
“Kenapa lagi, Lorenza? Bukannya dia datang buat lamar kamu?”
“Aduh, Mama ... jangan bikin malu deh, dia itu atasan aku di kantor, bukan pacar apalagi calon suami!" Kesal sekali rasanya jadi Lorenza, sang mama yang begitu antusias dan menolak fakta jika dirinya tidak pernah menjalin sebuah hubungan sedalam itu pada pria manapun.
“Bukan?”
“Iya, bukan … udah deh, Mama tu jangan macem-macem ngayalnya,” ujar Lorenza benar-benar meminta.
Wanita itu bahkan menarik cepat sang mama sebelum Gavin menjawab, dia paham sekaku apa Gavin ketika mendapat pertanyaan konyol dari sang mama tadi. Tak bisa dia bayangkan bagaimana dirinya esok hari ketika bertemu Gavin di tempat kerja.
“Berarti kamu siap Mama kawinin sama Ihsan ya?” tanya sang mama sembari menunjuk wajah Lorenza dengan nada ancaman.
“Mama tolong deh, sampai mati aku nggak bakal mau sama bang Ihsan.”
Membayangkan saja dia ngeri, entah kenapa orang tuanya tergila-gila dengan pria itu. Pria kaya dari negeri Jiran yang dia ketahui menyandang status duda beberapa saat sebelum mengenalkan diri kepada orangtua Lorenza.
Dan Lorenza jelas tak mau menelan ludah sendiri, bagaimana tanggapan Siska nantinya jika dia benar-benar menjadi istri Ihsan.
“Ihsan atau Gavin? Pilih sekarang atau Mama yang tentukan.”
“Nggak dua-duanya.”
“Lorenza, kamu tuh aaarrrggghhh!! Naya aja udah mau lahiran kamu menikah aja belum gimana sih?” sentak mamanya tak habis pikir, di antara mereka bertiga, yang paling tua adalah Lorenza. Dan hingga saat ini hilal jodoh Lorenza belum terlihat sama sekali, bahkan membawa laki-laki ke rumah saja belum pernah.
“Masih lama … udah deh, Mama nggak usah banding-bandingin anaknya sama orang lain.”
“Heh!! 28 tahun punya pacar aja belum, kamu normal nggak sih sebenarnya?”
“Aku belum setua itu, Mama dengerin aku ya … pak Gavin itu atasan aku, jangan berharap lebih dan juga jangan pernah desak aku dengan cara apapun itu karena aku tidak akan mau.”
Lorenza bisa melakukan apapun yang mamanya mau kecuali perihal pernikahan dan pasangan hidup. Sejak dulu selalu menjadi pendengar untuk kedua sahabatnya terkait pasangan, dan tangisan mereka adalah bukti jika menjalin hubungan tidak seindah kelihatannya.
"Oh iya, 26 yang benar," tambah Lorenza lagi.
__ADS_1
Lorenza berlalu meninggalkan sang mama yang masih menatapnya sendu di ruang keluarga, harus dengan cara apa agar Lorenza menerima. Tidak seperti wanita kebanyakan yang menginginkan menantu kaya raya, baginya hal paling utama adalah ada pria yang mau meminang putrinya.
“Dasar oon … aku dulu ngidam apa sebenarnya, cantik-cantik begitu nggak mau nikah,” gerutu wanita itu dan kembali ke ruang tamu segera, Gavin benar-benar tampan dan menenangkan matanya.
“Mama bilang apa? Aku denger loh.”
“Kurang ajar kamu, Lorenza!! Kabiasaan!!” Sudah tau mamanya kerap jantungan, masih saja ada ulahnya yang membuat wanita itu terkejut setiap harinya.
-
.
.
.
“Maaf … mamaku terlalu senang, jangan dipikirkan.”
“Tidak apa-apa, yang namanya orangtua wajar berharap begitu … lagipula, kata om Wiradh umurmu sudah hampir expired.”
“What?!” Lorenza mendelik, kanebo kering ini kembali menghinanya.
“Kenapa? Aku hanya mengatakan ucapan papamu.”
“Kalau aku expired lalu kamu sendiri bagaimana?” sentak Lorenza tak terima.
Gavin tidak sadar diri, umurnya bahkan lebih tua tapi berani mengatakan Lorenza hampir kadaluarsa. Untuk pertama kalinya ada pria yang mengatakan dia demikian.
