
"Eeungghh," lenguh Kanaya kini menggeliat, tidurnya sangat panjang dan cukup melegakan. Kanaya meregangkan otot-ototnya, dan baru menyadari Ibra tak berada di sisinya beberapa detik kemudian.
"Dia kemana? Tumben banget bangun duluan." Kanaya menggerakkan lehernya, sungguh bunyinya renyah sekali. Suaranya masih serak, tidur terlalu lama memang begini efeknya di pagi hari.
Tapi tunggu, Kanaya merasakan hal yang aneh di pagi ini. Wanita itu sangat lapar, dan ini tidak biasanya dia rasakan. Berpikir positif mungkin pengaruh bayinya, Kanaya keluar kamar dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
Keluar kamar, Kanaya lebih heran lagi. Suasana sudah seterang itu, dan bahkan seluruh lampu sudah dimatikan. Berkali-kali dia mengerjapkan mata, memastikan jika dia tidak bermimpi.
"Hah? Bi!! Bibi!!"
Teriakannya terdengar panjang sekali, Kanaya berlari ke dapur dan di sana tidak dia temui wanita paruh baya yang ia cari. Sarapan sudah siap bahkan semuanya sudah tertata dengan rapi.
"Bibi, aduh dimana?"
"Kenapa, Non?"
Hah? Kanaya tidak salah lihat, wanita itu bahkan selesai mandi dan baru saja menyelesaikan cuciannya. Itu artinya ini bukan pagi lagi, Kanaya menelan salivanya pahit, memastikan bahwa dirinya tidak sinting dan kini mencari jam dinding.
"Jam-jam-jam-jam-jam," ucapnya komat kamit dengan langkah cepat, jelas saja kelakuannya membuat heran wanita paruh baya itu.
"HAAAAAAAAAAH?!!!"
__ADS_1
Mulutnya menganga, terbuka lebar begitupun dengan matanya. Ia bahkan tak percaya ketika melihat jarum jam menunjukkan pukul 09:45 di sana. Belum bisa memahami kenapa dengannya, Kanaya kembali ke dapur dan hendak menginterogasi wanita itu.
"Bi! Ini memang udah siang atau gerhana?"
"Gerhana? Gerhana apaan, Non? Ini mah siang," jawabnya sembari mengulas senyum lantaran wajah Kanaya lucu di matanya.
"Jadi beneran udah siang? Terus, Mas Ibra mana?" tanya Kanaya sedikit mendesak, jelas saja dia panik bukan main, jam segini adalah telat paling gila yang pernah ia alami.
"Tuan udah kerja dari pagi, Non, katanya Nona memang nggak kerja ... itu sarapan udah saya siapin," ucapnya kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Kanaya yang saat ini susah payah menarik napasnya.
"Pasti ulahnya, lagian aku kok nggak bangun sih!!"
Alarm Kanaya selalu di atur di jam yang sama, sementara pagi tadi dia tidak mendengar apapun. Lapar yang sebelumnya dia rasa hilang begitu saja, Kanaya kembali ke kamar untuk memastikan sesuatu.
Memang hobi membanting pintu jika dia tengah terburu, Kanaya dibuat mengelus dada kala menyaksikan jam di atas nakas masih menunjukkan pukul 06:00.
"Dia apa-apaan ya, Tuhan ... kurang kerjaan apa gimana?" Kanaya terduduk lesu di tepi ranjang, melihat semua kejadian ini maka sudah jelas Ibra pelaku utamanya.
Dengan kekesalan yang menggebu, Kanaya untuk pertama kalinya menghubungi Ibra. Menunggu Ibra mengangkat teleponnya saja selama itu, ingin rasanya Kanaya datang ke kantor saat ini juga ke kantornya.
"Angkat, Mas," pinta Kanaya sembari memejamkan matanya, namun yang membuatnya lebih kesal lagi Ibra seperti sengaja mengabaikan panggilannya.
__ADS_1
Tak mau gagal, Kanaya kembali mencoba sekali lagi.
"Pagi, Sayang ... baru bangun ya?"
Tanpa dosa, tanpa perasaan bersalah dan dia sesantai itu menyapa Kanaya. Kanaya marah? Tidak, hanya saja keinginan untuk membuat Ibra tenggelam makin besar saja.
"Ini semua ulah Mas kan?" Tak menjawab sapaan, Kanaya langsung saja ke intinya. Tidak ada pelaku yang patut dicurigai selain Ibra, dan kini pria itu hanya tertawa sumbang di balik telepon itu.
"Ulah yang mana? Mas nggak paham, Nay."
"Halah udah deh, Mas sengaja kan buat aku kesiangan begini?" desak Kanaya kesal luar biasa, sungguh dia tak bisa mengerti kenapa suaminya sesinting ini.
"Nggak, cuma tadi kamu nyenyak tidurnya ... Mas jadi nggak tega buat ganggu."
Bisa saja membuat alasan, Kanaya mengelus dadanya pelan-pelan sembari menyebut nama suci Tuhan. Suara Ibra yang sedari tadi terdengar menyejukkan tapi di telinga Kanaya tetap saja panas.
"Tetep aja sengaja," balas Kanaya tetap menganggap alasan Ibra terlalu aneh dan tidak wajar, jika memang karena tak tega Kanaya diganggu, kenapa alarm jam di kamarnya justru diatur jadi sepagi itu, pikir Kanaya.
"Hahaha, kamu perlu istirahat ... sudah mandi sana, jangan lupa sarapan, nanti Mas pulangnya cepet."
Di saat seperti ini, kenapa Ibra harus tertawa sebahagia itu. Kanaya mematikan teleponnya kala pria itu selesai menyampaikan segala bentuk ungkapan sayang yang Kanaya sendiri tak bisa membalasnya.
__ADS_1
Selesai dengan Ibra, Kanaya lanjut mengecek pesan singkat yang masuk untuknya. Lorenza sudah memenuhi kolom percakapan di sana. 75 pesan, dan isinya berupa pertanyaan perihal keadaannya, tak biasanya Kanaya tidak masuk kerja kecuali ada hal penting atau sakit. Wajar saja Lorenza kalang kabut ketika Kanaya yang kemarin baik-baik saja kini justru menghilang entah kemana.
Tbc