Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 94


__ADS_3

"Apa?"


Semua hati sama bingungnya, Khaira yang selalu berada di posisi menyalahkan jelas saja menerima pengakuan Gibran mentah-mentah. Sementara Abygail dan Mahatma masih bisa berpikir sedikit normal.


"Papa denger sendiri kan, gimana kelakuan anak kesayangan Papa itu? Hanya karena Mas Gibran terlepas dari pandangan aku dia bebas deketin mas Gibran lagi!!" teriak Khaira yang membuat Widya seakan kalut, wanita itu hamil muda dan dengan dia sekacau ini wanita paruh baya itu khawatir dibuatnya.


"Khaira jangan teriak-teriak, pikirkan bayimu."


Kepalanya terasa sakit tapi mau tidak mau harus berusaha untuk bisa membuat Khaira tenang. Wanita itu hanya bisa diam jika Widya yang ambil peran, sementara Mahatma hanya dia anggap pengganggu yang tidak seharusnya ikut bicara.


"Kanaya jahat, Ma ... sebenci itu dia sama aku," lirih Khaira menatap sendu wajah sang mama.


Untuk saat ini Abygail tidak dapat berbuat apa-apa. Karena belum bisa dibuktikan pengakuan Gibran benar adanya. Dia tidak ingin asal ambil tindakan dan membuat semuanya makin runyam.


"Aby, menurutmu bagaimana?"


Pria itu menggeleng, Abygail tahu perasaan Mahatma. Mungkin dia akan bingung bagaimana sebenarnya, dan mungkin juga dia akan percaya pengakuan Gibran mengingat bagaimana dahulu Kanaya kerap meraung di dada sang papa sewaktu Gibran meninggalkan dia.


"Aku akan cari tahu lebih dulu, Pa ... aku pikir Kanaya tidak akan segila itu."


Mahatma mengangguk pelan, dia yakin 100 persen Kanaya tidak sebegitunya. Sewaktu Gibran melamar Khaira saja dia tidak memperlihatkan jika masih menginginkan Gibran, rasanya tidak mungkin jika Kanaya justru berbalik menginginkan Gibran setelah dia menjadi istri dari Ibra.


Kondisi Gibran semakin mengkhawatirkan, dan Abygail memutuskan adik iparnya harus segera di bawa ke rumah sakit. Pria itu hanya bisa menggeleng, dulu Adrian yang bahkan sulit berdiri setelah Ibra hajar, sekarang adik iparnya harus masuk rumah sakit karena hidung Gibran kembali mengucurkan darah segar.


Semua dibuat panik, sementara Adrian yang kerja di tempat baru harus memerlukan waktu banyak untuk tiba di rumah. Sebenarnya Abygail sangat ingin mengunjungi Kanaya, akan tetapi dia berpikir keputusan Ibra masih sama.


Satu-satunya orang yang bisa dia jadikan sumber informasi hanyalah Lorenza. Dengan Lorenza akan lebih mudah bagi Abygail mengetahui fakta yang sebenarnya.


Beberapa waktu lalu dia sempat nekat menemui Ibra, bicara baik-baik dan meminta untuk bertemu Kanaya. Akan tetapi, entah apa alasan Ibra yang belum mengizinkan dia bertermu Kanaya saat itu.


Mereka melaju cukup kencang, keadaan Gibran yang mengkhawatirkan jelas saja menjadi alasannya. Perasaan Abygail sekarang bukan lagi khawatir perihal Gibran, tapi justru Kanaya.


Apa yang Gibran lakukan pada adiknya, karena seperti yang dia simpulkan dari kejadian Adrian, pria itu tidak akan menghajar seseorang kecuali telah berani menyakiti wanita yang dicintainya.


"Cepat, Mas!! Suamiku bisa mati!!" desak Khaira mulai tak bisa berpikir jernih, dalam posisi seperti itu jelas saja dia bingung. Kanaya menghantui pikirannya, wanita itu adalah satu-satunya orang yang wajib bertanggung jawab, pikir Khaira.


"Sabar, Khaira, Mas juga tau."


Dia pikir yang tegang di sini dia saja, Abygail bahkan harus buru-buru dari kantor ke rumah dan ketika di rumah harus kembali ke rumah sakit yang tidak dekat juga.

__ADS_1


"Ya kalau tau kenapa masih lambat!! Atau kamu sengaja buat Mas Gibran makin tersiksa, kamu suka Mas Gibran sekarat begini, Mas?!!" sentak Khaira menggebu-gebu, kepanikan membuatnya hilang kendali.


"Kau mau kita mati sama-sama?!! Cukup diam dan tidak perlu mendesakku, Khaira!!" balas Abygail kesal luar biasa.


"Sudah-sudah, kita sama-sama panik, jangan begini kalian." Mahatma tak habis pikir kenapa kedua anaknya begini, selalu saja bertengkar meski sudah sama-sama dewasa.


-


.


.


.


"Sayang," panggil Ibra membuka pintu kamarnya, sudah hampir magrib dan Kanaya belum bangun juga.


Ibra yang sempat meninggalkan Kanaya di ruang kerja kini kembali dengan kacamata bertengger di hidung bangirnya. Meski Ibra pulang cepat, bukan berarti dia bisa bersantai begitu saja.