“28 tahun untuk pria itu masih biasa saja bahkan masih muda untuk menikah, tapi 26 bagi wnaita itu berbeda, Za.”
“Kamu menghinaku?” tanya Lorenza dengan nada yang kini sudah berbeda, sempat merasa malu dan tidak enak pada Gavin. Kini, semua sudah berbeda dan wanita itu sudah dikuasai amarah.
“Tidak,” tuturnya menarik tersenyum amat tipis, bahkan Lorenza tidak sadar jika Gavin tengah tersenyum.
__ADS_1
“Ck, menyebalkan sekali.” Lorenza menarik napasnya dalam-dalam, baru saja hendak menjalani hubungan baik ternyata Gavin menabuh genderang perang.
“Masuklah, ini sudah malam ... aku harus pulang.”
Malam ini suasana cukup dingin, Lorenza mungkin lelah juga dan Gavin tak ingin wanita itu justru sakit setelahnya. Peran Lorenza cukup berarti, benar-benar berguna ketika dia harus menggunakan jasanya.
“I-iya,” sahutt Lorenza seadanya, dia hanya menjawab demikian karena respon Gavin terkait sikap mamanya justru terlihat biasa saja.
“Oh iya, besok pagi istirahat dulu jika masih lelah,” tutur Gavin dan sukses membuat Lorenza gusar seketika, dan gelagatnya masih tertangkap jelas oleh pria tampan di depannya. “Pesan Ibra,” tambahnya kemudian dan membuat Lorenza sadar diri seketika. Dia mengangguk mengerti dan tengah mengutuk dirinya sendiri.
Hanya beberapa menit menunggu Gavin berlalu, tapi kenapa Lorenza merasa ini lama sekali. Gavin yang membuat suasana semakin kaku dan respon biasa saja padahal dirinya gugup luar biasa.
Tidak ada ucapan hati-hati di jalan dan selamat tinggal yang manis, hanya tatapan yang mengiringi kepergian Gavin hingga mobil pria itu benar-benar berlalu. Dan ketika Lorenza berbalik, dia dibuat terperanjat kala menyaksikan tiga pasang mata tengah memantaunya di balik jendela. Wanita itu bahkan mengelus dadanya berkali-kali, hampir saja jantung Lorenza lepas dari tempatnya.
“Ck, kenapa sih kalian? Dari tadi ya ngintip begitu?” tanya Lorenza menatap kesal keluarganya, jika memang sejak tadi, alangkah malunya dia kepada Gavin.
“Sepertinya dia anak baik-baik, buktinya dia pamit nggak nyosor kayak anak muda zaman sekarang … iya kan, Pa?” Pertanyaan sang mama membuat Loen tersedak ludah, tengah menyindir atau bagaimana, pikirnya.
“Hm, benar sekali, Ma, Papa juga suka kalau yang begini, Za.”
Lorenza membuang napasnya kasar, tadi hanya mamanya dan kini papanya juga ikutan. Belum lagi Loen juga memberikan ekspresi penuh dukungan terkait pendapat kedua orang tuanya.
“Kaya ya kan, Pa?” tanya Leon dan sukses mendapat toyoran dari sang mama.
“Dasar matre!! Bukan begitu yang kami maksud, Leon … sudah sana selesaikan skripsi kamu, udah tua nggak lulus-lulus,” titah sang mama sedikit emosi, heran sekali kenapa dia punya putra sejenis Leon. Di saat temannya sudah bekerja dan menemukan dunianya masing-masing, Leon masih sibuk mencari cinta dan menjalani kehidupan yang tidak terarah.
“Haha Mampos, makanya nggak usah sewot, Leon … pikirin tuh kuliah kamu, bentar lagi di DO kan?”
Beruntung saja adiknya tidak terlalu pintar hingga orang yang dijadikan pembanding dalam kehidupan Lorenza tidak sebanyak itu. Walau tetap saja, perihal pernikahan dia sedikit tertekan. Hanya saja, meski kedua orang tuanya demikian Lorenza merasa sedikit lebih baik daripada Kanaya.
To Be Continue
Untuk beberapa eps akan di isi mereka bentar, karena konflik Naya Ibra dah hampir kelar yagesya.
__ADS_1