
Ibra menelan salivanya susah payah, istrinya mulai mengeluarkan taring yang selama ini Ibra tidak ada. Bahkan kala Kanaya menepis tangan Ibra ketika dia hendak menggenggam tangannya, Ibra terhenyak.
"Sa-sayang, Mas tau kamu akan marah setelah ini ... nggak ada niat sedikitpun mau menyembunyikan sesuatu atau tidak jujur, tapi ...." Ucpaan Ibra terhenti, bukan karena takut salah bicara, tapi tatapan tajam Kanaya membuat lidahnya terasa kaku tiba-tiba.
"Tapi? Tidak ada niat, tapi? Tapi apa? Sekarang yang terjadi sepertinya berbeda dari mulut kamu, Mas."
Kanaya berucap lesu, dia memang ingin marah, tapi yang Ibra sembunyikan juga bukan hal buruk. Fakta bahwa dia adalah orang penting di perusahaan tempar dia bekerja itu adalah kejutan kedua setelah hal besar yang ia ketahui tadi malam.
"Habiskan dulu makanmu, anak kita butuh nutrisi dari mamanya."
Senjata andalan, jika biasanya seorang wanita yang akan mengatasnamakan bayi dalam kandungannya untuk cari aman jika berulah. Namun, hal tersebut berlaku lain dengan kehidupan rumah tangga Ibra. Pria itu kerap menggunakan bayi dalam kandungan Kanaya untuk membuat hidupnya selamat dari kemarahan sang istri.
"Kenyang," jawab Kanaya yang sebenarnya berbohong, bagaimana dia bisa makan dengan baik sementara penghancur moodnya ada di sampingnya.
"Bohong, nggak mungkin kamu kenyang hanya dengan beberapa suap, Naya."
Ibra mengambil alih makan siang istrinya, agenda saling memaafkan justru berubah jadi suap-suapan. Ibra tak terima penolakan, dan Kanaya yang sejak tadi menolak membuka mulutnya dengan sangat rela kala Ibra menyuapinya pelan-pelan.
Dasar pembohong, pikir Ibra merasa lucu. Dia tidak ingin nutrisi istrinya terganggu hanya dengan kejadian yang mungkin membuat pandangan Kanaya terhadap dirinya berbeda.
"Aaaaaaaa ... sedikit lagi," titah Ibra kala menuju suapan terakhir, tinggal dua kali suapan lagi dan tampaknya Kanaya sudah lelah mengunyah.
"Kenyang, Mas."
__ADS_1
"Dua sendok lagi, Naya ... jangan buang-buang makanan."
"Ya kenyang, nanti aku muntah kalau dipaksa ... kamu makan sendiri kalau sayang dibuang makanannya." Kanaya bercanda terkait kalimat terakhir, tapi dia justru menganggap itu serius dan tanpa pikir panjang Ibra benar-benar menghabisi makan siang Kanaya.
"Mas, kenapa dimakan? Kan bisa pesen lagi," desis Kanaya menatap heran Ibra. Wajahnya bahkan melongo bukan karena malu akan kelakuan Ibra, tapi dia bingung kenapa Ibra melakukan hal itu sementara di sana cukup ramai.
"Sekalian," jawabnya singkat, padat dan tak membuat Kanaya merasa puas.
"Tapi itu kan bekas aku," ucap Kanaya tak habis pikir, seumur hidup belum ada yang pernah makan sisa makannya kecuali Ibra.
"Tidak masalah, Naya," tutur Ibra dengan nada mendayu dan berhasil menggoreskan senyum di pipi Kanaya. Pria itu tengah berusaha ambil aman, dan Kanaya hampir saja terbuai.
Sesaat, Kanaya menghela napas kasar. Membuang tisu sembarangan dan emosinya yang sempat redam kini melonjak kembali. Ibra yang sebelumnya sudah lumayan tenang, kembali dibuat bingung dengan kemarahan Kanaya yang sepertinya akan lebih besar karena perutnya sudah terisi.