Setelah memastikan istrinya tidur dengan tenang, Ibra kembali berkutat dengan tanggung jawabnya. Memastikan semua baik-baik saja dan berita terkait dia yang memukuli Gibran redam seketika.


Pria itu tersenyum tipis kala memasuki pintu kamar, wajahnya sumringah ketika melihat istrinya yang masih mengantuk tapi memaksa untuk bangun. Rambut acak-acakan dan wajah cemberutnya membuatnya gemas.


"Sebentar lagi jam enam, kamu tidurnya lama banget."


Bukan marah, Ibra hanya bicara. Kecupan itu bahkan dia berikan sembari mengucapkan kata-kata itu. Kanaya bahkan merasa geli dan risih lantaran Ibra menghujaninya dengan kecupan tanpa henti.


"Hmmpp, sana, aku bau, Mas."


Dia memang merasa dirinya bau, dan entah kenapa Ibra justru suka mengecupnya bahkan tanpa henti. Berusaha mendorong wajahnya namun yang ia dapati justru sakit di jemari karena Ibra menggigitnya cukup kuat sebagai.


"Aaawww sakit!! Kenapa sih, kebiasan banget," gerutunya kesal, kantuk yang tadi masih tersisa rasanya bilang begitu saja. Kanaya menepuk pelan dada Ibra dan pria itu hanya tersenyum tanpa dosa.


"Galak banget, apa-apa main pukul." Ibra terkekeh dan bukannya berhenti mengusik, pria itu menghimpit tubuh istrinya tanpa menyakiti.


Kanaya merasa panas, dan ketika terbangun Ibra justru membuatnya seakan tak bisa bernapas. Ibra merapikan rambut Kanaya pelan, posisi tidur Kanaya yang terkadang bisa sampai 12 posisi adalah hal Ibra bingungkan hingga saat ini.


"Kamu tu tidurnya heboh banget, lagi mimpi bercinta, Nay?" tanya Ibra sebelum kembali mengecup pipinya, kecupan yang berpindah-pindah hingga membuat bibirnya tak bisa bicara.


"Mimpi melahirkan," jawab Kanaya asal dan Ibra terbahak mendengarnya, Kanaya tidak sedang melucu, tapi kenapa Ibra justru terhibur.

__ADS_1


Ddrrtt Drrrtt


"Ambilin, Mas ... takutnya Lorenza yang telepon." Kanaya meminta Ibra baik-baik, dan pria itu enggan untuk bergerak.


"Nanti saja, Sayang, kalau penting dia hubungi lagi. Mas susah gerak soalnya." Ada saja alasannya, padahal Ibra hanya perlu meraih ponsel itu di atas nakas dengan satu tangannya.


Sempat ingin menurut, akan tetapi ponselnya terus saja berdering dan Kanaya penasaran siapa yang menghubunginya.


"Tolong, Mas, bentar aja."


"Nanti, sekali lagi baru kita angkat ya." Membuat kesepakatan sepihak, andai saja yang menelepon ingin melahirkan mungkin sudah bukaan 9, pikir Kanaya.


Ddrrtt Drrtt


"Tuh, buruan!! Kamu aja yang angkat kalau aku nggak boleh," ucapnya benar-benar meminta, dia paham bahwa sebenarnya Ibra tak memberinya izin, karena bagi Ibra jam-jam ketika mereka berdua, Kanaya tidak boleh meladeni orang-orang tak berguna.


"Oke, kalau kamu yang minta, Mas lakukan dengan senang hati," ucapnya dengan senyum semanis mungkin, memang itu yang dia inginkan.


Wajah Ibra berubah 180 derajat, senyum itu hilang begitu dia melihat nama penelpon Kanaya. Pria itu mengeraskan rahangnya dan menggeser ikon hijau itu.


"Siapa, Mas?" tanya Kanaya penasaran, namun Ibra tak menjawab. Dia menatap nanar ke depan dan duduk di tepi ranjang, menahan Kanaya agar tetap tidur dengan tangan kirinya.


"Heh!! Murahaan!! Kamu tu memang nggak tau diri ya, Nay! Puas kamu buat mas Gibran jadi sekarat karena tingkah gatel kamu itu?!! Hah?!!"


Makian Khaira terdengar sangat renyah di telinga Ibra, dan pria itu tersenyum miring mendengarnya. Di belakangnya, masih ada Kanaya yang penasaran.


"Mas, siapa?" bisik Kanaya, dia tidak tahan dan kini ikut duduk dan menempelkan telinganya di ponsel.


"KANAYA!!"


"Astafirullah, kok nggak bilang!! Telingaku sakit, Mas." Lagi-lagi Ibra menerima pukulan di punggungnya, suara Khaira mengguncang gendang telinganya.


"Hahahaha, sudah sana ... biar Mas yang bicara." Ibra berucap sedikit besar agar sang penelpon paham keadaan, Kanaya yang tak mau ambil pusing memilih diam dan tetep berada di belakang Ibra.


"Lanjutkan, aku masih mendengarmu?"


"Mana Kanaya?!! Aku ingin bicara!!"


"Bicara padaku, aku yang membuat pria tak berguna itu sekarat ... bicaralah, apa yang mau kau bicarakan, nona Khaira," ucap Ibra dingin, Kanaya bergelayut di lengannya, penasaran sekali namun Ibra sengaja berdiri dan membuat Kanaya kesulitan untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


To Be Continue.


__ADS_2