
Pikirannya buntu, Gavin memerah dan kini kembali ke kamar tidur. Sebuah kamar tamu yang biasa dia huni jika berada di sini, tempat itu benar-benar rapi. Berbeda sekali dengan pikirannya saat ini, andai saja hujan tidak berkepanjangan, mungkin dia sudah menemui Lorenza detik ini juga.
"Benar-benar membuat runyam!! Wanita itu belum pernah masuk peti mati sepertinya."
Gavin merogoh ponselnya, tangannya gatal sekali ingin memaki Lorenza. Jika sampai kecurigaan segila itu sampai pada Ibra, artinya memang Lorenza yang salah.
Mengutak atik nomor tujuannya, jujur saja dia sendiri tidak menyematkan nama di nomor ponsel Lorenza. Seakan tidak penting sama sekali tapi dia bisa mengingat dengan jelas nomor ponsel Lorenza.
"Ayolah ... dimana kau," desis Gavin seraya memejamkan mata, menunggu Lorenza mengangkat teleponnya saja selama ini.
Ingin rasanya Gavin berteriak, untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang membuat Gavin porak poranda. Pria itu menggigit ujung jemarinya, dia gugup meski amarahnya membuncah.
Hingga, matanya berbinar kala sadar Lorenza mengangkat panggilannya. Sudah seribu caci maki dia siapkan untuk Lorenza malam ini, tak peduli wanita itu mau sakit hati atau apapun, terserah.
"Kau tau kenapa aku menghubungimu? Lorenza ... apa yang kau katakan pada Kanaya? Hah?!!"
Belum apa-apa, Gavin sudah membentak lantaran kekesalannya malam ini. Jika hanya hal biasa, mungkin Gavin takkan marah. Namun sayangnya, kali ini tuduhan Ibra keterlaluan.
"Kau dengar aku?!!"
Gavin bahkan kembali memastikan apa dia tidak salah sambung. Tidak ada jawaban dari Lorenza, apa mungkin wanita itu benar-benar sakit parah hingga tidak bisa bicara lagi? Batin Gavin menerawang sebegitu jauhnya.
"LORENZA!!"
"Hmm, aku dengar ... tidak perlu dibentak, Gavin."
Tunggu, suara itu terdengar berbeda. Lorenza yang biasanya membara dalam bicara kini justru begitu lesu dan cara bicaranya 180 derajat berbeda.
"K-kau kenapa?"
Cacian yang tadi sudah ia siapkan kini hilang entah kemana. Isakan halus dan suara Lorenza yang berbeda menjadi penyebab berubahnya sikap Gavin. Pria yang tadi bahkan ingin menghancurkan jendela, kini memilih duduk di tepian ranjang.
"Lorenza ... katakan dengan jelas kau kenapa?"
Alih-alih marah dia kini justru terfokus pada wanita itu, isakan yang tadinya halus kini terdengar semakin nyata. Nampaknya memang Lorenza tengah bersedih, dan Gavin berdebar tak enak hati karena telah membentak wanita malang ini.
__ADS_1
"Kamu yang kenapa? Malem-malem telepon, ini bukan jam kerja, Pak."
Hah? Gavin tidak salah dengar? Sejak kapan Lorenza peduli dengan jam kerjanya sudah habis. Selama ini wanita justru santai jika jam kerja sudah usai, lantas kenapa malam ini berbeda? Gavin hanya mampu menerka-nerka.
"Yang bilang jam kerja siapa, aku hanya bertanya kau kenapa? Apa teriakanku membuat telingamu sakit?"
Sadar jika dirinya berlebihan, tak biasanya Gavin berteriak seperti itu pada siapapun. Dia tidak bisa memastikan Lorenza menangis karena apa lantaran mereka tidak bertatap muka.
"Semua tu gara-gara kamu tau nggak!!"
Gantian, sebelumnya Gavin yang membentak dan kini justru telinga Gavin dibuat sakit akibat ulah wanita itu. Malang sekali telinga tiada polosnya, Gavin menjauhkan ponsel karena spontan akibat teriakan melengking Lorenza lebih keras dari gunjingan tetangga.
"Aku? Memangnya aku kenapa?"
Kenapa semua justru menyalahkan dia? Apa benar dia memang bersalah? Gavin mengacak rambutnya kuat-kuat saat ini. Setelah sebelumnya Ibra, dan kini Lorenza juga sama.
