanaya berikan sekarang adalah senyum manisnya, tetap saja Ibra merasa ini salahnya.
"Lain kali jangan seperti tadi ya, Sayang ... pintu nggak dikunci, kamunya tidur begitu. Kalau ada orang lain masuk gimana?"
Meski sebenarnya tak mungkin, akan tetapi khawatirnya Ibra memang sebesar itu. Dengan dua penjaga di depan, dan keberadaan tukang kebun dan Sulis tak menjamin semua aman jika musibah sudah menghampiri, pikir Ibra.
"Aku nggak tau kalau bakal ketiduran, Mas ... tiba-tiba bangun udah ada kamu, itupun karena kaget."
__ADS_1
Memang, prinsip tidur Kanaya lebih cocok dipanggil mati suri. Secepat itu terlelap dan baginya sofa maupun tempat tidur memiliki gravitasi 10 kali lipat dari permukaan bumi.
"Aku nggak tau, Mas," ejek Ibra menirukan cara bicara Kanaya, berlebihan dan sungguh Kanaya tidak sama sekali berbicara dengan suara cempreng begitu.
"Ih, orang beneran nggak tau juga."
Kesal Kanaya Ibra ledek cara bicaranya, wanita itu cemberut dan bibirnya maju beberapa centi. Oh my god, Kanaya!! Bisakah berhenti membuat suaminya gemas? Ibra lapar sekali rasanya.
-
.
.
.
"Kanaya kamu tahu nggak kenapa pohon kelapa harus ditebang?" tanya Ibra tiba-tiba dan jauh sekali dari topik pembicaraannya saat ini.
"Kenapa?"
"Karena kalau mau dicabut susah, siapa yang sanggup cabut pohon kelapa coba," tuturnya santai, menatap dalam netra Kanaya seakan ini adalah pembicaraan paling penting yang harus mereka bahas.
Wajah yang tadinya cemberut kini susah payah menahan tawa. Rona merah itu terlihat nyata dan sungguh, hal seperti ini sangat menyiksa bagi kaum receh sepertinya.
"Ketawa aja, Sayang ... jangan ditahan."
Sialan, salah satu hal yang sulit ditahan selain buang air kecil adalah menahan tawa. Kanaya benar-benar tak mampu menahan kedua hal ini, dan Ibra justru berhasil membuatnya tersiksa.
"Bentar, Mas punya pertanyaan lain untuk kamu."
"Apa?" tanya Kanaya menatap suaminya serius, berharap dengan nyata pria itu tidak bercanda.
"Ehm, kalau kuda jadi ayam, ikan jadi ayam, monyet jadi ayam, sapi juga jadi ayam ... menurut kamu, ayamnya jadi apa?" tanya Ibra lagi, pertanyaan kedua dan sepertinya ini adalah lawakan kedua.
__ADS_1
"Jadi ... jadi bebek," tebak Kanaya luar biasa percaya diri, karena menurut dia jawaban paling meyakinkan adalah itu.
"Salah." Ibra menggeleng pelan sembari mengucapkan hal itu.
"Terus jadi apa?" Kanaya mengerutkan dahi, mana mungkin dia salah, kemampuan memecahkan teka-teki Kanaya tidak perlu diragukan lagi.
"Jadi banyak ... kan semuanya jadi ayam."
Kali ini, pertahanan Kanaya runtuh. Perkataan Ibra membuatnya tak sanggup menahan tawa. Sungguh, ini terlalu mubazir jika tidak ia tertawakan. Wanita itu terbahak, dan demi apapun baru kali ini Ibra melihat istrinya tertawa sebegitu bebasnya.
"Buahahahah!! Sialan, begini saja aku lucu."
Kanaya tengah merasa dirinya kehilangan kendali, dia pikir Ibra akan gombal ataupun berakhir dengan rayuan. Percaya diri sekali bukan? Karena tatapan Ibra saat bertanya memang setulus itu. Mana tahu dia jika ternyata Ibra akan mengatakan hal semacam itu.
"Ada lagi, Nay ... masih belum selesai," tutur Ibra kembali berulah.
"Apa?" tanya Kanaya kini mengusap air mata karena tawanya, dia yang sedih atau memang candaan Ibra lucu, pikirnya.
"Panda ... panda apa yang bikin betah?" Bisa dipastikan ini gombal, dan Kanaya harap tidak akan tergoda dan terbuai dengan ucapan Ibra.
"Nggak tau," jawab Kanaya singkat, jujur dia penasaran tapi batinnya sudah menebak apa yang akan Ibra katakan.
"Pandangin wajah kamu, Sayang."
Pyar ... stop Ibra, itu gombalan zaman fira'un kenapa masih dia gunakan. Kanaya sebenarnya hendak mengatakan hal itu tapi entah kenapa yang terjadi justru wanita itu meleleh hingga batinnya bergejolak sempurna.
"Hahah basi, Mas ... kamu belajar dari mana yang begini hah?" Wanita itu bahkan memerah, bukan hanya karena tergoda akan tetapi karena gombalan Ibra berhasil menghentak jiwanya.
"Dari Gavin," jawab Ibra polos, dia bukan pria romantis yang bisa menemukan ide-ide baru untuk membuat pasangannya terbang melayang, dan gombalan itu memang ia dapatkan dari Gavin sebagai senjata untuk menghibur Kanaya pasca pernikahannya.
Mendengar jawaban Ibra, Kanaya semakin tak bisa menahan tawa dan pria itu hanya menatap datar wajah Kanaya yang justru semakin menjadi kala dia menceritakan bahwa gurunya adalah Gavin.
"Sialan kau, Gavin!!" umpat Ibra kesal bukan main, pasalnya gombalan Ibra tidak lebih lucu daripada fakta bahwa dirinya mendapat semua itu Gavin.
__ADS_1
"Kenapa ketawamu jadi begini, Nay? Mas takut, berhenti," desak Ibra karena tawa Kanaya justru terdengar menyeramkan di telinganya.
TBC