"Aku sebenarnya siapa bagi kamu? Harus banget ya kamu begini sama aku? Lorenza sampe mikir aku sengaja sembunyiin sesuatu, padahal di sini aku yang kamu buat bingung."
Kanaya menarik napas dalam-dalam, marah kepada seseorang yang tak bisa dia lampiaskan. Kanaya tidak bisa menetapkan bahwa yang Ibra lakukan adalah kesalahan besar.
"Kanaya, Mas ...."
"Stop, aku belum selesai bicara! Kalau memang kamu mau didengarkan tanpa menghadapi aku yang begini, seharusnya dari awal Mas jelaskan." Dia bukan marah, mungkin tepatnya kecewa.
"Aku dinikahi siapa sebenarnya? Mirisnya aku bahkan tidak mengenali suamiku sendiri." Kanaya tertawa sumbang, dan untuk kali pertama Ibra merasa merinding melihat gurat senyuman seorang wanita.
__ADS_1
"Ya, semua memang salahku ... andai aku tidak mendatangi kamu waktu itu, mungkin hal semacam ini tidak akan terjadi. Kamu yang belum siap untuk terbuka, sementara aku tidak berpikir bahwa tokoh fiksi seperti kamu memang ada." Memejamkan matanya sejenak, Kanaya sedikit pusing sebenarnya.
Pria itu belum berani kembali berucap, sadar kesalahan jika tak selamanya menutup diri adalah hal baik. Kanaya adalah istrinya, namun wanita itu bahkan meraba perihal siapa yang kini menjadi suaminya.
"Kamu curang, Mas ... kamu bahkan mengetahui bagaimana aku dan keluargaku, semuanya tanpa sisa. Sementara aku, mungkin hanya nama kamu yang tidak kamu usaha sembunyikan dari aku." Kanaya berucap tanpa menatap Ibra, karena jika ia tatap mata itu, kalimat yang sejak tadi ia ungkap takkan pernah tersampaikan dengan baik.
"Kanaya maksud kamu apa?" Entah kenapa hati Ibra sakit kala Kanaya berkata demikian, istrinya adalah sosok wanita yang lembut, namun sekalinya marah kenapa dunia Ibra seakan suram rasanya.
"Aku pergi dulu, Mas ... aku bahkan telat 15 menit, nggak enak sama anak lain." Kanaya beranjak dan Ibra berusaha menahannya, namun entah kenapa dia mendadak lemah kala Kanaya menepis pelan genggaman tangannya.
"Aaauuhhh!! Aku harus bagaimana, Gavin."
Ibra menendang angin, menatap punggung kedua wanita itu kian menjauh. Ibra menatap menggigit bibirnya sembari kini mengacak rambutnya kasar.
"Mau bagaimana lagi, Anda cukup hadapi non Kanaya, sepertinya dia lebih baik daripada temannya." Gavin menggeleng, mengingat bagaimana cara Lorenza bertanya dengan sedikit memaksa bahkan menginjak kaki Gavin karena pria itu memilih bungkam.
"Dia tidak semudah itu diluluhkan, marahnya Kanaya membuatku tersiksa." Ibra berucap pelan, selama ini dia tak peduli sekalipun wanita akan berteriak marah dan mencacinya. Tapi, Kanaya yang marah dengan cara yang berbeda, dia bingung luar biasa.
"Tak apa, ujian pernikahan ... bukankah wanita memang rumit, Tuan?" Gavin mengulang slogan andalan Ibra, wanita memang rumit dan lebih baik jangan cari gara-gara bersama wanita.
"Mukamu yang rumit," umpat Ibra berlalu meninggalkan Gavin, untuk pertama kalinya Gavin terkekeh melihat bingungnya Ibra.
"Benar kata Papa, menikah memang sulit."
__ADS_1
TBC