"Enggak tau, intinya salah kamu."
Jika ditanya kenapa Gavin salah, sejujurnya Lorenza tidak bisa menjawabnya. Dia juga bingung yang salah sebenarnya siapa, kemarahan sang papa dan kemerdekaan Leon terkait Gavin membuat Lorenza kacau.
"Tidak ada ... mereka hanya kecewa terhadap hal yang aku tidak lakukan sama sekali!!"
Memang tidak ada perlakuan buruk yang Lorenza terima, walau tampak jelas kekecewaan di wajah Wiradh, namun wajah sang mama dan adiknya jelas-jelas memperlihatkan jika mereka senang sekali.
"Kecewa?"
"Hem, mereka menuduhku hamil anak kamu karena aku masuk angin." Lorenza bagai menemukan tempat mengadu, nampaknya dia memang tidak terluka dengan bentakan Gavin.
"Ini hanya salah paham, kita harus jelaskan bersama-sama, Lorenza ... saat ini yang percaya jika kita seburuk itu bukan hanya keluargamu, tapi juga Ibra."
"Iya lah salah paham, enak aja dituduh hamil ... liat senjata kamu aja nggak pernah," gerutu Lorenza di seberang sana, tampaknya dia benar-benar frustasi hingga bicaranya bahkan tidak disaring lagi.
"Senjata?"
Dia bertanya, tapi wajahnya sudah memerah usai mendengar celoteh Lorenza. Dia hanya mengira pria saja yang suka bicara segila ini, nyatanya Lorenza begitu santai sama halnya Ibra yang kerap membahas hal semacamnya.
__ADS_1
"Kamu nanya karena memang nggak tau apa gimana?"
"Aku tidak paham maksudmu, Za," elak Gavin jelas-jelas berbohong.
Tidak seperti Ibra, dia memang pria yang bersih dari hal-hal aneh. Akan tetapi, bukan berarti dia polos. Gavin hanya tidak terbiasa membicarakan hal semacam itu blak-blakan seperti Lorenza.
"Ah terserahlah, nggak penting juga ... sekarang itu yang paling penting adalah gimana caranya buat nama kita berdua jadi bersih dan tuduhan-tuduhan semacam itu bisa kita tepis."
Lorenza bertekad, karena mau bagaimanapun memang dia tidak bersalah. Dan juga, dia menghabiskan waktu bersama Gavin belum begitu lama, mana mungkin juga Lorenza tertarik secepat itu.
"Yakinkan orang tuamu."
"Ck, memusingkan sekali!! Aku bisa gila karena ini," sentak Lorenza dari ujung sana, sepertinya beban yang dia terima jauh lebih besar dari Ibra.
"Kau pikir aku tidak? Sama saja, Za ... jika hal ini sampai ke telinga Mama, sudah dipastikan dia akan murka."
Sebenarnya bisa saja Gavin tak menghiraukan pendapat siapapun tentangnya. Akan tetapi, jika sang Mama mengetahuinya, bukan hanya kecewa yang Gavin berikan, tapi juga membuka peluang hadirnya kutukan.
"Mama?"
"Hm, dan kau tau! Hal ini sudah sampai ke telinga Ibra, ini sudah pasti akibat ulahmu yang mengungkapkannya pada Kanaya," omel Gavin kembali teringat dengan alasan marahnya. Dia yang sebelumnya sudah terlihat bijaksana nyatanya justru kembali membara.
"Apa masalahnya jika suami Kanaya tau? Tidak ada kan?"
Tenang sekali, karena jika hanya sebatas mengetahui rasanya tidak masalah. Toh bagi Lorenza seorang Gavin tak lebih dari sosok bawahan Ibra yang rasanya tidak perlu Ibra ikut campur urusannya.
"Tidak ada?!! Salah besar, Lorenza!!"
"Terus memang ya kenapa? Lagian mas Ibra bukan tipe orang julid sama urusan orang, perkara ginian doang mah pasti dia bisa ambil jalan tengah."
Gavin menghela napas perlahan, andai saja Lorenza mengetahui bagaimana reaksi Ibra terkait hal ini, tentu wanita itu tidak akan bisa tidur nyenyak.
"Tidurlah, sepertinya kau lelah sekali." Tak ingin lebih dulu bicara, masih ada kesempatan esok untuk menghambat langkah Ibra tanpa memberitahukan dengan jelas kepada Lorenza.
-Tbc
__ADS_1